23.3.18

TUGAS PSIKODIAGNOSTIKA



TUGAS PSIKODIAGNOSTIKA
 

 I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Fakultas Psikologi
            Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

PENGERTIAN PSIKODIAGNOSTIKA
Istilah psikodiagnostik atau psikodiagnosis merupakan terjemahan dari istilah Psychodiagnostic. Istilah tersebut dimunculkan pertama kali oleh Hermann Rorschach sebagai metode  Psychodiagnostic pada tahun 1921 yang kemudian di kenal dengan nama tes Rorschach. Adapun beberapa pengertian yang di kemukakan para ahli adalah sebagai berikut : .
1.    Psychodiagnostics (psikodiagnostika)adalah studi mengenai kepribadian lewat penafsiram terhadap terhadap tanda-tanda tingkah laku, cara berjalan, gerak isyarat, sikap, penampilan wajah, suara dan seterusnya.[1]
2.    Psikodiagnostik adalah teknik –teknik  untuk melakukan pemeriksaan psikologis guna menemukan sifat-sifat yang mendasari kepribadian tertentu, terutama yang mengarah pada kelainan-kelainan psikologis. Misalnya, rasa cemas, fobia, apatis, dll. [2]
3.    Psikodiagnostika merupakan pemeriksaan psikologis dengan teknik atau alat tertentu yang telah terstandardisir guna menemukan sifat-sifat yang melandasi perilaku atau kepribadian individu. [3]

Adapun istilah-istilah dalam psikodiagnostik adalah :
1.    Diagnosa.
Chaplin: Diagnosa is determinication of the nature of an abnormality or diaseases. (menentukan keadaan jiwa sekarang).
Diagnosa: suatu ilmu pengetahuan untuk mengetahui, mengenal hal-hal yang berhubungan dengan kejiwaan seseorang.
2.    Asesmen
1.    Menurut Robert M smith (2002)
asesmen adalah suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang di butuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.
2.    Menurut lidz (2003)
proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala, kelebihan dan kekurangan, [4]
Secara garis besar Asesmen adalah mengumpulkan informasi yang akan di gunakan sebagai alat ukur yang selanjutnya di gunakan untuk  mengenali dan menyelesaikan masalah yang dialami oleh testii.
3.    Appraisal
Secara umum arti dari pada Apparsial adalah pemberian nilai, (angka/rating) dan penilaian (assasmen) yang selanjutnya hasil dari appraisal akan di gunakan untuk memperkuat data guna mengetahui gangguan psikologis dari klien dan selanjutnya bisa di perkirakan metode tes/terapi apa yang cocok untuk klien tersebut.
4.    Measurement
Measurement adalah pengukuran. Nama ini biasa di gunakan dalam pemeriksaan dalam psikometri.

            Pada dasarnya ke empat istilah dari psikodiagnostik ini adalah sama, tergantung tester membuat klien merasa nyaman dengan menggunakan metode-metode di atas sesuai waktu dan kondisi yang pas dan sesuai.





PEMAHAMAN TES PSIKOLOGI
Tes psikologis merupakan sebuah alat untuk mendapatkan manfaat yang dapat diberikan oleh tes. Alat apapun dapat menjadi instrumen untuk melakukan hal baik dan buruk tergantung bagaimana cara instrument itu di gunakan. Maka dari itu tes psikologis pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan di bakukan atas sampel perilaku tertentu. Adapun fungsi-fungsi tes secara umum adalah untuk mengukur perbedaan – perbedaan reaksi individu yang sama terhadap berbagai situasi yang berbeda- beda. [5]
Adapun para ahli mengkatagorikan tes-tes tersebut. Diantaranya :
1.    Drenth (1965) memberikan deskripsi menyeluruh mengenai kategori tes dalam dua kategori, yaitu :
A.   Tes kemampuan/prestasi. Yang di bagi lagi menjadi 5. Yaitu
a.    Tes Kecerdasan Umum (TKU) / Bakat Tunggal. Terdiri :
1.    TKU individual untuk anak.
2.    TKU Individual untuk dewasa.
3.    TKU kolektif untuk anak
4.    TKU kolektif untuk dewasa
b.    TKU bentuk jamak, ada 2 macam. Yaitu :
1.    Baterai tes kesadaran
2.    Baterai tes bakat
c.    Tes Kemampuan Khusus (TKK):
1.    Tes kecerdasan khusus
2.    Tes bakat khusus
3.    Tes bakat kerja khusus
d.    Tes Non-Intelektual
1.    Tes Motorik dan waktu Reaksi
2.    Tes Daya Konsentrasi
3.    Tes Estetis.
e.    Tes Kemajuan Belajar/Prestasi :
1.    Tes Pengetahuan
2.    Tes Ketrampilan (skill), Fluency.
B.   Tes Tingkahlaku (Performance test) :
a.    Metode Observasi
1.    Tes observasi
2.    Skala Observasi
3.    Metode Observasi kelompok.
b.    Metode Inventori
1.    Tes Minat (Interse).
2.    Tes Sikap dan Nilai
3.    Inventori Kepribadian
4.    Teknik Inventori Khusus.
c.    Tes Pola Tingkahlaku:
1.    Tes Organisasi
2.    Tes Kualitatif tingkahlaku motorik
3.    Tes Kualitatif untuk kecerdasan.
4.    Metode Pengukuran Gaya Tingkahlaku.
d.    Metode/Tes Proteksi, meliputi :
1.    Metode Persepsi
2.    Metode Interpretasi
3.    Metode Konstruksi
4.    Metode Ekspresi
5.    Metode Asosiasi
6.    Metode Pilihan.
Masih banyak lagi beberapa ahli yang mengklasifikasikan tes-tes psikologi selaion Drenth, seperti Kouwer (1952), Cronbach (1969), Cattel (1963), Herman Witkin (1977) dan lainnya yang mengatagorikan tes tersebut dari sudut pandang yang lain. [6]

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PSIKOTES
Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengarushi hasil dan proses pada saat melakukan asesmen. Dan faktor tersebut menimbulkan beberapa masalah. Di karenakan psikodiagnostik itu berhadapan dengan manusia hidup yang memiliki kemerdekaan dan kepribadian manusia sendiri yang selalu berubah-ubah. Maka, tidak mustahil bila terjadi banyak permasalahan dalam psikodiagnostik. Diantaranya adalah sebagai berikut :
1.    Dari segi kliennya:
a.    Kepribadian klien ada yang abnormal ada yang normal.
b.    Kesalahan persepsi klien, ada yang tidak percaya, dan adanya prasangka-prasangka tertentu.
c.    Kejujuran klien, ada klien yang jujur dan ada klien yang tidak jujur.
d.    Kapasitas klien, sangat bervariasi
e.    Pengalaman klien yang juga bervariasi.
2.    Bersumber pada situasi dan lingkungan.
a.    Masalah waktu pelaksanaan pemeriksaan psikologis di upayakan tidak terganggu, maka perlu penjadwalan yang tertib.
b.    Tempat pelaksanaan perlu pengaturan yang rapi.
c.    Fasilitas-fasilitas yang tersedia, meliputi penerangan (lampu), ventilasi dan alat-alat lainnya.
d.    Polusi atau pencemaran. Mmisalnya polusi udara, bau, debu dan polusi suara.
3.    Bersumber pada fasilitas, misalnya tersedia tidaknya macam-macam tes, inventori dan skala yang diperlukan.
4.    Bersumber pada psikolognya sendiri, misalnya :
a.    Kepribadian psikolog, introvert atau ekstraver.
b.    Kapasitas psikolog, mampu atau kurang mampu.
c.    Pengalaman psikolog, sudah banyak pengalaman, atau baru sedikit atau baru sama sekali.
d.    Nilai dan moral psikolog, tinggi moralnya atau memiliki cacat moral.
5.    Bersumber pada keadaan biologis dan fisiologisnya. Seperti lapar, sakit, dan lainnya.

Dan masalah-masalah lainnya yang tidak terduga timbulnya seperti dalam permasalahan psikodiagnostik meliputi :
a.    Apa yang harus diukur untuk mendapatkan deskripsi mengenai kepribadian individu (diagnostic kepribadian). Dalam masalah ini pengetahuan mengenai fungsi-fungsi psikologis dan ilmu-ilmu yang lain yang berkaitan dengan psikologi misalnya sosiologi, antropologi, kesehatan, biologi dan lainnya yang berhubungan dengan pemeriksaan juga harus harus juga dapat di kuasai oleh psikolog.
b.    Bagaimana menjaring aspek-aspek kepribadian melalui penyelenggaraan pemeriksaan psikologik yang sistematis dan objektif. Mencakup metode, proses, cara-cara pemeriksaan dan keahlian serta keterampilan dalam interpretasi hasilnya.
c.    Manfaat psikodiagnostik akan Nampak nyata, jika psikolog sampai pada suatu akhir pemeriksaan ddapat memberikan deskripsi kepribadian dengan menginterpretasikannya ke masa depan demi kesejahteraan subjek yang diperiksa.
Karena psikodiagnostik mempunyai permasalahan yang luas dan penuh resiko serta tanggung jawab. Karena menyangkut eksistensi manusia, maka jelas sekali perlu adanya suatu ketaatan dalam pemeriksaan psikologik dengan mengikuti persyaratan-persyaratan yang berlaku dan diatur dala suatu kode etik psikologi.[7]


ADMINISTRASI TES PSIKOLOGI
Administrasi tes adalah urutan penyelenggaraan atau pelaksanaan pengetesan dari awal sampai akhir dengan laporan tulisan secara lengkap. Dalam laporan tersebut sudah termasuk interpretasi dan kesimpulan hasil pengetesan, bahkan sudah di sertai dengan rekomendasinya. Urut-urutan administrasi tes adalah sebagai berikut
A.   Tes kelompok. Persiapannya meliputi :
1.    Menetapkan jumlah subjek yang mau dites.
2.    Menyiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan dalam pengetesan.
3.    Menyiapkan buku tes dan segala perlengkapannya.
B.   Pelaksanaannya :
1.    Subjek di suruh masuk ruang tes dan duduk di kursi yang telah disiapkan.
2.    Testor mengucapkan selamat datang dan terimakasih kepada subjek yang telah mengikuti tes.
3.    Asiten membagi lembar jawaban dan segera subjek menuis identitasnya pada lembar jawaban.
4.    Setelah lembar jawaban diisi maka buku tes di bagikan kepada subjek dalam keadaan tertutup.
5.    Setelah subjek menerima buku tes maka testor menyuruh subjek membuka halaman petunjuk.
6.    Psikolog membacakan petunjuk tes dengan jelas sampai selesai. Jika ada yang belum jelas dapat di ulangi kembali.
7.    Jika sudah jelas semuanya mengenai petunjuk tadi maka subjek di suruh mengerjakan soal-soal tes tersebut.
8.    Jika waktu tes sudah habis, maka testor memberi komando untuk berhenti mengerjakan.
9.    Asisten mengumpulkan lembar jawaban dan buku tes.
10. Satu subtes sudah selesai, setelah istirahat 5 menit, diteruskan tes berikutnya  dengan cara yang sama seperti yang pertama.
11. Jika buku tes terdiri dari beberapa subtes yang harus dikerjakan berurutan. Maka selesai subtes yang pertama segera di susul dengan subtes berikutnya sampai selesai.
12. Jika subjek yang dites terdiri dari beberapa kelompok, misalnya dari sekolah negeri dan swasta, putra dan putri, maka pekerjaan tes perlu dikelompokkan masing-masing.
C.   Tahap penyekoran hasil tes.
1.    Untuk menyekor (megoreksi) pekerjaan tes, perlu disiapkan kunci jawabannya masing-masing subtes.
2.    Tiap lembar pekerjaan diskor dan jumlah skor yang benar di tulis di baris tertentu yang telah ditetapkan dilembar jawaban.
3.    Seluruh hasil penyekoran kemudian dimasukkan dalam daftar skor menurut kelompoknya masing-masing.
4.    Jika ada tulisan skor yang ragu-ragu, perlu dikoreksi lagi.
5.    Jika daftar skor telah selesai diisi maka siap untuk diproses selanjutnya.
D.   Tabulasi Skor (data)
E.   Tahap analisis skor tes
F.    Konversi skor mentah ke skor  standar
G.   Penggolongan dan interpretasi skor.
H.   Membuat laporan pemeriksaan psikologis sebagai sarana untuk mengomunikasikan data. Hasil-hasil interpretasi dari masing-masing data diorganisir dan disistematisir kemudian di simpulkan menjadi pemahaman mengenai kebutuhan klien.dan laporan ini disebut Psychological repport dengan syarat :
1.    Kejelasan laporan (clarify of repport)
2.    Relevan dengan tujuannya (relevance to goal)
3.    Kemanfaatan laporan (usefulness of report)[8]

PERTIMBANGAN SOSIAL DAN ETIKA DALAM PELAKSANAAN PSIKOTES
            Sebagai ahli psikodiagnostik tidaklah bebas mutlak untuk melaksanakan pemeriksaan psikologis, walaupun ia cukup kompeten, ahli dalam apparatus tes tetapi seorang psikolog harus mempunyai tanggung jawab moral pada etika di bidang psikologi pada umumnya. Betapapun baiknya alat tes, jika pemakainya tidak ahli maka tes tersebut tidak ada artinya. Bahkan dapat menimbulkan dampak yang negative.
            Di Indonesia kode etik Psikologi masih dalam penjajagan kemungkinan dan pelaksanaan. Secara yuridis formal belum ada keputusan mengenai etika psikologi. Tetapi dari para ahli psikologi telah ada semacam konsessus dan bidang lainnya yang bekerja sama dengan ahli psikologi. Guna memperlancar penyelenggaraan pemeriksaan psikologis dan kewenangannya.
            Sikap dan perilaku seorang ahli psikodiagnostik tidak beleh sembrono, lalai dan sembarangan. Masalah ini berkaitan dengan etika pengetesan, relasi atau hubungan, antara pemeriksa dan subjek yang diperiksa melalui sebuah hubungan yang baik dan akrab. Kouwer memberi gambaran mengenai sikap dan laku psikolog dalam pemeriksaan melalui bahasan fungsi dan tujuan tes. Yaitu :
A.   Etika dalam tes prediksi
1.    Pembatasan dalam pengetesan ini hanya pada aspek yang dikuantitatifkan.
2.    Yang diukur bukan hanya klien tetapi fakta objektif yang berhubungan dengan klien.
3.    Sikap dan pemeriksaan adalah sikap teknis, praktis dan pragmatis dalam membahas hasilnya.
4.    Bahasan hasil adalah rasional dan aspek emosional harus dilupakan.
B.   Etika dalam tes mendiskripsikan.
1.    Yang diperhatikan bukan klien(subjektif), tetapi kareakter, sifat-sifat yang khas, yang dianggap sebagai sebab perilakunya,
2.    Berlaku pula persyaratan etika tes prediksi.
3.    Psikolog memberi nasihat sesuai norma yang berlaku.
4.    Pendapat pribadi adalah sentral, pemeriksa tidak melakukan pendekatan teknik, tapi mencari solusi yang menurut dirinya baik.
C.   Etika dalam tes menemukan diri.
1.    Psikolog tidak boleh mengambil sebagian dari permasalahan subjek yang diperiksa.
2.    Tidak boleh mengambil/mengalihkan tanggung jawab permasalahan klien.
3.    Psikolog mempunyai pandangan bahwa subjek dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri serta bertanggung jawab atas alternative solusi masalah yang telah dipilihnya.
4.    Pertolongan yang diberikan pemeriksa hanya terbatas memberi kemungkinan untuk solusi masalahnya.
Hubungan antara psikolog dank lien tetap hubungan manusiawi saling menghormati, menjaga dan menghargai. Yaitu :
1.    Tidak menganggap subjek sebagai pasien atau penderita yang membutuhkan pertolongan. Tetapi sebagai manusia yang memiliki harga diri, keinginan tertentu dengan menghargai latar belakang agama, politik, dan lingkungan sosial.
2.    Menjaga rahasia pribadi subjek.
3.    Melakukan diagnose dengan penuh hati-hati.
4.    Dengan penuh simpati berusaha memahami kesukaran dan kesulitan subjek.
5.    Menciptakan rasa aman bagi subjek yang diperiksa selama pemeriksaan berlangsung. [9]



[1] Kartini, Kartono, 1999. Chaplin. Hal 395
[2] Ki fudyartanta. 2009. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Hal : 6
[3] TA. Prapanca Hary. 2013. Modul materi PSIKODIAGNOSTIKA. Fakultas Psikologi UTY. Hal : 1
[4] http//pengertian asesmen/UnsilSter Blog.com
[5] Anastasi, A. & Susana, U. 1997. Tes Psikologi, edisi ketujuh. Jilid I. Robertus HarionoS, Imam. Jakarta. Prenhalindo. Hal: 2-4
[6] Fudyartanta,Ki. 2009. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta : Pustaka pelajar. Hal : 36-42

[7] Fudyartanta,Ki. 2009. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta : Pustaka pelajar. Hal : 97-99
[8] Fudyartanta,Ki. 2009. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta : Pustaka pelajar. Hal : 69-81
[9] Fudyartanta,Ki. 2009. Pengantar Psikodiagnostik. Yogyakarta : Pustaka pelajar. Hal : 118-120

0 comments:

Post a Comment