23.3.18

ANALISIS JOURNAL Identitas Sosial Gender, Seksisme Modern, dan Persepsi Terdiskriminasi pada Pekerja Perempuan



ANALISIS JOURNAL
Identitas Sosial Gender, Seksisme Modern, dan Persepsi Terdiskriminasi pada Pekerja Perempuan
 

 I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Pandapotan, Astrid Novianti, Sarlito W sarwono
Universitas Indonesia, Jakarta

            Dalam Undang-Undang no. 7 pasal 11 tahun 1984 diaturlah undang-undang mengenai kesetaraan gender. Di mana harus ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki tidak boleh di kedepankan melebihi perempuan dalam hal apapun sehingga terkesan mendominasi. Perempuan mempunyai hak untuk berkiprah dan berkarier sesuai dengan bakat dan talenta yang di miliki tanpa harus ada persepsi-persepsi terdiskriminasi. Tetapi dalam realita di lapangan atau dalam kehidupan masyarakat itu sendiri, hal ini belum sepenuhnya terwujud. Badan pusat statistic tahun 2000 telah membuat hipotesis bahwa perempuan yang bekerja hanya mendapatkan gaji 60-70 % di banding laki-laki. Selain itu, banyak di temukan kasus dimana banyak perusahaan yang memberhentikan para pekerja perempuannya (dengan alasan yang tidak masuk akal) para karyawatinya yang hamil. Adapula perusahan yang membuat kontrak kerjja bagi karyawatinya agar tidak merencanakan kehamilan.
Tidak hanya terjadi sampai ditingkat itu, perlakuan diskriminatif berbasis gender dapat terjadi pada hubungan interpersonal, khususnya apabila dalam sebuah organisasi ada ketimpangan antara proporsi laki-laki dan perempuan. Dengan sebuah sebab adanya stereotip bahwa perempuan itu inkompeten dan cenderung emosional.

Dan yang di bicarakan di sini adalah apakah memang ada diskriminasi terhadap perempuan menurut perempuan itu sendiri? Ataukah memang seorang perempuan yang bekerja di perusahaan yang di dominasi oleh pria merasa bahwa dirinya terdiskriminasi baik ditingkat kelompok atau pribadi? Berapa besarkah peran faktor identitas sosial dan seksisme modern dalam menentukan persepsi terdiskriminasi di tataran kelompok maupun individu tersebut.
TINJAUAN PERMASALAHAN
Banyak sekali fakta-fakta sejarah juga fakta-fakta penelitian yang mengatakan bahwa persepsi terdiskriminasi terhadap perempuan karena banyaknya terjadi pembedaan antara pria dan perempuan (sexisme). Cameron dalam journalnya Sosial Identity, Modern Sexisme, and perceptions of Personal and group discrimination by women and men. Mengatakan bahwa persepsi terdiskriminasi dapat diprediksi oleh 2 variabel bebas sebagai system belief (stereotip) gender yakni identitas sosial gender dan modern seksime (2001).ia juga menambahkan bahwa diskriminasi adalah hal yang sensitif yang dapat mennurunkan harga diri ( self-esteem) maka akan terjadi penyangkalan, untuk itu diperlukan adanya pembedaan antara persepsi terdiskriminasi sosial dan kelompok dengan maksud untuk mengetahui apakah ada deskrepansi personal dan kelompok. Jika memang signifikan adanya, maka dapat digeneralisasikan bahwa perempuan menganggap diskriminasi pada konteks kerja kelompok perempuan masih ada akan tetapi hal itu disangkal demi mempertahankan harga diri (self-esteem).
Kodrat manusia sebagai makhluk sosial banyak mengaitkan identitas seseorang dengan trait-trait kelompok yang yang di ikutinya di dalam masyarakat, seperti ras, suku, agama dan lainnya. Hal semacam ini memberikan sumbangan psikologis pada individu berupa harga diri (self – esteem) yang muncul karena adanya evaluasi yang berbeda-beda. Untuk itu persepsi terdiskriminasi dalam kelompok akan lebih besar dari pada sebagai personal.
Identitas sosial gender merupakan kesadaran sebagai gender tertentu dan rasa ketertarikan pada gender tersebut (Gurin & Markus, 1989). Untuk itu konsekwensi dari kesadaran pada identitas sosial gender tergantung dimana perempuan memposisikan dirinya pada stuktur sosial/ peran gender.
Dalam hal seksisme modern prasangka seksisme lama/tradisional di picu oleh stereotip negative. Hal ini dikemukakan oleh Swim dkk bahwa seksisme modern adalah “…… denial of discrimination against women, a hostility toward equality for momen. And nonsupport of programs and legislation designed to help women.” Di lihat dari definisi ini terlihat jelas bahwa ada perbedaan definisi sekksisme dari yang dulu dengan masa sekarang. Seperti halnya penyangkalan diskriminasi perempuan dan tidak adanya dukungan bagi progam-progam untuk perempuan. Maka, semakin keras individu mendefinisan dirinya pada kelompok sosial tertentu maka semakin peka juga ia menilai permasalahan antar kelompok sosial.
Aspek lain yang dapat mendiskriminasi perempuan adalah modern sexism yang dipahami sebagai suatu belief akan perempuan. Hal ini terkait dengan prasangka. Prasangka merupakan sikap atau belief yang di dasarkan pada informasi yang tidak lengkap pada suatu hal. Termasuk gender. Belief yang di munculkan pun cenderung negative yang hal ini di sebut stereotip. Seksisme modern berbeda dengan dulu, sekarang tidak lagi terbuka dan berintensi tetapi lebih tertutup dan lebih halus. Seorang individu yang berperasangka masih memegang stereotip negative maupun positif ( seperti mendukung kesetaraan). Seperti halnya anggapan bahwa laki-laki da perempuan harus diperlakukan sama, termasuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi fisik dan mentalnya (Swim dkk, 1995).
Seksisme modern berghuna untuk melihat belief pada perempuan sendiri. Perempuan yang menolak belief peraya bahwa perempuan tidak seharusnya dinilai secara stereotip melainkan diperlakukan setara meskipun tidak harus sama. Sedangkan perempuan yang mendukung belief adalah yang setuju dengan keadaan gender saat ini dan masih memegang stereotip lama. Perempuan yang beliefnya rendah mengidentifikasikan adanya kesetaraan gender. Sedangkan yang beliefnya tinggi memiliki orientasi tradisional.
Berbeda dengan Cameron, Tougas dkk, tidak mengatakan dengan istilah modern sexism tetapi dengan istilah neosexism di lihat dari definisi “manifestation of a conflict between egalitarian values and residual negative feeling toward women (1995 ) ´ seseorang yang dikatakan sexism adalah individu yang masih mempunyai perasaan negative pada perempuan walaupun sudah ada nilai egaliter tetapi hanya penyangkalan belaka.
Dua konsep seksisme kontemporer ini adalah sama, dua-duanya berusaha melihat seksisme saat ini yang lebih halus dan tertutup. Hanya saja neosexism lrbih kepenilaian dalam dunia kerja. Sedangkan modern sexism lebih luas lagi. Untuk itu diskriminasi ini dapat di golongkan menjadi 2, yaitu :
1.    Persepsi terdiskriminasi personal
Individu mempersepsi dirinya karena terkait dengan kelompok tertentu
2.    Persepsi tersiskriminasi kelompok
Individu mempersepsi dirinya pada kelompok sosial dimana ia menjadi anggota.
Banyak penelitian yang mengemukakan bahwa terjadi penyangkalan akan diskriminasi pada tingkat individu karna berhubungan dengan self-esteem.
Dalam konteks pekerjaan dan gender, kelompok sosial yang paling relevan adalah perusahaan. Menurut teori proporsi kelompok ada jenis-jenis perusahaan berdasarkan tingkat keseragaman kelompok pada kelompok lain (Kanter, 1977 dalam Hewstone dkk 2002,) yaitu :
1.    Uniform groups (100:0)        : berisikan satu jenis kelompok
2.    Skewed  groups (85:15)        : berisikan satu tipe dominan
3.    Tilted groups (65:35)                        : ukuran perbandingan kelompok lebih kecil
4.   Balanced groups(60:40-50:50: dua kelompok yang jumlahnya sama/hamper sama.
Metode penelitian :
·         Teori yang digunakan adalah teori proporsi perusahaan (kenter) dengan tipe Tilted groups.
·         Subjek adalah perusahaan perakitan alat berat Bandung (3000 karyawan )
·         Focus penelitian pada karyawan administrasi (800 karyawan : 100 karyawan perempuan )
·         Teknik sampling : accidental ( menggunakan koesioner yang di adaptasi dari penelitian sebelumnya)
·         Instrument :
1.    Bagian alat ukur identitas sosial gender.
2.    Bagian gabungan dari alat ukur sexism modern dan persepsi terdikriminasi.
3.    Data control
·         Proses pengadaptasian :
Di mulai dari penerjemahan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia ndan back translation oleh ahli. Lalu dilakukan face validity pada pembimbing. Lalu diadakan uji coba dengan persyaratan psikometri berdasarkan internal consisten yang memakai rumus Cronbach –Alpha.
·         Alat ukur identitas sosial gender ( diadaptasi dari Cameron, 2000) yang terbagi :
1.    Ingroup ties (kesamaan dan keterikatan dengan kelompok sosial)
2.    Centrality ( kesadaran sebagai kelompok sosial )
3.    Ingroup effect (perasaan menjadi bagian dari kelompok sosial )
►Di peroleh a : , 73 (realibitas )
·         Modern sexism di ukur dengan neosexism : 10 item dengan a : 4
·         Persepsi terdiskriminnasi (personal & kelompok ) di ukur dengan alat yang diadaptasi dari Cameron (2000) yang masing-masing ada 3 item
► di peroleh : personal a:,69 dan kelompok a:,85
·         Percobaan ini dilaksanakan pada tanggal 2 agustus 2004 dengan menyebar 61 koisioner dan kembali setelah satu minggu sebanyak 48 respons.
·         Analisis :
Mencari gambaran derajat tiap variable dengan T-Scale lalu sumbangannya di simpulkan berdasarkan R square dan signifikansinya di uji dengan F-Test.
·         Hasil
1.    Mean dan derajat tiap variable

Mean
Rendah (%)
Sedang (%)
Tinggi (%)
Identitas Sosial gender
4,94
33.3
52.1
14.6
Seksime modern
3.08
18.8
79.2
2.1
Persepsi terdiskriminasi personal
2,38
18,8
60,4
20,8
Persepsi terdiskriminasi kgelompok
3,48
18,8
64,6
16,7

2.    Korelasi (pearson’s product moment) variable bebas dengan variable berikat

Persepsi diskriminasi personal
Persepsi diskriminasi kelompok
Identitas sosial
-.290*
-.186
Seksisme modern
.456**
.099
*. Signifikan pada p<.05
**. Signifikan pada p < .01
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil data pengolahan sempel tersebut dapat di generalisasikan bahwa:
1.    Pekerja perempuan mempunyai kesadaran, keterikatan, dan perasaan sebagai anggota kelompok sosial cenderung pada tingkat yang lemah.
2.    Sudah ada keyakinan kecenderungan bahwa pria dan perempuan sudah seharusnya di sejajarkan.
3.    Persepsi terdiskriminasi di kalangan pekerja perempuan  cenderung lebih tinggi pada tingkat kelompok dari pada di tingkat personal.
4.    Korelasi yang negative namun signifikan antara identitas sebagai kelompok dengan persepsi terdiskriminasi sebagai personal.
5.    Seksisme modern memberi sumbangan signifikan terhadap persepsi terdiskriminasi personal. Walaupun secara bersama –sama juga memberikan sumbangan pada persepsi terdiskriminasi kelompok.
6.    Di dapatkan diskrepansi antara persepsi terdiskriminasi para pekerja perempuan secara personal dan persepsi terdiskriminasi secara kelompok.

ANALISIS JOURNAL :
Gender adalah jenis kelamin (Echols dan Shadily, 1988). Tuhan menciptakan manusia berjenis kelamin dan perempuan yang masing-masing mempunyai alat-alat dan ciri-ciri tertentu seperti halnya penis pada laki-laki dan vagina para perempuan (paling umum).
Dalam perkembangannya, pengertian gender itu berubah, tidak dalam arti jenis kelamin secara fisiologis-biologis, tetapi dalam arti peran yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang di bentuk oleh aspek sosial dan cultural. Adalah aspek psikologis, Broverman, dkk 1972 (dalam Michener dan DeLamater, 1999) menemukan bahwa perempuan dan laki-laki kgeduanya mempunyai stereotip gender. Pada laki-laki sifatnya lebih independen, agresif, ambisius, kuat dan kasar sedangkan pada perempuan lebih pasif, emosional, mudah di pengaruhi, aktif bicara, dan bijaksana. Pada umumnya laki-laki di persepsikan kuat dan lebih percaya diri daripada perempuan yang lebih lemah dan lebih ekspresif.[1] Dan stereotip ini kemudian akan berlangsung sangat blama sekali sehingga mempengaruhi berbagai faktor sosial cultural seperti halnya pekerjaan  
Kalau orang mengadakan observasi dan mau menengok kebelakang pada beberapa waktu yang lalu, dan pada waktu ini juga masih berlangsung. Di masyarakat akan tampak bahwa laki-laki pada umumnya bekerja di luar rumah, sedangkan para perempuan pada umumnya ada di rumah sebagai ibu rumah tangga. Hal ini terjadi karena masalah sosial budaya “tifdak baik kalau perempuan bekerja di luar rumah “kata orang. Keadaan ii menunjukkan ketidaksetaraan gender, yang sering di bicarakan olheh masyarakat.
Peran gender ini tidak akan jadi masalah apabila ada kesetaraan gender. Namun kenyataannya dalam masyarakat peran perempuan dan laki-laki  masih berbeda. Karena itu kesetaraan gender belom tercapai. Tetapi dalam perkembangannya banyak perempuan yang mulai bekerja di luar rumah. Di kantor, institusi pendidikan, pabrik atau di tempat-tempat lainnya. Dengan keadaan yang demikian ini, perempuan mempunyai peran ganda. Yaitu sebagai ibu rumah tangga dengan tugas mengurus anak, suami dan juga sebagai pekerja bdi luar rumah yang terikat dengan aturan-aturan tempatnya bekerja. Alasan mengapa mereka bisa bekerja di luar rumah dapat bermacam-macam, misalnya masalah ekonomi, mencari kesibukan, atau untuk mengaktualisasikan diri.  
Ada beberapa faktor yang dapat memberikan sumbangan kepada perempuan tentang persepsi terdiskriminasi pada tingkat kelompok maupun personal.
1.     Faktor budaya.
Telah di sebutkan dalam diskusi (journal) halaman 212 paragraf kedua bahwa pengkondisian karakter pria dalam bekerja membuat identitas sosial perempuan tidak begitu melekat. Hal ini benar adanya, bahwa gender tradisional masih melekat pada persepsi-persepsi masyarakat. Terutama Negara kita Indonesia yang mempunyai banyak kultur budaya. Hanya sedikit perempuan Indonesia yang mempunyai pandangan luas tentang kesetaraan gender. Terutama dalam hal hak-hak perempuan dalam pekerjaan yaitu laki-laki dalam perempuan mempunyai hak yang sama dalam mengembangkan basic dan bakat yang dimiliki. Tetapi banyak juga masyarakat yang pandangannya masih sangat tradisional yang memandang bahwa seorang perempuan yang baik adalah perempuan yang mengurus rumah tangga, pekerjaan rumah, mengurus anak dan menyenangkan suami. Dan adapun laki-laki dalam hal ini seorang suami bertugas untuk mencari nafkah demi kelancaran ekonomi keluarga, sehingga seorang istri harus sepenuhnya mendukung suami  dan menurut perkataan suami sehingga ia tidak melancangkan diri untuk berkarier di luar rumah. Apalagi untuk berkarier melebishi suaminya.
            Prasangka nampaknya juga berkaitan dengan stereotip tentang seksisme. Penelitian tentang jenis kelamin menunjukkan bahwa laki – laki maupun perempuan memiliki belief bahwa laki-laki itu competent dan mandiri sedangkat perempuan itu hangat dan ekspresif. [2] Untuk itulah juga dikatakan bahwa stereotip gender dan perilaku terdiskriminasi pada perempuan itu terjadi karena rasa atau nilai yang ada pada kultur budaya dalam suatu daerah.mempengaruhi perasaan terdiskriminasi perempuan pada tingkat personal maupun kelompok.
Dalam teori dominasi sosial di sebutkan bahwa semakin jauh seseorang menolak dan menerima ideology sosial atau mitos sosial melegitimasi hierarki dan diskriminasi atau yang melegitimasi equality keadilan. Maka, akan semakin terbawa dalam mitos atau ideology tersebut. [3]seperti halnya seksisme tradisional yang cenderung sudah dianggap ideology yang mau tak mau akan melegitimasi persepsi pekerja perempuan untuk merasa terdiskriminasi dalam hal pekerjaan yang didominasi oleh laki-laki.
2.    Faktor kesadaran
Dalam topic gender, terutama di dunia timur. Kesadaran seorang perempuan sendiri  sebagai kelompok gender masih lemah. Mereka memang cenderung percaya pada gender tradisional yang cenderung turun terumun di dapatkan oleh nenek moyang. Berbeda sekali dengan perempuan eropa dan amerika juga Negara-negara barat lainnya. Disana, perempuan telah mempunyai tingkat kgesadaran tinggitentang kesataraan gender (dalam hal karier dan pekerjaan) sehingga, di sana sedikit perempuan yang mempunyai persepsi terdiskriminasi apabila ia bekerja dalam sebuah instuti yang di dalamnya merupakan dominasi pekerja laki-laki. Bahkan, antara laik-laki dan perempuan sudah saling berebut posisi yang lebih tinggi dan membuktikan basic serta etos kerja masing-masing. Sehingga gender tradisional cenderung di tinggalkan.
Dalam hal kesadaran, ternyata perempuan juga tidak mempunyai keberuntungan di bandingkan laki-laki dalam hubungannya dengan gaji dan promosi. Salah satu alasannya adalah bahwa perempuan sering kali yakin bahwa ia pantas memperoleh gaji yang lebih kecil. Dalam hubungannya dengan tugas eksperimental, perenpuan (dibandingkan dengan laki-laki) menyatakan gaji yang lebih rendah untuk dirinya sendiri. Perempuan cenderung mendasarkan perkiraan mereka akan gaji seberapa baik mereka melakukan sebuah pekerjaan dan laki-laki mendasarkan perkiraan gajinya pada self-esteem mereka, bukan pada performa. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tidak menuntut di bayar kurang tetapi laki-laki menuntut di bayar lebih.
Jadi, secara keseluruhan, ada sejarah panjang dari penerusan stereotip gender dengan inferior perempuan juga superior laki-laki. Dan mungkin, konsep ini akan terus berlanjut dalam mempengaruhi tingkah lakudan harapan bagi perempuan dan laki-laki. [4]
           
KESIMPULAN
            Journal penelitian di atas memang ada benarnya, bahwa ada beberapa aspek psikologis pada pekerja perempuan di perusahaan yang di dominasi oleh laki-laki yang akhirnya juga menimbulkan peresepsi dan perasaan terdiskriminasi baik dalam tingkat personal dan kelompok. Yang mencakup juga tentang seksisme modern dan identitan sosial gender.
            Tetapi ada hal – hal dalam pengaplikasian journal tersebut yang kurang pas dan kurang sesuai apbila di terapkan di masyarakat indosesia. Dalam penelitian tersebut alat-alat ukur di adopsi oleh penelitian ahli-ahli psikologi dari barat yang notabenenya berbeda dengan Indosia. Terutapa dalam kutur/budaya dan tingkat kesadaraan masyarakatnya. Dan juga alat yang digunakan belum sepenuhnya di adopsi dan di sesuaikan dengan kebutuhan idiologi masyarakat Indonesia. Di tambah lagi penelitian yang hanya dhi lakukan disatu perusahaan saja. Hal itu sangat jauh sekali untuk dapat di generalisasikan sebagai sebuah hipotesis yang benar.
            Semisal itu adalah penelitian yang ada di bandung, yang notabenenya sudah ada kesadaran yang sama antara pekerja perempuan dan laki-laki dan kesadaran mereka yang relative baik dalam masalah identitas gender. Lain lagi jika penelitian di lakukan di Jakarta maka, akan lain pula hipotesisnya. Mungkin korelasinya akan cenderung signifikan. Karena di sana memang telah maju dan gender tradisonal pun sudah di tinggalkan. Tetapi sebaliknya, apabila penelitian itu di lakukan di daerah Aceh misalnya dengan adanya kultur tradisional dan nilai-nilai agama yang kuat. Pasti hasilnya juga akan berbeda pula. Mungkin akan jauh dari kesadaran dalam identitas gender dan seksisme modern.  Hasilnya mungkin di bawah sedang. Dengan kurang signifikannya hipotesis yang di hasilkan. Bahwa persepsi terdiskriminasi pada perempuan akan cenderung lebih tajam dan kesadaran identitas gender juga seksisme modern yang rendah.
            Tetapi sebagai kajian ilmiah, perlu di berikan applous karna hal semacam itu juga turut di soroti dalam segi psikisnya. Bahwa hal-hal seperti itu yang mengharuskan para ahli pada Psikologi sosial untuk lebih banyak mengadakan penelitian-penelitian dan hipotesis penting demi majunya bidang Psikologi di Indonesia yang memang benar-benar sesuai dengan budaya, kultur, nilai dan norma yang sesuai dengan masyarakatnya.


[1] Walgito, Bimo (2011), Teori-Teori Psikologi Sosial. Yogyakarta. Penerbit ANDI OFFSET. Hal 122-123
[2] Sarlito W. Sarwono (2009). PsikologiSosial. Jakarta. Penerbit Salemba Humanika halaman  230.
[3] Sarlito W. Sarwono (2009). PsikologiSosial. Jakarta. Penerbit Salemba Humanika halaman  237
[4] Robert A. Baron, Donn Byrne. (2004) Psikologi Sosial/edisi kesepuluh/jilid I. Jakarta. Penerbit ERLANGGA. Hal.189

0 comments:

Post a Comment