23.3.18

REMAJA DAN PACARAN



REMAJA DAN PACARAN
 

 I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Fakultas Psikologi
            Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
PENDAHULUAN
Remaja kini mulai merasakan dorongan-dorongan seksual dari dalam dirinya sehingga ada keinginan untuk memperluas pergaulan. Mereka berusaha saling memperhatikan karena tertarik pada jenis kelamin lain. Remaja laki - laki tertarik pada remaja wanita demikian pula sebaliknya walau demikian sebagian besar remaja masih bersifat malu malu bila menjalin hubungan dengan lawan jenis secara terbuka. Ketertarikan mereka lebih banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan / ketampanan fisik (physically beautiful). Masa pacaran sebagai masa yang unik dan menarik untuk dikaji secara proporsional. Para ahli berusaha memperoleh gambaran yang ilmiah dalam penelitian empirisnya. Diantaranya ialah Paul dan White. Menurut Paul dan White ahli psikology perkembangan remaja menyatakan ada 8 fungsi pacaran yang akan dibahas kedalam bab selanjutnya.

Selanjutnya pada masa akhir remaja suatu hubungan intim memiliki karakteristik yang relatif bertahan lebih lama, serius, dan berkomitmen. Bagi sebagian besar remaja, perubahan ini positif karena dapat menurunkan stress dan meningkatkan rasa keintiman dan dukungan. Semenjak terjadinya perubahan fisiologys, kondisi emosi social (psikososial) remaja mengalami perubahan yang drastic. Mula-mula Freud, ketika masih berada pada masa laten individu mengembangkan pergaulan social yang berciri pada ketertarikan terhadap teman sejenis. Namun kini ketika menginjak masa remaja, mereka mulai memperhatikan lawan jenis, bahkan sebagian dari mereka telah berpacaran. Masa pacaran dianggap sebagai masa pendekatan antara individu dari kedua lawan jenis, yaitu ditandai dengan saling pengenalan pribadi baik kekurangan dan kelebihan dari masing-masing individu. Bila berlanjut masa pacaran dianggap sebagi persiapan individu untuk dapat memasuki masa pertunangan dan atau masa pernikahan (Santrock, 1998).
Umumnya, menurut teori cinta dari Strenberg (Papalia Old & Feldman, 1998; Santrock 1998, 1999), ketertarikan antara remaja yang berpacaran tersebut dipengaruhi oleh aspek yakni intimasidan passion. Yang dimaksud dengan intimasi adalah hubungan yang akrab, intim, menyatu, saling percaya dan saling menerima antara individu yang satu dengan yang lain. Sedangkan aspek passion adalah terjadinya hubungan antar individu tersebut lebih dikarenakan oleh unsur biologys, ketertarikan fisik, atau dorongan seksual. Dengan hadirnya kedua factor ini maka para ahli menyebutnya sebagai masa percintaan atau pacaran yang romantic (romantic love). Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh para ahli (dalam Rice, 1993). Hal yang menjadi daya tarik antar remaja laki-laki dan remaja wanita yaitu sebagai berikut:
No
Remaja Laki-laki
Remaja Perempuan
1.
Penampilan umum
Wajah
2.
Wajah
Dagu
3.
Kaki
Hidung
4.
Tinggi badan
Profil (penampilan umum)
5.
Bentuk badan
Mulut
6.
Pundak
Berat badan
7.
Payudara
Tinggi badan
8.
Bentuk kaki
Tangan
9.
Mata
Warna rambut
10.
Dagu
Pundak
11.
Bibir
Mata
12
Telinga
Pinggang
13.
Rambut
Pergelangan kaki / tangan

Perlu diketahui bahwa apa yang tertera diatas merupakan hasil penelitian yang dilakukan di Negara Barat, seperti Amerika Serikat. Tentu agar up to date perlu penelitian lanjutan yang disesuaikan dengan alam budaya timur, seperti Indonesia. Sampai kini penulis belum menemukan penelitian di negara sendiri.
Fungsi Pacaran:
Hampir sebagian besar orang dewasa yang kini telah berumah tangga, sebelumnya pernah melakukan pacaran dengan pasangan hidupnya. Menurut Paul dan White ahli psikology perkembangan remaja menyatakan ada 8 fungsi pacaran yaitu sebagai berikut:
a.    Pacaran sebagai masa rekreasi
Karena remaja memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Dianggap menyenangkan karena remaja memperoleh pengalaman baru untuk belajar menempuh kehidupan bersama seorang yang dikasihi, disayangi, dan dicintai. Kehadiran orang yang dicintai akan dapat membangkitkan semangat hidup. Sebaliknya, ketidak hadirannya cenderung membuat seorang individu tidak bergairah / tidak bersemangat.Itulah sebabnya, seorang individu yang sedang berpacaran merasa rindu mengharapkan orang yang dicintainya.
b.    Pacaran sebagai sumber status dan prestasi
Mempunyai atau memperoleh seorang pacar, berarti diri seseorang telah berhasil menjalin hubungan intensif, sehingga terciptanya hubungan yang akrab dengan pacarnya. Seorang pacar dianggap lebih dari sekedar teman atau sahabat karena untuk memperoleh seorang pacar, seorang harus berupaya mengenal pribadi yang secara mendalam yang ditandai dengan unsur unsur saling percaya, menghargai, dan menerima antara satu dengan yang lainnya. Mereka yang telah mempunyai seorang pacar akan memperoleh pengakuan social dalam lingkungan pergaulan social. Ia akan dikenal atau popular dibandingkan remaja lain yang belum punya pacar.
c.    Pacaran sebagai proses sosialisasi
Dalam masa pacaran seorang individu akan dapat bergaul untuk dapat mengenal, menyerap nilai - nilai, norma, etika social dari kelompok social lainnya hingga diharapkan akan dapat berperilaku sesuai dengan norma - norma sosial.
d.   Pacaran melibatkan kemampuan untuk bergaul secara intim, akrab, terbuka, dan bersedia membantu / melayani individu yang lain jenis.
Dalam masa pacaran seorang individu untuk dapat memperhatikan kebutuhan orang yang dicintai. Sebab mencintai berarti member perhatian pada orang lain. Karena orang tersebut ditolong, dibantu, dihargai, dijaga lebih dari sekedar orang lain / teman. Dengan demikian untuk mewujudkan cintanya kepada seorang pacar, dengan kesadraan pribadi seorang individu biasanya rela berkorban baik waktu, tenaga, maupun biaya untuk orang yang dicintainya.
e.    Pacaran sebagai penyesuaian normatif
Artinya masa ini dapat dipandang sebagai masa persiapan untuk menguji kemampuan, menyalurkan kebutuhan seksual secara normatik, terhormat dan sesuai dengan norma masyarakat. Hal ini menurut pandangan psikoanalisis Sigmund Freud (hal-hal Lindzey Champbeel, 1998) pacaran merupakan awal sublimasi dari penyaluran kebutuhan seksual cara normatik melaui kehidupan bersosialisasi antar individu yang berbeda jenis kelaminnya.
f.      Pacaran sebagai sharing: mengekspresikan perasaan, pemikiran atau pengalaman.
Masa pacaran ini akan memberikan kesempatan individu agar berperan sebagai teman untuk berinteraksi maupun membagi berbagai pengalaman, perasaan, pemikiran, atau aktivitas kepada lawan jenisnya (pacar). Dengan demikian individu dapat mengurangi beban stress, masalah pribadi dan dapat mengikis sifat sifat egois pribadi dengan pacarlah mau mencurahkan beban perasaan, pengalaman secara terbuka, serta perasaan malu bagi yang tidak malu, sebab dia tahu bahwa orang yang dicintainya tersebut tidak akan membocorkan rahasianya kepada orang lain.
g.    Pacaran sebagai masa pengembangan identitas.
Masa pacaran memberikan pengalaman penting berpengaruh bagi pembentukan dan pengembangan identitas diri seorang individu. Dalam masa pacaran, seorang remaja dapat memisahkan antara identitas pribadi dengan identitas yang berasal dari kehidupan keluarganya. Seorang remaja dilatih untuk bersikap mandiri dan dewasa dalam menghadapi permasalahan (percek-cok’an, pertengkaran, perbedaan pendapat) dengan pacaranya. Dengan keberhasilan menyelesaikan sauatu masalah seorang remaja akan semakin mantap menjalani pacarannya. Sebaliknya yang tidak berhasil dalam mengatasi masalah cenderung menimbulkan perasaan ragu - ragu, tidak percaya diri, pesimis untuk melanjutkan masa pacarannya dengan pacaranya. Bahkan hal itu akan diakhiri dengan perpisahan.
h.    Pacaran sebagai masa pilihan pasangan hidup
Artinya masa pacaran ini berfungsi sebagai masa pencarian , pemilihan, dan penentuan calon teman hidup untuk persiapan dalam pernikahan guna membnagun rumah tangga baru.  Dengan pacaran, seseorang dapat mengenal kelebihan dan kelemahan pacaranya, apabila ada permasalahan mereka dapat memecahkan secara bersama-sama, tanpa memaksakan kehendak secara egois.
Segitiga Cinta Dari Robert Sternberg
Menurut tipologi ini, cinta memiliki tiga dimensi, yakni hasrat (passion), keintiman/kedekatan (intimacy), dan komitmen (commitment). Dimensi hasrat (passion) memfokuskan pada intensnya perasaan dan keterbangkitan yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Mereka yang mengalami jenis cinta ini mengalami ketertarikan fisik yang nyata, selalu memikirkan yang dicintai sepanjang waktu, melakukan kontak mata yang intens bila bertemu, mengalami perasaan indah terlambung ke awan, mengagumi dan terpesona dengan pasangan, detak jantung meningkat bila berjumpa, mengalami perasaan sejahtera, ingin selalu bersama yang dicintai, memiliki energi besar untuk melakukan sesuatu demi pasangan, merasa memiliki kesamaan dalam banyak hal, dan merasa sangat berbahagia.
Dimensi keintiman (intimacy) menekankan pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional manakala kedua pihak saling mengerti, terbuka, dan saling mendukung, dan bisa berbicara apapun tanpa merasa takut ditolak. Mereka mampu untuk saling memaafkan dan menerima, khususnya ketika mereka tidak sependapat atau berbuat kesalahan.
Dimensi komitmen (commitment) diartikan sebagai keputusan untuk tetap bersama seorang pasangan dalam hidupnya. Komitmen berarti pula mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu yang menjaga suatu hubungan tetap langgeng, dan melindungi hubungan itu dari bahaya, dan memperbaikinya bila hubungan itu dalam keadaan kritis.
Kombinasi dari tiga dimensi cinta utama, menghasilkan adanya 8 tipe cinta berbeda. Satu tipe adalah nonlove, berarti tidak ada cinta. Kebanyakan hubungan antar manusia merupakan nonlove, misalnya antara guru dan murid, antara penumpang dan sopit taksi, antara pembeli dan penjual, dan sebagainya. Oleh karena itu sebenarnya hanya ada 7 tipe cinta yang benar-benar mengandung cinta.
1.        Liking (Intimacy). Hubungan secara esensial dimaknai sebagai persahabatan. Tipe cinta ini mengandung kehangatan, keintiman, kedekatan, dan emosi positif lainnya, akan tetapi kurang adanya hasrat (passion) dan commitment.
2.        Infatuation (Passion). Dalam tipe cinta ini ‘cinta pada pandangan pertama’ menjadi cerita yang paling menonjol. Daya tarik satu sama lain sangat kelihatan dan menggetarkan. Gelora dan hasrat sangat tampak.
3.        Empty love (Commitment). Dalam cinta ini, antar pasangan memiliki komitmen untuk saling setia dan setia pula terhadap hubungan itu. Akan tetapi mereka kurang memiliki keterhubungan emosi yang dalam dan tidak pula memiliki hasrat yang mendalam.
4.        Romantic love (Intimacy + passion). Pasangan memiliki rasa dekat dan keterhubungan serta daya tarik fisik yang kuat. Mereka memiliki hasrat yang menyala dan memiliki kedekatan emosional. Mereka yang memiliki tpe cinta ini tidak memiliki komitmen untuk setia terhadap hubungan dan terhadap pasangan.
5.        Companionate love (intimacy + commitment). Dalam hubungan cinta tipe ini terdapat persahabatan yang stabil dan jangka panjang. Mereka yang memiliki tipe cinta ini memiliki kedekatan emosional yang tinggi, berkeputusan untuk mencintai pasangan, dan komitmen untuk selamanya dalam hubungan itu. Tipe hubungan ini sering disebut ‘persahabatan terbaik, dimana tidak ada ketertarikan seksual ataupun kalau ada dalam pernikahan jangka panjang daya tarik seksual akan memudar dan tidak diangggap penting.
6.        Fatuous love (passion + commitment). Hubungannya penuh gelora dan hangat. Akan tetapi biasanya hubungan seperti ini tidak stabil dan berisiko cepat berakhir.
7.        Consummate love (intimacy + passion + commitment). Ini adalah cinta yang lengkap dimana setiap orang ingin mencapainya. Dalam tipe cinta ini terdapat hasrat, terdapat keintiman, dan sekaligus terdapat komitmen. Inilah tipe cinta yang diidealkan.

DAFTAR PUSTAKA
Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Ghalia Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia




















Contoh kasus  :
TEMPO.CO, Jakarta - Polisi memastikan korban Mia Nuraini, 16 tahun, gadis yang dianiaya hingga tewas di Cilandak, Jakarta Selatan, punya hubungan dekat dengan pelaku. Kapolsek Cilandak Komisaris Sungkono seusai pemeriksaan enam tersangka menyatakan seorang pelaku adalah mantan pacar korban. Akibat penganiayaan itu, Mia Nuraini tewas dan kawannya terluka, (baca: Cemburu, Motif Sepasang Kekasih Bunuh Ade Sara dan Bagaimana Sepasang Kekasih Itu Membunuh Ade Sara?).

"Salah satu pelaku kesal karena pernah dipukul oleh rekan korban, Soni," ujar Sungkono, Kamis, 13 Maret 2014. Soni, yang juga ikut jadi korban pengeroyokan, adalah kekasih baru Mia. Saat pengeroyokan, ia sedang berboncengan dengan Mia Nuraini. Sedangkan seorang kawannya, Surya, mengikuti dengan menunggang sepeda motor di belakang mereka. (baca: Gadis 16 Tahun Dibunuh, Tragedi Ade Sara II?).

Saat dua sepeda motor itu melaju, empat sepeda motor dengan delapan orang memepet korban. Tanpa basa-basi, mereka langsung memukul ketiganya dengan stik golf, kayu, dan gir besi. Menurut salah seorang saksi yang menolak disebutkan namanya kepada Tempo, korban sempat diteriaki maling sebelum dipukuli pelaku. "Enggak lama, 15 menit kemudian langsung pada pergi, saya kira geng motor," ujarnya.

Kepolisian telah menangkap enam dari delapan pelaku, yakni Albi Haq, 21 tahun, Indra Rifai (30), NP (16), Yulkiansyah (19), Yeti (19), dan Putri (20). Dua pelaku lagi, A dan AR, masih buron. 

Tersangka A dianggap sebagai dalang pengeroyokan. Dia adalah mantan kekasih yang punya dendam kepada Mia Nuraini  dan Soni. "Yang lain ikut-ikutan (mengeroyok) karena solidaritas," ujar Sungkono.

Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti akibat penganiayaan tersebut, yakni senjata-senjata yang digunakan untuk menghabisi nyawa Mia Nuraini dan melukai dua kawannya. Para tersangka  diancam Pasal 170 ayat 3 tentang Penganiayaan yang Menyebabkan Kematian. "Ancaman hukumannya 12 tahun penjara," ujar Sungkono. (baca: Tiga Hal yang Mengungkap Pembunuh Ade Sara).
Contoh kasus II
Di suatu tempat X ada dua orang yang mempunyai hubungan secara khusus. Orang tersebut sudah memiliki hubungan sejak mereka berada di bangku kelas VIII SMP, sekarang mereka duduk di bangku kelas XII SMA, mereka saling mendukung satu sama lain, berbagi pengalaman satu sama lain, khususnya dalam mata pelajaran di sekolah,dan menjaga perasaan lawan jenisnya. Meskipun mereka mengalami pertengkaran, mereka masih mampu mengatasinya, dan ketika sudah baikan mereka saling berjabat tangan seperti tidak ada suatu masalah. Menurut mereka pacaran merupakan suatu hubungan secara khusus dengan lawan jenis dimana mereka dapat berbagi kisah satu dengan yang lain dan mampu menerima pasangannya apa adanya.

0 comments:

Post a Comment