5.12.17

Psikologi Humanistik



Psikologi Humanistik
I R W A N T O
NIM. 163104101125

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Psikologi humanistik dimulai di Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 1950-an, dan terus menerus tumbuh dalam jumlah pengikut maupun dalam lingkup pengaruhnya.  Psikologi humanistik  lahir dari ketidakpuasan terhadapa jalan yang ditempuh oleh psikologi pada awal abad ke-20. Ketidakpuasan itu terutama tertuju pada gambaran manusia yang dibentuk oleh psikologi modern, suatu gambaran yang partial, tidak lengkap dan satu sisi. Para tokohnya merasa bahwa psikologi, terutama psikologi behavioristik, menjadi “mendehumanisasi” yakni, meskipun menunjukkan keberhasilan yang spetakuler dalam area-area tertentu, gagal memberikan sumbangan yang besar kepada pemahaman manusia dan kondisi eksistensialnya (Misiak dan Sexton, 2005)
Psikologi humanistik memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh psikologi amerika serikat lainnya. William James dan G. Stanley Hall mencita-citakan psikologi ilmiah yang mengangkat dan memelihara manusia sebagai keseluruhan dan mereka percaya bahwa psikologi perlu menyelidiki kehidupan afektif manusia yang mendasari intelek dalam rangka memahami kemanusiaan yang esensial dari manusia.baik James dan Hall memandang dengan prihatin pada model manusia yang mekanomorfik yang ditonjolkan oleh psikologi ilmiah pada zaman mereka (Misiak dan Sexton, 2005)
Dalam (Duane P. Schultz dan S. E, Schultz) bahwa Pemikiran psikologi humanistik  juga didukung atau didasari dalam psikonalisis. Adler, Horney dan para teori kepribadian lainnya sangat tidak setuju dengan pemikiran freud bahwa hidup kita ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang tak sadar. Para penentang psikonalisis ini yakin bahwa kita adalah makhluk sadar yang memiliki spontanitas dan kehemdak bebas serta dipengaruhi oleh masa kini, masa depan, dan juga masa lalu. Para teoris ini mengaitkan kepribadian dengan kekuatan yang kreatif yang membentuk dirinya sendiri
Bagi para psikolog humanistik , psikolog behavioral adalah sebuah pendekatan steril yang sempit dan artificial terhadap hakikat manusia. mereka yakin bahwa menfokuskan pada sesuatu yang kasat mata dapat melenyapkan sifat kemanusian. Ia mereduksi manusia ke status yang hanya sekedar organisme dan mesin. Mereka memperdebatkan pandangan bahwa untuk merespon kejadian-kejadian stimulus dalam hidup, maka kita berfungsi dengan cara yang sudah ditentukan sebelumnya. Lebih jauh, para psikolog humanistik  berpendapat bahwa manusia itu lebih kompleks daripada tikus-tikus atau robot-robot laboratarium dan tidak dapat diobyekkan, dikuantifikasi, ataupun direduksi menjadi unit-unit stimulus-respon (Duane P. Schultz dan S. E, Schultz).
Ditengah ketidakpuasan terhadap psikologi behavioristik, selama tahun 1950-an muncul buku-buku dan makalah-makalah yang menekankan person, nilai, orientasi fenomenologis eksistensial. Diantaranya adalah makalah Maslow tentang individu yang mengaktualisasikan diri (1950) dan bukunya yang berjudul Motivation And Personality(1954), buku Allport yang berjudung Becoming(1955), buku Moustakas yang berjudul The Self(1956), dan buku Gardner Murphy yang berjudul Human Potentialities(1958). Penekanan yang sama juga terdapat dari ahli psikologi Inggris, yang ditunjukkan ooleh penerbitan buku John Cohen yang berjudul Humanistik  Psychology (1958). Pada tahun 1954, ahli psikologi dan filsuf ilmu pengetahuan kelahiran Budapest, Egon Brunswik (1903-1955), bekas murid Karl Buhler yang kemudian menjadi guru besar psikologi di universitas California di Berkeley, mendesak psikologi agar membebaskan diri dari ilmu pengetahuan alam yang nometik-reduksionis (Misiak dan Sexton, 2005)
1.      Tokoh Psikologi Humanistik
a.      Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow  adalah seorang psikolog  amerika serikat yang oleh banyak dijuluki sebagai bapak psikologi humanistik . Ketenarannya bisa dilihat dari pengaruhnya terhdapa ilmu humaniora, seperti geografi dan demografi. Namanya menjadi terkenal setelah merumuskan teori hierarki kebutuhan, yakni sebuah konsep kesehatan psikologi yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan bawaan sehingga manusia dapat mengaktualisasikan diri (Misiak dan Sexton, 2005)
Maslow mengajar di Brooklyn College, New York (1937-1951), sebelum menjadi staf Universitas Brandeis. Di Universitas Brandeis ia menjadi guru besar psikologi, dan dari tahun 1951 sampai dengan tahun 1961 menjadi ketua departemen psikologi. Pada tahun 1969, Maslow menjadi pengajar pada yayasan William Price Lauglin di Menlo Park, California, tempat ia meninggal pada tahun 1970. Maslow adalah editor pendiri Journal Of Humanistik  Psychology Dan Journal Of Transpersonal Psychology, selain menjadi anggota dewan editor 14 jurnal lainnya. Ia menulis sejumlah buku, beberapa diantaranya telah diterjemahkan ke dalam bahasa italia, jepang, polandia dan spanyol. Buku-bukunya yang paling dikenal dan luas dibaca adalah Toward A Psychology Of Being (1962, edisi kedua pada tahun 1968) dan juga buku Motivation Dan Personality pada tahun yang sama (Misiak dan Sexton, 2005).


b.      Carl Roger
Carl Rogers lahir pada tanggal 8 januarri 1902 di Oak Park, Illinois, sebuah pinggiran Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya adalah insiyur teknik sipil yang sukses.Sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga pemeluk Kristen yang taat. Dia langsung masuk sd karena sudah bisa membaca sebelum . Saat Carl berusia 12 tahun, keluarganya pindah ke sebuah daerah pertanian 30 mil sebelah timur Chicago, dan ditempat inilah ia menghabiskan masa remajanya. Dengan pendidikan yang keras dan kegiatan yang padat, kepribadian carl agak terisolasi, independen dan disiplin (calvin s. hall dan gardner lindzey, 2015)
Dia masukUniversity of Wisconsin dan mengambil bidang pertanian. Kemudian dia beralih mempelajari agama dan bercita-cita menjadi penndeta. Saat itu dia juga terpilih sebagai salah seorang dari 10 mahasiswa yang akan menghadiri “konferensi mahasiswa Kristen sedunia di Beijing selama enam bulan. Dia menceritakan bagaimana pengalaman baru ini memperluas pemikirannya dan dia mulai meragukan beberapa pandangan yang menjadi dasar agama.Kehilangan tentang keagamaan merupakan persoalan psikologis, oleh karena itu, Rogers pun kemudian masuk keprogram psikologi klinis di Columbia university dan menerima gelar Ph. D tahun 1931. Dia mulai melakukan praktik di Rochester society for the presention of cruelty to children, di klinik ini ia memperlajari teori orto rank dan teknik-teknik terapi yang kemudian menjadi langkah awal bagi pengembangan pendekatan ia sendiri.
Dia menjabat professor penuh di Negara bagian Ohio pada tahun 1940. Tahun 1942, dia menulis buku pertamanya, Counseling And Psychotherapy. Kemudian, tahun 1945 dia diundang untuk mendirikan pusat konseling di university of Chicago. Saat bekerja di sinilah bukunya yang sangat terkenal client centered therapy diluncurkan, yang memuat garis besar teorinya. Carl Rogers seorang ahli terapi yang di didik secara psikodinamika dan peneliti psikologi yang dididik secara teori perilaku, tetapi dia tidak sepenuhnya merasa nyaman dengan aliran tersebut (Thorne, 1992 Dalam Matt Jarvis, 2006)
2.      Pemikirannya Tentang Manusia
a.      Konsep Manusia Menurut Maslow
Psikologihumanistik  menganggap setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan potensinya secara penuh guna mencapai tingkat angkualisasi diri.Maslow menggambarkan kebutuhan manusia dalam sebuah hierarki.Manusia harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan mendesak sebelum memberikan perhatian kepada kebutuhan yang lebih tinggi. Model hierarki kebutuhan manusia menunjukkan bahwa manusian hanya akan terpenuhi satu tingkat pada suatu waktu. Maslow menerbitkan teori tentang hierarki kebutuhan manusia pada tahun 1943 (Eka Nova Irawan, 2015).
Menurut Maslow, ketika manusia telah memenuhi kebutuhannya dalam hierarki paling puncak, pada akhirnya ia dapat mencapai akrualisasi diri. Oleh karena itu, aktualisasi bukanlah hasil yang diperoleh secara otomatis, melainkan pemenuhan kebutuhan secara bertahap.Hierarki kebutuhan manusia yang diidentifikasi oleh Maslow biasanya digambarkan dalam sebuah piramida. Dalam (Eka Nova Irawan, 2015), hierarki kebutuhan menutut Maslow dijekaskan sebagai berikut:
·         Bagian piramida paling bawah (tingkat pertama) adalah kebutuhan dasar atau fisiologis yang meliputi makan, minum, tidur dan seks.
·         Tingkat berikutnya (kedua) adalah kebutuhan akan keselamatan, keamanan, ketertiban serta stabilitas.
·         Tingkat ketiga adalah kebutuhan akan cinta dan rasa berada diranah psikologis
·         Berikutnya adalah tingkat kebutuhan terhadap penghargaan.
·         Tingkat kelima adalah kebutuhan kognitif
·         Tingkat keenam adalah kebutuhan estetik
·         Bagian puncak piramida (tingkat ketujuh) adalah kebutuhan aktualisasi diri.
Dalam (Misiak Dan Sexton, 2005), Maslow menguraikan lima kebutuhan bertingkat; kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan akan rasa harga diri dan kebutuhan untuk mengaktualisasi diri. Jika kebutuhan yang satu telah terpuaskan, maka kebutuhan lain yang lebih tinggi akan muncul menuntut pemuasan, demikian seterusnya.
Kebutuhan aktualisasi diri tidak memerlukan penyeimbangan atau homcostatis, dia akan terus dirasakan. Kebutuhan ini memang akan meningkat kalau kita “menebarnya”. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup hasrat untuk terus-menerus mewududkan potensi-potensi diri, keinginan untuk “menjadi apa yang anda bisa”.Kebutuhan ini lebih merupakan persoalan menjadi yang sempurna, menjadi “anda” yang sebenarnya.Oleh karena itu, kebutuhan ini disebut aktualisasi diri (George boore, 2016).
Dalam sebuah jurnal yang meneliti tentang mahasiswa afrika di amerika serikat bahwa para mahasiswa afrika yang belajar di amerika serikat justru sangat sulit untuk bisa mengaktualisasikan diri atau meningkatkan potensi bahkan mereka sangat sulit untuk memperoleh hasil bimbingan konseling secara sempurna dikarenakan tujuan para konseling humanistik lebih kepada tujuan konselor bukan tujuan untuk kliennya (jonhson dalam jurnal Lacretia Dye, LaShonda B. Fuller, Monica G. Burke dan Aaron W. Hughey, 2017). Dan dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa, untuk memperoleh kebutuhan tingkat paling atas yaitu mengaktualisasikan diri tidak mudah dicapai oleh sembarangan orang.
b.      Konsep Manusia Menurut Rogerl
Carl Rogers adalah seorang ahli terapi yang didik secara psikodimamika dan peneliti psikologi yang dididik secara teori perilaku, tetapi dia tidak sepenuhnya merasa nyaman dengan dua aliran tersebut (Thorne, 1992 dalam Matt Jarvis). sepertiFreud dan winnicott, teori-teori Rogers diperoleh secara klinis (Clinically Derived), yaitu berdasarkan pada apa yang dikatakan pasien dalam terapi. Meskipun begitu, pendekatan Rogers terhadap perkataan pasien itu sangat berbeda. Banyak yang menyakini pendepat-pendapat Rogers diilhami oleh seorang pasien di Rochester society for the prevention of cruelty to children-perkumpulan Rochester untuk pencegahan kekejaman terhadap anak ( Matt Jarvis, 2006).
Adapun teori manusia menurut pandangan Rogers adalah sebagai beriku:
a)      Real self dan ideal self
Secara teoritis Rogers mengatakan bahwa setiap individu memiliki dua diri (self), yaitu diri yang nyata (real self) dan diri yang ideal (ideal self). Real self adalah diri yang dialami, dirasakanm dan dipersepsikan, adapun ideal self adalah diri yang diidealkan (dicita-citakan) (Eka Nova Irawan, 2015).Rogers mengatakan bahwa individu yang sehat ditandai dengan potensi-potensinya yang berfungsi penuh, yaitu telah mencapai keselarasan antara diri self dan ideal self. Jika seseorang dapat menggabungkan keduanya maka ia akan mampu menerima keadaan dan hidup sebagai diri sendiri tanpa konflik.
Di amerika utara, dalam sebuah penelitian terhadap orang tua (ayah dan ibu) yang mempunyai anak tuna rungu atau gangguan pendengaran, mereka mengatakan bahwa dengan mereka memiliki anak-anak yang cacat pendengaran justru membuat kepribadian mereka, dikarenakan mereka selalu berada didekat dengan anak mereka (Dalam Jurnal Amy Szarkowski Dan Pattric J. Brice, 2016). Penelitian ini menjadi kasus yang actual terhadap teori rogers, bahwa ibu dan ayah menjadi (real self) dan anak mereka yang cacat pendengaran menjadi (ideal self) dikarenakan menjadi suatu acuan bagi orang tuanya untuk meningkatkan keprinadian.
b)      Conditional positif regard dan unconditional positive regard
Setelah melakukan penelitian tentang dua model diri, Rogers mendapatkan hasil bahwa manusia dalah korban dari  conditional positif regard (cinta, persetujuan, persahabatan, dan dukungan yang diberikan oleh orang lain. Seseorang tidak akan mendapatkan Conditional positif regard kecuali bila ia mematuhi norma social dan aturan. Selanjutnya Rogers mengatakan bahwa jika seseorang memiliki citra diri atau perilaku buruk, ia memerlukan unconditional positif regard dari orang lain. Unconditional positif regard (memberikan dukungan dan apresiasi terhadap individu tanpa menghiraukan perilakunya yang tak pantai secara social) dibutuhkan seseorang bukan karena ia pantas mendapatkannya, tetapi lebih karena kedudukannya sebagai manusia dan berharga dan mulia (Eka Nova Irawan, 2015).
a.    Aktualisasi diri
Rogers percaya manusia memiliki satu motif dasar, yaitu kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri. Kecenderungan ini adalah keinginan untuk memenuhi potensi yang dimiliki dan mencapai tahap “human beingness” yang setinggi tingginya. Seperti bunga yang tumbuh sepenuh potensnya jika kondisinya tepat, tetapi masih dikendalikan oleh lingkungan, manusia juga akan tumbuh dan mencapai potensinya jika lingkungan cukup bagus. Namun tidak seperti bunga, potensi yang dimiliki manusia sebagai individu bersifat unik, kita ditakdirkan untuk berkembang dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan kepribadian kita (Matt Jarvis, 2006)

KESIMPULAN
Psikolog humanistic sebagai reaski terhadap psikolog behavioralistik. psikolog behavioral adalah sebuah pendekatan steril yang sempit dan artificial terhadap hakikat manusia. mereka yakin bahwa menfokuskan pada sesuatu yang kasat mata dapat melenyapkan sifat kemanusian. Ia mereduksi manusia ke status yang hanya sekedar organisme dan mesin. Mereka memperdebatkan pandangan bahwa untuk merespon kejadian-kejadian stimulus dalam hidup, maka kita berfungsi dengan cara yang sudah ditentukan sebelumnya. Lebih jauh, para psikolog humanistik  berpendapat bahwa manusia itu lebih kompleks daripada tikus-tikus atau robot-robot laboratarium dan tidak dapat diobyekkan, dikuantifikasi, ataupun direduksi menjadi unit-unit stimulus-respon.
Daftar Pustaka
Boeree, C. George. (2016). Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Jogyakarta: prismasophie.
Dye, Lacretia, dkk (2017).Beyond Social Justice For The African American Learner: A Contextual Humanistic Perspecktive For School Counselors,Journal of ISAAC, Volume 6, Issue 1.
Eka Farida, Yushinta (2015). Humanism Dalam Pendidikan Islam, Jurnal  Tarbawi Vol 12, No. 1
Hall, Calvin S dan Lindzey, Gardner. (2015). Psikologi kepribadian: Teori-Teori Holistik. Yogyakarta: KANISIUS.
Irawan, Eka Nova. (2015). Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Psikologi Dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD.
Jarvis, Matt. (2015). Teori-teori Psikologi: Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku, Perasaan, dan Pikiran Manusia. Bandung: Penerbit Nusa Media.
Misiak, Henryk Dan Staudt Sexton, Virginia. (2005). Psikologi Fenomenologi, Eksistensial Dan Humanistik: Suatu Survey Historis. Bandung: Refika Aditama.
Mujid, Abdullah Dan Mudzakir, Yusuf. (2002). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
P.Schultz, Duane Dan Ellen Schulyz, Sydney.(2013). Sejarah Psikologi Modern. Bandung: Nusa Media
Santrock, John W. (2015). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group.
Sumanto.(2014). Psikologi Umum.Yogyakarta.CAPS.
Wilcox, Lynn. (2013). Psikologi Kepribadian: Analisis Seluk Beluk Kepribadian Manusia. Jogyakarta: IRCiSoD.

0 comments:

Post a Comment