17.3.18

MEMAHAMI PERILAKU AGRESIF PADA ANAK USIA DINI



Reni Suryani

Fakultas Psikologi
17.310.410.1169

           Menurut beberapa ahli banyak faktor yang membuat anak berperilaku agresif, seperti seolah-olah menyalurkan tenaganya, tantrum dan bosan. Atau kemungkinan di lingkungan anak tersebut mendapat kesan bahwa perilaku itu adalah yang menyenangkan ,seperti menganggap perilaku angresifnya adalah perilaku yang lucu dan membuat tertawa. Hal ini membuat si anak mengira bahwa perilakunya membuat orang-orang disekelilingnya merasa senang dan akhirnya menjadi kebiasaan yang buruk.

       Untuk mengatasi  masalah ini, peran orangtua sangat penting yaitu memperhatikan penyebab perilaku  yang membuat si anak agresif. Apakah anak merasa bosan, merasa kelebihan tenaga , merasa frustasi, atau ingin diperhatikan dan menunggu reaksi senang dari orang-orang disekitarnya.  Setelah menemukan penyebabnya , tentu orangtua lebih mudah untuk mengatasinya. Jika anak merasa bosan atau frustasi  seringlah diajak untuk kegiatan yang lebih menantang dan menyenangkan karena untuk menyalurkan energy anak dengan kegiatan yang positif seperti berenang, olahraga atau outbond yang sangat menyenangkan untuk anak tersebut. Jika anak  kelebihan tenaga sudah saatnya untuk beristirahat, atau mencari perhatian kepada orangtua, cobalah mengalihkan dengan santai tanpa terlalu bereaksi terhadap perilakunya.

   Sebaiknya dari awal sudah ditetapkan bahwa semua bentuk perilaku agresif tidak dibenarkan dengan membuat batasan-batasan seperti  apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tentu saja ini adalah peran orangtua untuk menguatkan perilaku orangtua dan anak agar menjadi konsisten dan dengan tegas mengingatkan jika anak menunjukkan perilaku salah, katakan misalnya” kita tidak boleh menyakiti orang lain”. Orangtua juga memberikan sebuah penghargaan seperti hadiah buku gambar, crayon atau benda kesayangannya saat anak mampu melakukan sesuatu dan mampu mengatasi emosinya dengan baik.

    Jadi jangan mengabaikan perilaku anak  yang agresif , karena jika terjadi dan tidak diperhatikan oleh orangtua mungkin perilaku tersebut menjadi perilaku biasa bagi sang anak. Peran orangtua sangatlah penting ,sering-seringlah memperhatikan perilaku orang yang berada dilingkungannya bisa saja anak meniru perilaku itu dari lingkungan bahkan bisa juga dari orangtua. Seringlah mengajak anak untuk quality time bersama orangtua dalam kegiatan positif.


Sumber : Tedjasaputra, Mayke, S. (2012). Tanya Jawab Tumbuh Kembang Batita. Hal  26-27.


0 comments:

Post a Comment