8.12.17

Observasi Tertutup



Observasi Tertutup 
 
IRWANTO
NIM. 163104101125
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

A.    Tujuan Observasi : Mengamati tingkah laku seseorang yang akan membeli Ikan Hias.
B.     Lokasi Observasi  : Pasty (Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta)
C.     Tanggal/Jam         : 22 Juli 2015 / Pukul 15.00 sampai 16.00 WIB
D.    Jenis Observasi     :Covert (Observasi Tertutup)
E.     Observer               : Irwanto (NIM. 163104101125)

F.      Deskripsi              :
Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta atau PASTY adalah pasar satwa dan tanaman hias terbesar yang ada di kota Yogyakarta. PASTY terletak di Jln. Bantul Km 1. Dongkelan, Mantrirejon, Yogyakarta. Pasty terbagi menjadi 2 zona yaitu zona ikan hias yang terletak di sebelah timur jalan raya sedangkan pada zona tanaman terletak di sebelah barat jalan raya.
Pada awalnya, pusat jual beli satwa dan tanaman hias di Yogyakarta adalah Pasar Ngasem yang terletak di Kawasan Benteng Keraton Yogyakarta, berdekatan dengan obyek wisata Taman Sari Yogyakarta.Berlokasi di pusat kota, Pasar Ngasem semakin ramai dikunjungi bukan hanya oleh warga Yogyakarta namun juga oleh wisatawan lokal dan mancanegara sehingga kondisinya kurang kondusif. Demi menjaga fungsi pasar sebagai pusat aktivitas jual beli satwa dan tanaman hias, Pemerintah Kotamadya Yogyakarta memutuskan untuk merelokasi Pasar Ngasem ke lokasi lain. Selain itu, relokasi perlu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga Taman Sari yang merupakancagar budaya asli Yogyakarta.  Relokasi pasar dilaksanakan pada 1 Desember 2017 dengan diiringi Kirab Budaya oleh 287 pedagang. Pemindahan pasar dilakukan sebagai upaya penataan kota oleh Pemerintah Kotamadya Yogyakarta. Sebelum dilakukan relokasi pasar satwa, lokasi telah dikenal sebagai Bursa Agro Jogja.
PASTY merupakan pasar modern yang tertata rapi, berbeda dengan Pasar Ngasem yang terkesan becek dan gelap. Pengelolaan yang baik membuat PASTY lebih menyerupai kebun binatang daripada pasar satwa. PASTY tidak hanya berfungsi sebagai pusat jual beli satwa dan tanaman hias namun juga dapat dimanfaatkan sebagai wahana edukasi oleh orangtua untuk mengenalkan berbagai jenis satwa dan tanaman hias kepada anaknya.  PASTY merupakan salah satu lokasi favorit para hobi fotografikarena terdapat berbagai jenis satwa dengan beragam warna dan tingkah polah yang unik, ikan hias, tanaman hias, dan aktivitas jual beli yang dapat dijadikan obyek foto yang menarik.Pada hari minggu, diselenggarakan lomba aduan suara oleh para pedagang burung yang membuat suasana pasar semakin meriah.
Saya melakukan observasi pada zona tanaman hias dan ikan hias yang terletak di sebelah barat jalan raya. Dari pintu masuk PASTY terdapat 9 ruko yang menjual ikan hias. Pada sisi bagian kiri dari arah pintu masuk ada 7 ruko dan 2 ruko berada didepannya.
Kemudian kita berjalan menuju kearah barat, maka kita akan bertemu dengan rumah makan kecil. Pada rumah makan itu, kita bisa memancing ikan disitu dan kemudian kita bisa menyuruh pegawainya untuk memasakannya. Kemudian setelah itu kita berjalan kekanan, maka kita akan bertemu dengan kantor display pemasaran tanaman hias dan ruang satwa yang isinya hewan ayam dan burung. Setelah itu kita jalan lagi sekitar 50 meter dan bertemu dengan ruko tanaman hias. Pada ruko tanaman hias terdapat 20 ruko yang dibagi menjadi 2 banjar yang saling berdekatan (berhadapan).
G.    Hasil Observasi
Ketika saya masuk kedalam PASTY pada bagian ikan hias dan tanaman hias, kebetulan suasananya agak sepi, mungkin karena sudah sore hari. Pada parkiran yang letaknya  dikanan pintu masuk hanya terdapat 8 sepeda motor dan 3 buah mobil.
Disekitar ruko ikan hias hanya terdapat 2-5 orang yang berlalu lalang ingin membeli atau melihat-lihat berbagai macam yang ada diruko ikan hias. Sedangkan para penjualnya ada yang duduk-duduk bersama sambil bercerita-cerita, ada yang lagi melayani pembeli, ada yang sedang akan menutup rukonya, dan juga ada yang sedang menghitung uang hasil penjualannya hari ini.
Sedangkan di sekitar ruko tanaman hias suasanya lebih sepi lagi. Disana para penjual sudah banyak yang pulang, ada sebagian yang masih menghitung uang penghasilannya dan hanya 2 ruko yang masih terdapatan pembeli. Para pembeli masih mencari-cari tanaman yang sedang dia cari.
Subyek observasi saya adalah seorang laki-laki sekitar umur 28-30 tahun. Bapak ini sepertinya baru saja pulang kerja, karena masih menggunakan baju kerja, jaket, memakai sepatu dan menggendong tas yang sepertinya lumayan berat. Bapak ini setelah memparkirkan motornya kemudian dia berkeliling dari ruko 1 sampai 7. Dia melihat-lihat isi pada setiap ruko, dan masuk kedalam ruko serta melihat-lihat semua isi pada ruko tersebut. Sesampainya diruko no.7 bapak ini berhenti dan kemudian bertanya pada ibu penjualnya berapa harga cacing untuk makanan buat mancing. Kemudian ibu penjual menjawab terserah bapaknya ingin membeli berapa. Dan kemudian, bapak itu lumayan lama menjawab dari pertanyaan ibunya. Dengan alis dinaikan keatas serta bola mata yang agak melihat kekiri.Menurut saya, bapak itu sedang memikirkan berapa dia akan membeli cacing untuk makan ikan saat mancing. Kemudian agakragu-ragu bapak itu menjawab “3000 saja bu, apakah boleh ?” dan ibu penjual itu menjawab “boleh saja”. Setelah itu, ibu penjual mengambil plastik putih dan menggambil alat untuk menggambil cacingnya. Kemudian ibu penjual menggambil cacing yang ada di ember bagian bawah dengan sekali ambil. Dan kemudian diikat dan dimasukkan kedalam plastik hitam. Setelah itu diberikan kepada bapak tersebut, setelah menerimanya bapak tersebut langsung menggeluarkan uang yang ada disakunya dengan uang Rp 10.000 dan kemudian diberikan kepada ibu penjual. Setelah ibu penjual menerimanya, kemudian ibu penjual mencari uang kembalian dan diberikannya pada bapak tersebut. Setelah selesai bapak tersebut mengucapkan “Terima kasih, ya bu” dan kemudian pergi ke motornya dan menggambil helm dan motornya. Kemudia menghidupkan motornya lalu keluar ke pintu keluar parkiran.

0 comments:

Post a Comment