25.3.18

MATERI KULIAH RELIABILITAS



MATERI KULIAH  
RELIABILITAS


 
I R W A N T O
 NIM. 16.310.410.1125)

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Tujuan Instruksional Khusus (TIK) :
  1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi reliabilitas,
  2. Mahasiswa mampu mengetahui ciri-ciri reliabilitas,
  3. Mahasiswa mampu mengetahui ciri konsistensi reliabilitas,
  4. Mahasiswa mampu mengetahui ciri konsistensi dalam dan teknik-teknik pengujiannya,
  5. Mahasiswa mampu mengetahui ciri konsistensi luar dan teknik-teknik pengujiannya.


Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap ajeg apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama.
Apabila tinggi seorang anak diukur dengan meteran kayu dan pengukuran dilakukan berulang-ulang dengan meteran yang sama, maka hasilnya tinggi anak tersebut tetap sama, tetapi apabila meteran tersebut terbuat dari plastik maka hasilnya tidak tetap tergantung bagaimana cara memegang meteran plastik tersebut, apabila memegangnya agak kendor, maka hasilnya lebih rendah dan apabila memegangnya dengan tarikan yang kuat, maka kemungkinan hasilnya akan lebih tinggi. Oleh sebab itu meteran kayu menghasilkan pengukuran yang lebih reliabel dibandingkan dengan meteran plastik. Meteran kayu hasilnya lebih konsisten (ajeg), sedangkan meteran plastik hasilnya kurang konsisten.
Demikian halnya dengan kuesioner sebagai alat ukur untuk gejala-gejala sosial (non fisik) harus mempunyai reliabilitas yang tinggi. Untuk itu sebelum digunakan untuk penelitian harus dites (diuji coba) sekurang-kurangnya dua kali. Uji coba tersebut kemudian diuji dengan tes menggunakan rumus korelasi product moment. Perhitungan reliabilitas harus dilakukan hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang sudah memiliki validitas. Dengan demikian harus menghitung validitas terlebih dahulu sebelum menghitung reliabilitas.
Untuk dapat lebih memahami maksud reliabilitas, maka diajukan pertanyaan (1) Apakah pengukuran yang  kita lakukan berkali-kali pada obyek yang sama menghasilkan skor yang sama ? kalau jawabannya adalah ya, maka berarti pengukuran yang dilakukan tersebut reliabel (konsistensi atau stabilitas), (2) Apakah skor yang diperoleh dengan pengukuran tersebut merupakan skor yang sebenarnya ? kalau jawabannya adalah ya, maka berarti pengukuran yang dilakukan reliabel (akurasi atau ketepatan), (3) seberapa banyak penyimpangan skor hasil pengukuran dari skor yang sesungguhnya ? kalau jawabannya sedikit sekali atau mendekati 0, berarti reliabel (precicion, ketelitian).
Dari pertanyaan di atas diketahui bahwa ada 3 ciri reliabilitas  yaitu (a) konsistensi atau stabilitas, (b) ketepatan, dan (c)  ketelitian. Ciri kedua yaitu ketepatan dalam prakteknya tidak pernah terpenuhi secara mutlak. Data yang diperoleh dengan pengukuran tidak pernah mencapai realitas (kebenaran) yang sesungguhnya. Dengan demikian, pendekatan terhadap reliabilitas pada umumnya dilakukan dengan mempelajari kaitan antara skor sebenarnya (Xb) dengan skor yang diamati (Xa) dan kesalahan skor (Xs). Secara matematis dapat dirumuskan  : Xb = Xa + Xs.
Dari persamaan matematis tersebut dapat dikembangkan pengertian bahwa dalam praktek reliabilitas dapat diupayakan dengan meminimasi kesalahan skor (Xs) agar skor yang diamati  (Xa) mendekati skor sebenarnya.
Untuk pengukuran fenomena kedokteran sosial yang sebagian berupa fenomena psiko-sosial, pada umumnya digunakan instrumen  pengukuran yang berupa eksplorasi terhadap subyek penelitian dengan sejumlah pertanyaan, baik dengan teknik wawancara maupun dengan teknik kuesioner, karena pengukuran terhadap satu fenomena tertentu (misalnya terhadap persepsi subyek) digunakan beberapa butir pertanyaan, maka ciri konsistensi reliabilitas dikenal ada 2 macam yaitu konsistensi dalam dan konsistensi luar.
Ciri konsistensi dalam mempermasalahkan kesesuaian antar butir-butir substansi pertanyaan dalam satu kelompok yang digunakan untuk mengeksplorasi satu fenomena atau variabel.
Ciri konsistensi luar mempermasalahkan kesesuaian antara kelompok butir-butir substansi pertanyaan tersebut dengan instrumen ukur lain yang sudah baku atau reliabel, atau dengan instrumen yang sama yang dilakukan pada pengukuran lain.
Atas dasar ciri konsistensi tersebut, dikenal 2 cara pendekatan (pengujian) terhadap reliabilitas pengukuran, yaitu yang menguji konsistensi dalam dan yang menguji konsistensi luar.

Pengujian konsistensi dalam
Pengujian konsistensi dalam dengan banyak cara pengujian reliabilitas sehubungan dengan konsistensi dalamnya, tetapi pada prinsipnya adalah peneliti melakukan uji coba instrumen pada sekelompok subyek dengan satu alat ukur dan satu kali pengukuran. Skor yang diperoleh  dari uji coba tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan berbagai teknik, teknik yang sering digunakan antara lain (1) teknik belah dua, (2) teknik Kuder-Richardson, dan (3) teknik Hoyt.

Ad 1. teknik belah dua
            Alat ukur (kuesioner) yang telah disusun dibagi menjadi dua. Oleh karena itu pertanyaan dalam kuesioner ini harus cukup banyak (memadai), sekitar 40-60 pertanyaan. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain :
  1. Kuesioner diajukan kepada sejumlah responden, kemudian dihitung validitas masing-masing pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang valid dihitung, sedangkan yang tidak valid dibuang,
  2. Pertanyaan-pertanyaan yang valid dibagi menjadi dua kelompok secara acak (random), belah tengah, ganjil-genap. Separo masuk ke dalam belahan pertama, separonya lagi masuk ke dalam belahan kedua,
  3. Skor masing-masing item pada tiap belahan dijumlahkan sehingga akan menghasilkan 2 kelompok skor total yakni untuk belahan pertama dan belahan kedua,
  4. Dilakukan uji korelasi dengan rumus korelasi product moment  dengan formula Spearman Brown, formula Flanagan, atau formula Rulon antara belahan pertama dengan belahan kedua, hasil uji korelasi dibandingkan dengan angka kritis seperti pada contoh pengukuran validitas. Bila angka korelasinya sama atau lebih dari angka kritis pada derajat kemaknaan p 0,05 (lihat tabel) maka alat ukur atau kuesioner tersebut reliabel, tetapi bila hasil yang diperoleh di bawah angka kritis, maka kuesioner tersebut tidak reliabel sebagai alat ukur.

Ad 2. Teknik Kuder-Richardson (KR)
            Teknik pengujian ini dipandang lebih baik daripada teknik belah dua, namun ada persyaratan tambahan yaitu butir-butir tes harus bersifat homogen. Homogenitas diperlukan karena teknik KR ini bukan didasarkan pada analisis korelasi tapi pada analisis butir (item analisis), dikenal ada 2  macam formula KR yaitu KR-20 dan KR-21.

Ad 3. Teknik Hoyt.
            Teknik ini didasarkan pada analisis varians, dengan demikian nama lengkapnya adalah teknik analisis varians dari Hoyt. Pada analisis Hoyt ini, data hasil uji coba dianggap sebagai data dari suatu penelitian dengan rancangan faktorial yang faktor pertamanya adalah subyek dan faktor keduanya adalah butir (item).

Pengujian konsistensi luar
            Apabila pengujian terhadap konsistensi dalam dilakukan hanya dengan satu kali pengukuran, pengujian konsistensi luar dalam pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan dua kali pengukuran pada sekelompok subyek yang sama. Ada dua macam teknik pengujian, yaitu teknik uji/tes ulang dan teknik paralel

Ad 1. Teknik Tes/Uji Ulang
Dengan teknik ini satu alat ukur (kuesioner) diujikan kepada sekelompok responden yang sama sebanyak dua kali dengan interval waktu antara uji pertama dengan uji kedua tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat, misalnya 15-30 hari, karena apabila selang waktu terlalu pendek kemungkinan responden masih ingat denga pertanyaan-pertanyaan pada tes pertama, sedangkan apabila selang waktu terlalu jauh maka kemungkinan pada responden sudah terjadi perubahan dalam variabel yang akan diukur.
            Hasil pengukuran pertama dikorelasikan dengan hasil pengukuran kedua dengan menggunakan teknik korelasi product moment. Sebagai contoh :

Pengukuran Pertama
(skor total tiap responden)
Pengukuran Kedua
(skor total tiap responden)
14
15
15
15
13
13
16
15
13
14
12
14
13
13
16
16
12
13
14
13
14
13

            Hasil pengukuran ini dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus seperti pada contoh pengukuran validitas. Bila angka korelasinya sama atau lebih dari angka kritis pada derajat kemaknaan p 0,05 (lihat tabel) maka alat ukur atau kuesioner tersebut reliabel, tetapi bila hasil yang diperoleh di bawah angka kritis, maka kuesioner tersebut tidak reliabel sebagai alat ukur.


Ad 2. Teknik Paralel
      Kita membuat 2 alat ukur (kuesioner) untuk mengukur aspek yang sama dengan dua kali pengukuran. Kedua kuesioner tersebut kemudian diujicobakan kepada sekelompok responden yang sama, kemudian masing-masing pertanyaan pada kedua kuesioner tersebut diuji validitasnya. Pertanyaan-pertanyaan dari kedua alat ukur yang vaid dihitung skor totalnya, sedangkan yang tidak valid dibuang, kemudian skor total masing-masing responden dari kedua kuesioner tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan teknik korelasi product moment seperti contoh di atas.

0 comments:

Post a Comment