29.11.17

ON AIR @ RRI # CINTA LINGKUNGAN

MENUMBUHKAN EMPATI DITENGAH TRAGEDI


Ningnurani, Fakultas Psikologi, Up'45 Yogyakarta



Siapapun kita orangnya, tidak menginginkan musibah menimpa dan hadir dikehidupan ini. Akan tetapi, jika hal itu terjadi akankah kita lari dari kenyataan, meratapi yang terjadi, ataukah akan menjadi pribadi  tangguh, yang berjiwa sehat untuk bisa melalui itu semua.

Banjir, tanah longsor yang terjadi beberapa hari ini di Yogyakarta, kembali mengingatkan kita akan sebuah bencana yang dulu pernah kita lalui yaitu gunung meletus dan tsunami. Walaupun, tidak semua daerah terkena dampaknya seperti kejadian yang lalu, rasa trauma, ketakutan dan kengerian itu masih saja menghantui. Karena itu terjadi di lingkungan kita berada.

Seperti tema siaran edisi Rabu, 29 november 2017 " Cinta Lingkungan " yang di isi oleh Dosen dari Fakultas Psikologi UP'45, Bapak Fx. Wahyu Widiantoro, Aziz ( angkatan '15 ) dan Ani ( angkatan '16 ). Lingkungan adalah semua faktor luar, fisik, dan biologis yang secara langsung berpengaruh terhadap ketahanan hidup, pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi organisme, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan semua ruang dengan semua benda, daya , keadaan, dan mahkluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia secara mahkluk hidup lainnya. ( Mustofa : 2000 ).

Cinta lingkungan itu dimulai dari diri sendiri, berbuat hal - hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan penanaman pohon untuk reboisasi adalah contoh konkrit kecintaan itu. Seperti halnya, menumbuhkan sifat tersebut harus dimulai dari keluarga, jadilah kita orang tua yang bisa mendidik anak - anak untuk mempunyai rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, dan berilah tauladan, sebagi contoh :  dalam keluarga seorang ayah juga harus bisa melakukan keperluan diri sendiri tanpa harus menyuruh / meminta bantuan kepada anak - anaknya. Disaat masih bisa dan ada waktu melakukan serta memenuhi kepentingan diri sebaiknya lakukanlah sendiri. Demikian petikan kalimat yang disampaikan oleh " Bapak Wahyu ". 

Bagaimanapun juga saat kita menghadapi bencana seperti yang saat ini terjadi, menurut Aziz " hendaklah kita mempunyai 2 hal yang tertanam dalam diri kita, akan senantiasa menyesali segala sesuatu yang telah terjadi ataukah bangkit dan menjadikan itu sebagai kekuatan untuk memotivasi diri kita menuju yang lebih baik".

" Belajar dari pengalaman mas kecil, dan seringnya dihadapkan oleh trauma juga kenyataan di tengah tragedi, menjadikan itu semua memunculkan sikap empati seklaigus membawa diri menjadi seorang relawan ditengah situasi bencana ", itu yang di ungkapkan "Ani".

Empati kepada korban bencana bukan dengan jalan mengasihani, ataupun memanjakannya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Memberikan empati itu mendukung setiap apapun perubahan yang telah dilakukan oleh korban untuk bangkit dan menjadi dirinya sendiri.

Karakter peduli limgkungan bukanlah sepenuhnya talenta maupun instink bawaan, akan tetapi juga merupakan hasil dari suatu proses pendidikan dalam artian luas. Salah asuh atau salah didik terhadap seorang individu bisa jadi akan menghasilkan karakter yang kurang terpuji terhadap lingkungan. Karena itu karakter yang baik haruslah dibentuk kepada setiap individu, sehingga setiap individu dapat menjiwai setiap tindakan dan perilakunya. ( Hamzah : 2013 )


Sumber : 

Mustafa, Hasan. ( 2000 ) Teknik Sampling, Bandung, Alfabeta.

Hamzah, Syukri, 2013. Pendidikan Lingkungan, Bandung, Rafika Aditama.

0 comments:

Post a Comment