23.4.18

Skizofrenia


Skizofrenia
Nama : Suci Indah Permata Sari
Nim : 163104101137
Psikologi Abnormal
FX. Wahyu Widiantoro



Skizofrenia adalah salah satu bentuk gangguan psikosis yang menunjukkan beberapa gejala psikotik, ditambah dengan cerita lain seperti jangka waktu, konsekuensi dari gangguan tersebut dan tidak tumpang tindih dengan gangguan lain yang mirip. Pasien psikotik tidak dapat mengenali atau tidak memiliki kontak dengan realitas. Beberapa gejala psikotik adalah delusi, halusinasi, pembicaraan kacau, tingkah laku kacau (Arif, 2006). Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah (Stuart, 2002).
Gejala- gejala positif Skizofrenia :
1.       Delusi atau Waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional. Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini kebenarannya.
2.       Halusinansi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan. Misalnya penderita mendengar bisikan - bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari bisikan itu.
3.       Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.
4.       Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan.
5.       Merasa dirinya “Orang Besar”, merasa serba mampu, serba hebat dan sejenisnya.
6.       Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.
7.       Menyimpan rasa permusuhan (Hawari, 2007).
Gejala- gejala negative Skizofrenia :
1.      Alam perasaan “tumpul” dan “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
2.      Menarik diri atau mengasingkan diri tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun.
3.      Kontak emosional amat “miskin”, sukar diajak bicara, pendiam.
4.      Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
5.      Sulit dalam berfikir abstrak.
6.      Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif dan serba malas (Hawari, 2007).
Contoh kasus :
Roger adalah pria berusia 36 tahun yang memiliki riwayat panjang mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk melukai diri sendiri dan orang lain. Ia telah menuruti suara-suara itu di masa yang lalu dan akibatnya ia harus menjalani pemenjaraan karena telah mengancam seseorang dengan sebilah pisau. Ia juga takut dilukai oleh musuh-musuhnya dan hal itu mengakibatkannya tidak tidur dengan tujuan untuk melindungi dirinya sendiri. Roger secara aktif menggunakan alkohol, ganja dan kokain untuk mengatasi gejala-gejalanya. Roger telah lama berhenti minum obat dari dokternya karena pengalamannya akan ketidaknyamanan efek sampingnya. Ia melaporkan bahwa ia merasa letih dan tidak dapat berhenti melangkah. Ia pada mulanya mengalami pemulihan saat pertama kali menggunakan narkoba dan alkohol. Tapi segera setelah itu ia menemukan bahwa semakin banyak ia menggunakan narkoba dan alkohol semakin paranoid dan menjadi semakin waspada ia jadinya dan gejala-gejalanya kembali menjadi parah. Kekhawatiran Roger akan melukai orang lain dan ketakutan akan dilukai telah mengakibatkan dirinya memiliki rencana untuk bunuh diri. Ia tak mampu untuk mengetahui kaitan antara obat dari dokternya dan narkoba dengan pengendalian gejala dan pemburukan penyakitnya. Roger juga harus berjuang melawan diabetes dan ketidakmapanan gula darah karena kurang gizi dan penggunaan alkohol.
Kesimpulan : Marilah kita mengenali lebih lanjut apa penyebab penyebab terjadinya skizofren supaya kita dapat mencegah terjadinya skizofren pada orang orang yang kita sayangi, selain itu juga agar kita dapat mengetahui lebih jelasnya bagaimana cirri ciri orang yang mengalami skizofren. Agar dapat diproses dengan cepat.
Referensi :
Arif, I. S. (2006). Skizofrenia: Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung: Rafika Aditama.

0 comments:

Post a Comment