17.12.17

FAEDAH ATAU UNFAEDAH?

FAEDAH ATAU UNFAEDAH?
ANA ISTIQOMAH
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Teknologi yang semakin canggih membuat akses informasi semakin mudah dan cepat. Tentu hal ini sangat membantu kinerja manusia sehingga lebih produktif. Akan tetapi, banyak pula yang hanya memanfaatkannya sebagai sarana mengekspos diri, pamer, diskriminasi, bullying, perang komentar via medsos atau kegiatan tak berfaedah lainnya.
Sekarang ini, jika kita membuka media sosial, banyak sekali hal-hal sepele yang cenderung nyeleneh menjadi viral. Tak hanya para anak muda saja yang doyan berpose di depan kamera, tetapi nenek-nenek pun juga tak kalah hits. Mereka bahkan bisa lebih bergaya ketimbang para anak muda. “Nenek-nenek jaman now”, mereka menyebutnya seperti itu.
Esteem needs, merupakan salah satu teori kebutuhaan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow. Kebutuhan pada tingkat keempat hierarchy of needs ini merupakan jejang kebutuhan yang menjelaskan tentang kebutuhan akan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi penting, kehormatan dan apresiasi. Dalam jenjang ini orang membutuhkan ketenaran dan penilaian bagus dari orang lain atas dirinya. Perilaku yang ditampilkan dapat berupa pencitraan diri di media sosial, berusaha meraih prestasi, atau bahkan mencari sensasi, dll.
Saat ini para netizen seperti berlomba-lomba unjuk gigi di media sosial. Mau makan, cekrek, foto dulu. Di dalam mobil, cekrek, foto dulu. Mau tidur, cekrek, foto dulu. Bahkan bangun tidur dan mau mandi pun cekrek juga. Segala sesuatu dipamerkan, pokoknya benar-benar serasa “dunia dalam genggaman”. Hal ini selain dapat menimbulkan suatu kecemburuan,  juga dapat merangsang tumbuhnya kejahatan.
Apakah pernah terpikir di benak kalian bahwa orang bisa saja berfantasi dengan foto yang kalian post di media sosial kalian? Apakah pernah terpikir bagaimana seseorang bisa melakukan kejahatan?
Kejahatan terjadi salah satunya adalah akibat dari media sosial. Dari foto yang kita unggah di media sosial misalnya, informasi akan menyebar dengan cepat. Banyak orang yang akan melihat postingan kita. Tentu kita tak bisa mencegah apa yang benak mereka pikirkan setelah melihat postingan kita bukan? Apabila kita tidak berhati-hati dalam mengekspos diri kita, jangan salahkan mereka apabila mereka berfantasi atau bahkan bertindak tak baik pada kita. Karena pada dasarnya, manusia memiliki libido yang dapat terangsang apabila melihat suatu stimulus tertentu. Dan foto-foto yang kita ekspos dalam media sosial tidak menutup kemungkinan dapat menjadi stimulus yang membangkitkan libido mereka. Sehingga terciptalah fantasi-fantasi dalam benak mereka dan mendorong nafsu mereka untuk segera dipuaskan.
Sesuai teori Maslow, bahwa kebutuhan akan seks merupakan kebutuhan tingkat dasar. Atau dapat dikatakan kebutuhan yang paling mendesak untuk dipenuhi. Sudah menjadi kodrat manusia untuk memiliki naluri mempertahankan eksistensi mereka. Meski dalam hidup manusia sudah diajarkan mengenai nilai-nilai moral, akan tetapi bila super ego ini kalah dari id, maka tidak menutup kemungkinan individu tersebut untuk mencari cara agar kebutuhannya tersebut terpuaskan. Dan bila sasaran tidak bisa didapatkan, maka bisa saja ia akan mencari pelampiasan. Bukankah jika seperti ini dapat dikatakan bahwa kita boleh jadi menjadi penyebab kemalangan yang menimpa seseorang akibat dari perbuatan kecil yang kita anggap sepele ini?
Oleh karena itu, mari kita pergunakan kecanggihan teknologi ini dengan sebaik mungkin. Dan selalu pikirkan apakah yang kita posting ini akan berfaedah atau malah unfaedah.

Referensi
Boeree, C. George. (2013). Personality Theories. Yogyakarta: Prismasophie.
Schultz, Duane P. & Schultz, Sydney E. (2014). Sejarah Psikologi Modern. Bandung: Nusa Media.



0 comments:

Post a Comment