17.9.18

200 Ribu yang Berujung Kematian


                                         Siti Hanifah (16.310.410.1151)

Banyak sekali permasalah sosial sekarang yang timbul karena didorong oleh faktor ekonomi, tak ayal berbagai masalah itu pun sering memakan korban jiwa. Kurangnya lapangan pekerjaan dan makin tingginya tingkat penggangguran menyebabkan kriminalitas pun makin tinggi. Permasalahan sosial lainnya yang seringkali muncul dalam masyarakat adalah berkaitan dengan kenakalan remaja maupun tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa.
Banyak perbuatan yang dilakukan dalam bentuk penyelewengan atau penyimpangan tingkah laku berupa pelanggaran hukum menurut undang-undang hukum pidana, normal agama maupun norma sosial di dalam masyarakat. Kejahatan yang banyak dilakukan seperti mencuri, mencopet, minum minuman keras, perjudian, kekerasan fisik, eksploitasi seksual, pecandu narkotika, penjarah toko atau menjadi pelacur (chama,2008). Jika masalah ini tidak segera diatasi, maka akan menimbulkan ancaman bagi kelangsungan masa depan individu itu sendiri bahkan akan sangat membahayakan masa depan bangsa kita karena rendahnya kualitas pemuda Indonesia, karena penduduk Indonesia yang harus berurusan dengan hukum akibat perbuatan yang dilakukan. Tak ayal masalah-masalah sosial tersebut menjadi momok menakutkan masyarakat.

Salah satu contoh nyata yang terjadi di Badran RT 38 RW 09 Bumijo Jetis Bantul Yogyakarta, Seorang pengamen yang terkena 10 tusukan benda tajam oleh temannya sendiri sesama pengamen karena utang piutang sebesar 200 ribu. kronologi kejadiannya, minggu (26/2) sekitar pukul 23.00, tersangka datang untuk meminta hutang uang kepada korban sebesar Rp. 200 ribu. Saat itu korban menolak membayar hutangnya. Dengan alasan uang tersebut akan dipakai untuk pulang ke Blitar menjemput istri dan anaknya. Di hari yang berbeda tersangka datang kembali untuk menagih hutang tersebut. Saat itu korban tengah bersama teman perempuannya bernama Menik, 38, asal Jogja di dalam kamar kos yang ada dilantai dua. Saat itu mulai timbul cekcok mulut hingga keduanya terlibat perkelahian. Tersangka yang melihat ada pisau belati di kamar kos korban, lalu mengambilnya dan menghujamkan pisau tersebut ketubuh korban. Akibat kejadian yang tidak diduga sebelumnya itu, korban menderita 10 tusukan. Dua tusukan pada bagian wajah, enam tusukan mengenai dada, dan dua tusukan mengenai bawah pusar. Menik yang saat itu berusaha membantu melerai perkelahian juga terkena 2 tusukan di bagian depan tubuhnya. Perkelahian itu juga menimbulkan kegaduhan dan membuat para penghuni kos lain keluar. Melihat korban jatuh bersimbah darah, tersangka lantas kabur. Tetapi baru melangkah sekitar 500 meter, tersangka ditangkap warga sekitar yang langsung menghakiminya, yang kemudian diserahkan kepada pihak yang berwajib.
Itulah contoh nyata yang benar-benar terjadi disekitar kita, dari kasus tersebut tidak hanya ditinjau dari masalah sosial saja namun juga ditinjuau dari masalah psikologi utamanya psikologi klinis. Pada teori agresivitas dijelaskan bahwa kemarahan yang meluap-luap maka akan mengadakan penyerangan kasar karena seseorang mengalami kegagalan. Biasanya terjadi tindakan sadistik dan membunuh orang. Agresi ini sangat mengganggu fungsi intelegensi sehingga harga dirinya merosot. Di kasus tersebut karena kemarahan tersangka yang meluap-luap pada korban yang tidak kunjung melunasi hutang sebesar 200 ribu maka timbullah adu mulut yang kemudian terjadi penyerangan kasar yang berujung pembunuhan. Itulah bentuk reaksi-reaksi frustasi yang sifatnya negative yang mana reaksi negative ini sangat merugikan pribadi diri kita. Maka penting bagi kita untuk bisa mengendalikan diri kita sendiri.

Referensi :

Utami, U. (2018). Group Positive Psychotherapy Untuk Meningkatkan Kepuasan Hidup. Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, 02(01) : 2549 - 9092.

San/abd. 2012 Feb 28. Pengamen Tewas Ditusuk Temannya. Radar Jogja. Kriminalitas: 1&11 (kol 3&6).

Ardani,T.A. Rahayu,I. Sholichatun,Y. (2007). Psikologi Klinis. Yogyakarta. Graha Ilmu.  


0 comments:

Post a Comment