20.4.18

Penggunaan Plastik untuk Aspal Tidak Mengganggu Pasokan Industri

Penggunaan Plastik untuk Aspal Tidak Mengganggu Pasokan Industri
Nama : Suci Indah Permata Sari
Nim : 163104101137
psikologi lingkungan

 Pemerintah tengah mengembangkan penggunaan plastik sebagai salah satu campuran aspal selain agregat. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi sampah plastik yang seringkali mencemari lingkungan baik di darat maupun di laut. Meski demikian, Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi Budiprastiyo Doelrachman memastikan, inovasi tersebut tidak mengganggu aktivitas pemulung.
"Penerapan aspal plastik ini untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Jadi, tidak menjadi pesaing untuk kebutuhan pasokan industri plastik," ujar Budiprastiyo di Makassar, Selasa (24/10/2017). Ia mengatakan, sebelumnya asosiasi pemulung menunjukkan kecemburuan dengan adanya gerakan pengumpulan sampah rumah tangga dan pembentukan bank sampah. Adanya kegiatan tersebut, membuat para pemulung merasa tidak kebagian limbah plastik. Padahal, kata Budi, penerapan aspal plastik hanya dilakukan saat ada sisa kresek. "Tas kresek ini memiliki nilai paling kecil untuk para pemulung. Jadi sering ditinggalkan dan hanya menambah pencemaran," sebut Budi. Daya tahan aspal plastik Uji coba aspal plastik pertama kali diimplementasikan di area Universitas Udayana, Bali, dan Jalan Raya Sri Ratu Mahendradatta, pada 28-29 Juli 2017, dengan menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Uji coba terhadap jalan dengan total panjang 700 meter ini dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi daya tahan, dan seberapa kuat daya rekat aspal plastik. "Hasil sementara, aspal dengan tambahan material sampah plastik jauh lebih lengket, secara teknis stabilitasnya pun lebih baik. Keuntungannya akan lebih tahan terhadap deformasi, dan daya lekat tinggi," tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Danis Sumadilaga. Dana yang dibutuhkan untuk mengaspal jalan sepanjang 700 meter tersebut sekitar Rp 600 juta untuk satu kali lapisan dengan ketebalan 4 sentimeter. Biaya ini jauh lebih murah dengan tingkat stabilitas 40 persen lebih tinggi dibanding aspal tanpa plastik. Pasalnya, jalan dengan aspal tanpa plastik harus dilapisi berulang untuk mencapai stabilitas memadai. 
Kesimpulan : Jadi, Pemerintah tengah mengembangkan penggunaan plastik sebagai salah satu campuran aspal selain agregat. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi sampah plastik yang seringkali mencemari lingkungan baik di darat maupun di laut.
Sumber : Arimbi Ramadhani, Kompas.com, 24 oktober 2017

0 comments:

Post a Comment