10.6.17

Review Jurnal : Pengaruh Katarsis Dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan Pada Mahasiswa

Review Jurnal : Pengaruh Katarsis Dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan Pada Mahasiswa
Siti Asmaul Husna
153104101111
Psikologi Abnormal
Depresi dan berkurangnya kesejahteraan psikologis merupakan permasalahan kesehatan yang utama pada orang muda (Allgower dkk, 2001). Depresi telah lama dikenali sebagai suatu perhatian utama bagi pemberi layanan kesehatan (Geisner, 2006). Seperti yang dikemukakan Atkinson (1991), depresi merupakan respon normal terhadap berbagai stres kehidupan. Depresi dianggap abnormal bila di luar kewajaran dan berlanjut terus sampai saat-saat dimana kebanyakan orang sudah dapat pulih kembali. Dalam kondisi dan lingkungan yang semakin penuh dengan peristiwa yang memberikan stres, mudah sekali orang untuk mengalami gangguan depresi. Mengutip hasil penelitian Beck dan Young, dikatakan tiga perempat dari seluruh mahasiswa merasa depresi selama beberapa waktu pada masa sekolah. Hal ini dapat terjadi mengingat banyaknya masalah yang menghadang keberhasilan mahasiswa dalam menyelesaikan studinya dan terbukanya peluang bagi mahasiswa untuk mengalami simtom-simtom depresi karena berbagai masalah yang mungkin timbul. Seperti adaptasi terhadap situasi dan kondisi kampus, tugas yang menumpuk, tuntutan akan nilai yang bagus, dan lain sebagainya. Bahkan menurut Reifman dan Dunkel-Schetter (dalam Allgower dkk, 2001), simtom depresi dan kecemasan menjadi perhatian khusus pada mahasiswa dan dihubungkan dengan performansi akademik yang rendah dan partisipasi rendah dalam aktivitas kampus.
Pennebaker (1997) menyatakan bahwa menulis pengalaman emosional atau menulis peristiwa yang penuh tekanan (stressful events) telah menjadi kajian yang menarik pada beberapa tahun belakangan ini. Beberapa penelitian laboratorium telah mempelajari kegunaan menulis atau berbicara mengenai pengalaman emosional. Menghadapi atau berkonfrontasi dengan isu-isu pribadi secara mendalam telah mendapat penemuan akan menghasilkan kesehatan fisik, kesejahteraan subjektif dan tingkah laku adaptif tertentu. Paez dkk (1999) mencatat bahwa menghadapi atau berkonfrontasi dengan peristiwa-peristiwa penuh tekanan dan traumatis yang dilakukan dalam prosedur menulis dilaporkan menghasilkan tingkat yang lebih tinggi dalam kesehatan fisik (misalnya, lebih sedikit mengunjungi fasilitas kesehatan), fungsi fisiologis yang lebih tinggi (misal, reaksi kekebalan tubuh yang lebih baik) dan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi (misal, afek negatif yang lebih rendah dan afek positif yang lebih tinggi). Kesimpulan tersebut juga dapat dilihat pada Pennebaker (1997) yang juga menyebutkan bahwa akibat menulis mengenai topik tertentu, ternyata berhubungan dengan perbaikan peringkat mahasiswa pada bulan setelah penelitian dilakukan dan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih cepat pada tingkat senior. Sedangkan Katarsis menurut sudut pandang psikoanalisa merupakan ekspresi dan pelepasan emosi yang ditekan. Kadangkala disinonimkan dengan abreaksi yang didefinisikan sebagai mengalami kembali pengalaman emosional yang menyakitkan dalam psikoterapi, biasanya melibatkan kesadaran pada materi yang sebelumnya ditekan (Corsini & Wedding, 1989). Sedangkan hasil analisisnya telah menunjukkan bahwa terapi menulis ekspresif sebagai media katarsis memiliki pengaruh meringankan terhadap depresi ringan. Efek terapeutik menulis dapat digambarkan oleh banyak dasar teori. Salah satunya adalah teori inhibisi psikosomatis, yang menjelaskan bahwa represi pikiran, perasaan, atau perilaku seseorang, khususnya pada hal-hal yang traumatis atau menyusahkan, merupakan suatu bentuk kerja fisiologis dan psikologis (Riordan, 1996).
Sumber : Qonitatin, Novi. Widyawati, Sri. Asih, Y. Gusti. Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011


0 comments:

Post a Comment