23.3.18

RIVIEW JOURNAL FOKUS DAN MANAJEMEN KONFLIK REMAJA DAN ORANGTUA (Adolescent Focus of Conflict with Parents and Its Management)



RIVIEW JOURNAL
FOKUS DAN MANAJEMEN KONFLIK REMAJA DAN ORANGTUA
(Adolescent Focus of Conflict with Parents and Its Management)
 

I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Fakultas Psikologi
            Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Oleh Andita Saviera & Winarini W. Dahlan
Universitas Indonesia, Jakarta.

Abstrak

            Konflik merupakan bagian alami dari suatu hubungan interpersonal, termasuk hubungan antara anak dan orangtua. Banyak dikatakan, konflik antara anak dan orangtua sering terjadi ketika anak berada pada masa remaja. Apabila ada konflik, maka ada managemen konflik. Namun, pemilihan manajemen konflik pada remaja dapat menjadi hal yang rumit akibat perkembangan dalam diri remaja ditambah dengan perubahan nilai dan norma di masyarakat.
            Tujuan penelitian ini untuk memahami konflik dan manajemen konflik remaja dengan orangtuanya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melibatkan empat partisipan berusia 16-23 tahun yang tinggal di Jakarta, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara. Hasil penelitian menunjukkan, focus konflik antara remaja dan orangtua bervariasi namun sebagian besar mengenai tugas-tugas rumah, kehidupan sosial serta perilaku orangtua. Penyebab konflik terutama adalah pola asuh yang otoriter dan keinginan remaja untuk otonomi yang tidak dipahami oleh orangtua. Manajemen konflik yang dipilih oleh seluruh partisipan adalah untuk mengatasi konflik dengan orangtua adalahnya adalah kompetensi, walaupun ada juga yang terkadang menggunakan gaya menghindar dan akomodasi.

Kata kunci : konflik, remaja, orangtua, manajeman konflik



PENDAHULUAN
Larson dkk, (Santrock. 2007)  mendefinisikan masa remaja (adolescence) sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanan dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan – perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Sedangkan menurut Hall ( Santrock,  2007) remaja dinyatakan sebagai masa badai emosional.
            Konflik adalah pertentangan yang diekspresikan oleh dua orang atau lebih dimana salah satu atau seluruh pihak mempersepsikan adanya perbedaan dalam hal tujuan, kurang sumber daya dalam mencapai tujuan atau merasa tujuannya dihalangi oleh pihak lainnya (Wilmot & Hocker, 2001). Konflik muncul dari masing-masing pihak akan tujuannya dan menyadari bahwa tujuan pihak lawan dapat menghalanginya dalam memenuhi tujuannya (Myers dan Myers, 1992)
            Hubungan yang pasti dimiliki semua orang adalah hubungannya dengan orangtua, hubungan orangtua dan anak adalah hubungan dimana masing-masing pihak saling terkai tanpa pilihan. Hubungan ini bahkah sangat penting dalam norma maupun agama sehingga dibuat aturan-aturan perilaku mana yang boleh mana yang tidak boleh dilakukan. Dan dalam hubungan inipun sering terjadi konflik. Penyebabnya bermacam-macam dan komplek. Anak dan orangtua yang memiliki kepribadian yang berbeda bahkan tidak cocok. Maka, mau tidak mau mereka harus tetap membina hubungan yang baik atau kalau tidak akan menimbulkan konflik.
Selain itu, hubungan anak dan orangtua merupakan hubungan yang sejalan dengan waktu dan pasti mengalami perubahan, perubahan ini bisa disebabkan karena anak berkembang menjadi seorang remaja (Montemayor dalam Muuss, 1990).
Ketika anak berkembang menjadi remaja, ada banyak perubahan yang terjadi, diantaranya adalah anak mungkin tidak lagi melihat orangtua sebagai superior dan orangtua mulai berkurang toleransinya tehadap perbuatan anak. Hal ini terjadi karena anak telah menjadi remaja. Dimana masa remaja menurut Santrock, 1998 adalah masa dimana seseorang mengalami perkembangan secara biologis, konitif dan sosial. Perkembangan ini membuat remaja memiliki karakteristik khusus sehingga ia menjadi berbeda. Untuk itu, orangtuapun harus bisa menyesuaikan perubahan yang terjadi pada anaknya.
Perkembangan remajapun dipengaruhi oleh konteks dan setting dimana perkembangan terjadi sehingga berpengaruh besar terhadap nilai-nilai dan sikap seorang remaja. Faktor yang mempengaruhi meliputi faktor sejarah, ekonomi, sosial, budaya dimana individu tersebut berada serta interaksi antar faktor-faktor tersebut.
Semurut Sarwono, 2001. Bahwa adanya kemajuan teknologi yang pesat sekarang ini menyebabkan berbagai norma-nilai dari luar masuk dalam masyarakat kita. Akibatnya, remaja menjadi bingung  dengan adanya norma yang berbeda antara lingkungannya dan norma yang ia dapatkan dari media dan bahkan ada yang saling bertentangan. Seperti contoh, remaja diluar negeri, seksualitas sudah menjadi hal yang biasa dikalangan remaja. Tetapi dilingkungan masayarakat Indonesia hal itu merupakan hal yang tabu dimana orang yang belum menikah tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut. Dan banyak contoh lainnya yang menyebabkan kebingungan dalam diri remaja itu sendiri apabila remaja tidak memiliki petunjuk dan pedoman dalam menghadapi masalah. Hal ini juga akan menimbulkan konflik dan sress pada remaja.
Konflik juga terjadi karena penyesuaian yang harus dilakukan orangtua terkait pola pengasuhan anak. Di Indonesia orangtua mempunyai hak yang mutlak atas anaknya. Anak yang ideal adalah anak yang nurut, menghormati dan mendengarkan orangtuanya. Namun dengan masuknya norma dan nilai baru, keinginan remaja untuk lebih mandiri dan bebas menjadi lebih besar. Remaja sekarang umumnya menginginkan orangtua yang demokratis. Hal tersebut bisa menimbulkan adanya konflik orangtua dan remaja.
Selain itu, setiap konteks remaja memiliki tuntutan dan masalahnya sendiri. Misalnya
1.      Remaja dalam konteks keluarga dihadapkan dengan kedua orangtua yang sibuk bekerja. Perceraian atau kekerasab menimbulkan remaja jarang ataupun tidak mau berkomunikasi dengan orangtuanya.  
2.      Remaja dalam konteks pergaulan. Masalah-masalah yang dihadapi antaralain adalah narkoba, seks bebas, hamil diluar nikah dain lainnya.
3.      Dalam konteks sekolah, seperti persaingan dalam lingkungan sekolah, stress ujian, ketidaksesuaian budaya dan pengetahuan guru dan murid juga menambah masalah.
Walaupun banyak sekali faktok atau konteks yang dapat berpengaruh terhadap konflik antara remaja dan orangtua namun hubungan itu harus tetap terbina. Maka, diadakanlah manajemen konflik, yaitu cara yang dilakukan remaja untuk mengatasi masalah dan sikapnya terhadap konflik yang dialami dengan orangtuanya.
Pemilihan gaya managemen konflik pada remajapun bermacam-macam sekaligus sangat sulit dan kompleks. Seperti perkembangan remaja yang dipengaruhi berbagai faktor, hal ini juga terjadi pada remaja mengenai gaya manajemen konflik yang mereka pilih, meliputi :
1.      Faktor keadaan lingkungan dan interaksi antar lingkungan tersebut.
2.      Remaja yang notabenenya masih mencari jadidiri atau identitasnya, sehingga terkadang masis terlihat adanya ketidakstabilan.
3.      Norma dan nilai yang berubah menjadikan pemilihan gaya menegemen konflik menjadi proses sulit. Seperti telihat di Jakarta di mana transisi dari tradisional menjadi masyarakat modern sedang terjadi dengan cepat dan tak dapat dikendalikan.  Hal ini ditandai dengan adanya anomie yaitu keadaan normlessness yaitu keadaan tidak adanya petunjuk atau pedoman bertingkah laku. Sarwono (2001) mnyebutkan bahwa keadaan anomie adalah keadaan yang berbahaya bagi remaja. Karena remaja tidak lagi dihadapkan dengan nilai dan norma yang pati, tetapi dihadapkan pada berbagai macam nilai dan norma yang harus dipilihnya.
4.      Media massa dan budaya modern, remaja diberi kebebasan untuk mengikuti ataupun menolak keinginan orangtuanya. Namun, mengingat orangtua dan masayarakat masih memegang nilai tradisional, maka nilai yang dianut remajapun sulit untuk diterapkan. Dan managemen konflik pada anak dan orangtuapun sulit untuk diterapkan.
Permsalahan
            Permasalahan yang akan dibahas ddalam penelitian ini ada 2, yaitu :
1.      Apa focus konflik pada remaja yang sering mengalami konflik dengan orangtuanya?
2.      Bagaimanakah managemen konflik yang digunakan remaja tersebut dalam mengatasi konflik-konfliknya dengan orangtuanya?
Tinjauan Pusataka
A.    Konflik
1.      Wilmot & Hocker, (2001). Konflik adalah pertentangan yang diekspresikan oleh dua orang atau lebih dimana salah satu atau seluruh pihak mempersepsikan adanya perbedaan dalam hal tujuan, kurang sumber daya dalam mencapai tujuan atau merasa tujuannya dihalangi oleh pihak lainnya Dalam menganalisis tentang konflik ini penting untuk menekankan persepsi individu yang terlibat karena konflik melibatkan dua individu atau lebih.
2.      Myers dan Myers (1992) menyebutkan masalah-masalah yang menimbulkan terjadinya konflik Interpersonal anatara lain adanya perbedaan individu dan sumber yang terbatas dalam keseimbangan peran.
3.      Weeks (dalam Pitauli,2002) ada elemen-elemen dasar yang menajadi penyebab konflik Interpersonal, antara lain :
a.       Kebutuhan
Yaitu apabila salah satu atau kedua belah pihak menghambat atau menghalangi pemenuhan kebutuhan pihak lain, adanya ketidakjelasan antara apa yang dibutuhkan dan diinginkan antara kedua belah pihak atau kedua belah pihak merasa adanya ketidakcocokan kebutuhan.
b.      Persepsi
Suatu kenyataan dapat dipersepsikan berbeda-beda oleh orang yang berbeda.
c.       Kekuasaan
Apabila satu pihak mencoba untuk menggunakan kekuasaan untuk memanfaatkan individu lain demi kepentingannya, sementara pihak lain merasa terganggu oleh control dari pihak tersebut.
d.      Nilai-nilai dan prinsip
Terjadi apabila kedua pihak memiliki nilai yang tidak sesuai dan nilai-nilai tersebut sulit untuk diabaikan atau kedua belah pihak menolak untuk menerima bahwa pihak lain memiliki ide-ide, tujuan atau tingkah laku yang mewakili prinsip dan nilainya.
e.       Emosi dan perasaan
Terjadi ketika salah satu atau seluruh pihak menggunakan perasaan atau emosinya masing-masing dalam menghadapi masalah.
B.     Managemen Konflik
1.      Menurut Wilmot dan Hocker, 2001. Bahwa setiap individu itu memiliki gaya manajemen konflik yang berbeda dan terus berkembang selama hidupnya yang merupakan hasil dari gabungan antara faktor genetic, pengalaman hidup, latar belakang keluarga, keadaan hidup sekarang dan filosofi hidupnya. Mereka mendefinisikan gaya penanganan konflik atau Conflict syles adalah respon-respon yang terpola atau sekumpulan tingkah laku yang digunakan seseorang apabila mengalami konflik.
2.      Sillars dalam Wilmot, 2001 Menambahi, bahwa atribusi dari niat lawan untuk bekerja sama, sumber tanggungjawab dari konflik dan stabilitas dari konflik juga mendasari gaya penanganan konflik seseorang.
3.      Kilman dan Thomas (dalam Wilmot dan Hocker,2001) mengklasifikasikan lima jenis manajemen konflik, yaitu :
a.       Menghindar (Advoidence)
Menyangkal akan adanya konflik, mengelak, mengubah dan menghindari topik, tidak menyatakan pendapatnya, dan bercanda atau membuat lelucon daripada mencoba untuk menyelesaikannya. Mereka yang menggunakan cara ini biasanya menarik diri dari situasi dan membiarkan orang lain yang menyelesaikan masalahnya.
b.      Kompetisi atau bersaing (Competition)
Memiliki karakteristik agresif dan tingkahlaku tidak mau bekerja sama dan mencoba untuk mencapai keinginannya dengan mengorbankan pihak lain. Orang dengan gaya ini mencoba mendapatkan kekuasaan dengan mengonfrontasi secara langsung. Taktik yang digunakan dalam gaya ini beriorientasi untuk menang, dan memiliki kepercayaan apa yang akan didapatkan maka orang lain akan kehilangan.
c.       Kompromi (Compromise).
Gaya ini memiliki hasil bahwa kedua belah pihak harus mengalah dalam hal-hal tertentu dan mendapatkan kemauannya dalam hal-hal tertentu pula. Masing-masing pihak mengalah bagi pihak satunya, dalam kompromi harus ada yang dilepas dan harus ada yang dimenangkan.
d.      Akomodasi (Acomodation).
Individu mengesampingkan kepentingannya untuk menyenangkan pihak lawannya. Inti dari gaya ini adalah untuk mengikuti keinginan dan memuaskan kebutuhan orang lain.
e.       kolaborasi (Kolaborration)
memiliki perhatian yang sangat besar terhadap kebutuhannya sendiri, kebutuhan orang lain, solusi yang baik dari masalah dan peningkatan mutu hubungannya. Gaya ini melibatkan persepsi kedia belah pihak sehingga tercapai sebuah solusi yang baik  bagi keduanya. Masalah tidak akan selesai jika antara keduabelah pihak belum merasa puas dengan solusinya dan akhirnya hubungan akan menjadi baik. Masing-masing pihak memberi kelonggaran, dan menerima tanggung jawab atas perannya dalam konflik.
C.     Konflik antara Remaja dan Orangtua.
Hubungan anak dan orangtua bukan merupakan hubungan yang statis. Dengan adanya perkembangan yang terjadi pada anak akan menyebabkan terjadinya konflik antara anak dan orangtua, terutama apabila ada hal-hal yang dirasakan tidak sesuai dengan harapan kedua belah pihak. Menurut Montermayor (dalam Muuss, 1990) masa remaja disebut masa dimana konflik antara anak dan orangtua sering terjadi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya konflik antara remaja dan orangtua.
1.      Perkembangan remaja.
Sarwono (2001) membuat batasan remaja Indonesia adalah antara usia 11 sampai 24 tahun dan belum menikah. Pada masa ini terjadi perubahan dan perkembangan baik secara biologis, psikologis, kognitif maupun sosialnya (Santrock, 1998).  Kognitif remaja adalah faktor penting yang mempengaruhi perubahan hubungan remaja dan orangtua.
Remaja telah memasuki tahap perkembangan kognitif tertinggi yaitu formal Operational, dimana mereka sudah dapat mengembangkan kapasitas melakukan pemikiran abstrak (Piaget dalam papalia, Olds & Feldman, 2001). Hal ini membuat mereka memiliki cara yang lebih baru dan fleksibel dalam memanipulasi informasi. Mereka sudah dapat berfikir apa yang mungkin terjadi daripada hanya apa yang ada. Remaja juga sudah dapat melakukan penalaran abstrak dan penilaian moral yang telah matang, serta dapat melakukan perencanaan kedepan yang lebih realistis.
Menurut David Elkind kemampuan kognitif pada remaja membuat remaja mempunyai karakteristik khusus dalam pemikirannya yang disebut Immature Characteristics of Adolescence Thought. Pemikiran yang belum matang ini berasal dari remaja yang kurang berpengalaman dalam hal memiliki pemikiran abstrak, antara lain:
a.       Argumentativeness
Selalu mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuan pemikirannya.
b.      Indeciveness
Kesulitan dalam membuat keputusan atau memilih bahkan pada hal yang sepele.
c.       Finding Fault with authority  figures
Menyadari kelemahan-kelemahan disekelilingnya.
d.      Apparent Hipocrisy
Tidak menyadari bahwa terkadang harus berkorban untuk untuk mencapai keadaan ideal.
e.       Self-counsciousness (Imaginary audience )
Berfikir bahwa setiap orang berfikir hal yang sama tentang mereka, mereka merasa selalu diawasi orang lain.
f.       Assumption of invulnanerability (personal fable)
mereka berfikir dirinya special, pengalaman yang dialaminya unik dan banyak hal yang tidak akan terjadi pada dirinya. Merupakan dasar perilaku destructive dan beresiko.

            Maccoby dalam Santrock, 1998 mengatakan dengan adanya kemampuan kognitif yang lebih matang , remaja mulai mempertanyakan dan meminta penjelasan atas tuntunan orangtua. Remaja menjadi lebih ingin tahu mengapa mereka mendapatkan hukuman, bahkan saat orang tua telah memberikan pengertian yang logispun remaja me=asih melihat kekurangan dalam pemikirannya. Mereka sudah mulai bersikap kritis.
            Sarwono, 2001 menambahkan bahwa perkembangan psikologis juga turut menjadi faktor penyebab konflik antara remaja dan orangtua. Inti dari tugas perkembangan seseorang dalam fase remaja adalah memperjuangkan kebebasan atau otonomi. Otonomi adalah pemisahan diri dari orang lain secara emosional ( steinberg, 2002). Dan pendapat ini dikuatkan oleh Ausubel (dalam santrock, 1998) bahwa pergerakan remajamenuju otonomi disebut desatellization yaitu proses pelepasan diri dan menjadi independen dari orangtuanya.

2.      Krisis otoritas pada orangtua.
Menurut Pasley dan Gecas (dalam Rice, 1990), orang tua dapat mengalami krisis otoritas yaitu belum terbiasa untuk melepas otoritas mereka terhadap anaknya yang selalu bergantung sepenuhnya dengan mereka. Padahal remaja sudah menuju pada kemandirian, dimana mereka ingin memiliki hak dan membuat keputusan untuk dirinya.
3.      Perubahan norma-norma sosial
Sarwono 2001, mengaitkan perubahan noema dan nilai dalam masyarakat juga mempengaruhi hubungan antara remaja dan orangtua. Di Indonesia sebagian orangtua adalah authoritarian, mereka menuntun kepatuhan anaknya. Anak yang idela adalah anak yang patuh, menghormati dan mendengarkan orangtua. Sebagian orangtua tidak mendorong anaknya untuk menjadi kreatif dan ambisius karena sifat-sifat ini bertentangan dengan norma sosial yang berlaku. Orangtua memnginginkan anak yang berprestasi di sekolah dan cenderung overprotective. Namun dengan adanya globalisasi informasi remaja di Indonesia menginginkan kebebasan dan kemandirian seperti yang mereka dapatkan di media massa tentang gaya hidup remaja barat.
4.      Perbedaan kepribadian remaja dan orangtua.
Remaja dan orangtua yang seing memiliki konflik pada dasarnya mereka mempunyai kepribadian yang berbeda (Rice, 1996), perbedaan tersebut bisa dilihat pada tabel berikut
Generasi orangtua
Generasi remaja
·         Berhati-hati/berpengalaman
·         Berpegang pada masa lalu, kecenderungan untuk membandingkan keadaan sekarang dengan masa lalu
·         Realistis, skeptic mengenai hidup maupun orang
·         Konservatif dalam sopan satntun, moral dan nilai-nilai
·         Secara umum puas dan menerima keadaan
·         Ingin tetap muda, takut umur bertambah tua
·         Cenderung ketat dalam pandangan mengenai perilaku-perilaku yang sesuai dengan umur.
·         Berani, jiwa petualang, terkadang mengambil kesempatan nekad
·         Hidup untuk masa kini
·         Idealistis, optimis
·         Liberal, menantang pemikiran tradisional, suka bereksperimen dengan nilai-nilai baru.
·         Kritis terhadap keadaan dan ada dorongan untuk berubah
·         Ingin menjadi orang dewasa, tetapi tidak suka dengan pemikiran akan tua.
·         Cenderung untuk lebih menerima perilaku yang tidak sesuai umur daripada orang dewasa.

Focus konflik remaja dan orangtua
Hall, Leslie, Huston, dan Johnson, Noble, Adams, dan Openshaw dalam Rice,1996. Menyebutkan hal-hal yangmenjadi focus konflik antara remaja dan orangtua, yaitu :
1.      Kehidupan sosial dan kebiasaan sama pacar, kapan mereka diperbolehkan pergi bersama teman dan jenis kegiatan yang boleh mereka lakukan, jam pulang, naik mobil dan mendatangi acara-acara tertentu.
2.      Tanggung jawab
Orangtua mengharapkan remaja menunjukkan tanggungjawab dalam tugas-tugas rumah serta tanggungjawab pada diri sendiri seperti pendapatan dan pengeluaran uang, pemeliharaan barang-barang milik pribadi dll.
3.      Sekolah.
Hal-hal yang menyangkut sekolah seperti prestasi dan nilai, kebiasaan belajar dll.
4.      Hubungan dalam keluarga.
Seperti tingkahlaku yang tidak dewasa, sikap dan hormat kepada orangtua, berselisih dengan saudara, dll.
5.      Nilai dan moral.
Nilai dan moral ini menyangkut keputusan untuk minum alcohol, merokok, narkoba atau ketaatan terhadap peraturan dan ketaatan dalam beribadah.

Metode penelitian
            Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dimana data diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Wawancara hanya dilakukan dengan remajanya saja, karena tujuan dari penelitian ini untuk lebih memahami pihak remaja dalam menghadapi konflik dengan orangtuanya. Dari hasil wawancara, peneliti juga mendapatkan persepsi remaja terhadap konflik dan pemilihan gaya managenen konflik. Selain wawancara, observasi juga dilakukan dalam penelitian ini. Observasi dilakukan pada saat wawancara yang berfungsi sebagai pemberi informasi tambahan.
            Partisipan penelitian ini adalah empat remaja berusia 16-23 tahun yang sering mengalami konflik dengan orang tuanya. Yaitu : S (19 tahun), U (23 tahun), G(23 tahun), F (16 tahun). Setting wawancara untuk masing-masing partisispan berbeda, pemilihan tempat wawancara merupakan kesempatan peneliti dengan partisipan berdasarkan kemudahan akses serta lingkungan akses tersebut.


Kesimpulan
            Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa focus konflik yang terjadi antara remaja dan orangtua bervariasi. Yaitu :
1.      Titik faokus konflik dipengaruhi oleh lingkungan yaitu keluarga dan stimulus-stimulus yang terdapat di lingkungan. Yaitu
a.       Masalah tugas-tugas rumah. Partisipan yang berasal dari keluarga orangtua tunggal.
b.      Masalah kehidupan sosial, berasal dari partisipan dengan orangtua yang lengkap.
c.       Perilaku orangtua.
2.      Perkembangan remaja, yaitu adanya proses desatellization atau pergerakan menuju otonom.
3.      Perekembangan kognitif remaja, remaja yang lebih kritis dan mempunyai keinginan untuk diperlakukan oleh individu dan otonom.
4.      Kepribadian remaja. Remaja yang sering konflik dengan orangtua sering memiliki sifat mudah marah dan atau sensitif.
5.      Usia remaja. Remaja yang lebih muda cenderung lebih mudah marah bila mengalami konflik disbanding dengan yang lebih tua.
6.      Masalah pada orangtua seperti perceraian, atau menjadi orangtua tunggal.
7.      Kepribadian orangtua. Seperti orangtua yang galak, perfeksionis, kaku, pencemas dll.
8.      Pola asuh orangtua. Terjadi pada orangtua yang menerapkan pola asuh authotharian walaupun ada juga orangtua yang menerapkan ola asuh authoritative namun masih mengalami konflik.
9.      Kepribadian anak dan orangtua yang bertolak belakang
10.  Faktor sosiokonomi.
Dalam penelitian ini juga disajikan hasil manajemen konflik dari keempat partisipan, yang pada umumnya mereka memilih bentuk kompetensi. Namun, ada beberapa remaja yang memilih gaya yang berbeda. Untuk ayah cenderung menghindar dan dengan ibu cenderung memakai gaya kompetensi atau akomodasi. Dan beberapa remaja memilih gaya yang berbeda pada masalah yang berbeda yaitu lebih pada kompetisi dan mengindar. Tapi dari keseluruhan subyek merasa bersalah dengan cara mereka berperilaku ketika mengalami konflik dengan orangtuanya.

Diskusi
            Dari hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa konflik yang dialami partisipan dengan orangtuanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan hal ini sesuai dengan Rice, 1993 yang mengatakan bahwa salah satu variable yang mempengaruhi konflik antara orangtua dan remaja adalah lingkungan. Karena lingkungan dimana remaja berada menentukan hal apa yang dikhawatirkan orangtua.
            Walaupun pada umumnya pola asuh authotarian  menyebabkan remaja sering berkonflik dengan orangtuanya, namun beberapa partisipan juga mempunyai konflik dengan orangtuanya yang mempunyai pola asuh outhotitative. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Rice (1996) yang mengemukakan bahwa orangtua dengan pola asuh authotharian akan cenderung terjadi konflik. Hal ini karena ada faktor lain yang berpengaruh, salah satunya adalah kecenderungan ibu untuk tetap mematuhi peraturan ayahnya. Hal ini mungkin masih dipengaruhi faktor budaya. Jadi walaupun ibu memiliki pola asuh authoritative tapi masih berpegang pada ayah yang authotharian.
            Selain itu, perbedaan kepribadian antara remaja dan orangtua menguatkan pendapat Myers dan Myers (1992) yang menyebutkan bahwa penyebab konflik interpersonal adalah adalah adanya perbedaan individu (individual differences).
            Selanjutnya, sosioekonomi keluarga tampak tidak berpengaruh pada frekuensi maupun focus konflik antara remaja dan orangtua. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Rice (1996) bahwa faktor sosioekonomi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi frekuensi dan focus konflik antara remaja dan orangtua.
            Peneliti juga menemukan, bahwa tidak hanya gaya manajemen konflik kompetisi yang dipilih oleh partisipan, mereka juga memilih gaya manajemen konflik akomodasi dan menghindar, hal ini mengingat bahwa remaja masih dipengaruhi oleh nilai-nilai orangtua dengan budaya Indonesia atau agama yang memntingkan kepatuhan terhadap orangtua.
            Selain hal tersebut, peneliti juga menemukan penyebab inti dari seringnya terjadi konflik antara remaja dan orangtua adalah kekuasaan. Dimana remaja menginginkan kekuasaan atas dirinya dan tidak lagi merasa bahwa orangtua memiliki kekuasaan seutuhnya atas dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Wilmot dan Hocker ( 2001) yang mengatakan bahwa kekuasaan adalah konsep yang fundamental dalam konflik.

Saran
            Karena penelitian ini bertujuan menunjukkan gejala konflik antara remaja dan orangtua melalui pandangan remaja. Maka, peneliti memaparkan beberapa saran aplikatif sebagai berikut:
1.      Karena faktor yang mempengaruhi konflik antara remaja dan orangtua sangat bevariasi dan komplek. Sehingga untuk mengerti dan mengatasi konflik yang terjadi, sebaiknya diperhatikan faktor-faktor tersebut diperhatikan untuk selanjutnya diintervensi. Antara lain faktor kepribadian orangtua, pola asuh, hubungan dan komusikasi yang terjalin, permasalahan keluarga, remaja dan orangtua dan nilai yang dianut oleh orangtua dan remaja menganai konflik yang terjadi.
2.      Pemilihan manajemen konflik pada remaja adalah hal yang penting. Karena hubungan dengan kedua orangtua adalah fondasi mengenai hubungan seseorang dengan lainnya, seperti pacar dan teman. Sedangkan proses pemilihan manajemen konflik pada remaja asih belum matang. Apabila pemilihannya salah ini akan berkibat buruk pada remaja maupun hubungan yang dimilikinnya. Untuk itu, perlu dilakukan intervensi terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan gaya manajeman remaja.   

Kritik dan analisis jornal
1.      Otonomi
Dalam masyarakat Indonesia, otonomi menurut pebulis sangat mempengaruhi ditambah adanya globalisasi. Kebingungan pada remaja berpengaruh pada pembentukan identitas dan pengontrolan emosinya. Remaja awal di Indonesia merasakan bebasnya bermain dan berafiliasi dengan teman sebayanya baik dilingkungan rumah maupun di sekolah. Hal ini kadang membuat ia lupa dan melalaikan tugas atau perannya sebagai anak di rumah.
2.      Perkembangan remaja.
Saat remaja ini terjadi pertumbumbuhan yang sangat pesat bagi remaja. Remaja mengembangkan sikap ‘’tidak ingin diganggu dan tidak ingin di campuri urusannya oleh orang tua. Maka, remaja akan cenderung marah atau berkonflik dengan orangtuanya apabila hal itu tidak sepadan dengan pendapatnya.
3.      Nilai dan norma masyarakat yang mulai bergeser.
Dahulu, norma dan nilai dalam masyarakat membentuk remaja yang taat akan peaturan yang ada, sekaligus ajaran agama dalam menaáti orangtua juga berpengaruh dan menyebabkan adanya ketaatan anak pada orangtua. Tetapi, realitas sekarang ini, yang terjadi adalah globalisasi, dimana informasi dan budaya-budaya asing masuk di Indonesia tanpa batas. Anak yang menyerap adanya globalisasi tersebut akan cenderung berfikir dan kadang tidak sepadan dengan adanya nilai, norma, dan aturan yang ada. Akibatnya anak akan cenderung menentang dan memilih tidak menaati orangtuanya.
4.      Gaya pola asuh di Indonesia.
Telah kita tau, gaya pengasuhan di Indonesia sanngat menekankan pada tatakrama anak kepada orangtua ataupun kepada orang yang lebih tua. Dalam masa transisi, anak mengalami stress yang membuat ia ingin memberontak apabila ajaran orangtuanya bertentangan dengan jalan pikirnya. Akibatnya konflik akan terja. Ditambah lahi egosentrisme dan emosi pada remaja yang masih dalam masa badai dan tekanan membuat remaja kadang salah memilih managemen konflik yang tepat. Karena mereka notabenenya hanya menggunakan emosinya belaka.
5.      Pembelajaran dari lingkungan.
Lingkungan yang baik akan memberikan stimulus atau contoh berperilaku yang baik, yang nantinya akan diadopsi remaja dengan mencontoh hal atau perilaku yang baik. Hal ini menimbulkan konflik yang jarang terjadi. Atau intensitas konflik dengan orangtua akan menurun. Tetapi jika lingkungan anak bersosialisasi adalah buruk. Maka anak akan terbentuk seperti apa yang diajarkan oleh lingkungannya. Hal ini akan menjadikan kobflik apabila tidak sepadan dengan yang diharapkan oleh orang tua.







0 comments:

Post a Comment