10.6.17

Review Jurnal : Dinamika Psikologis Anak Pelaku Kejahatan Seksual

Review Jurnal : Dinamika Psikologis Anak Pelaku Kejahatan Seksual
Siti Asmaul Husna
153104101111
Psikologi Abnormal
Jumlah kejahatan seksual yang terus meningkat di setiap tahunnya ini semakin mengkhwatirkan. Bahkan kejahatan seksual tidak hanya mampu dilakukan oleh orang dewasa saja. Data menunjukkan bahwa banyak kejahatan seksual yang dilakukan anak-anak. Survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati, yang dipantau langsung oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menghasilkan sebuah data yang menyebutkan bahwa 95 persen anak berusia sekolah dasar, sudah menjadi pelaku kekerasan seksual (Health.liputan6.com, 27 Februari 2014). Fakta ini sangat menghawatirkan, bagaimana bisa diusia yang masih belia anak mampu melakukan tindakan kejahatan seksual. Apa yang ada dalam benak anak-anak hingga melakukan tindakan keji tersebut. Dilihat dari kapasitas meraka sangat berbeda jauh dengan milik orang dewasa, dalam segi kematangan seksual, kognitif, dan emosi merekapun masih belum stabil dibandingkan dengan orang dewasa yang mereka sudah dikatakan matang seksual, kognitif, dan emosinya.
Umar Sa’abah itu menunjukkan “secara umum seksualitas manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu 1) biologis (kenikmatan fisik dan keturunan), 2) sosial (hubunganhubungan seksual, berbagai aturan sosial serta berbagai bentuk sosial melalui mana seks biologis diwujudkan dan 3) subjektif (kesadaran individual dan bersama sebagai objek dari hasrat seksual) (Wahid & Irfan, 2001, hal: 32). Adapun faktor-faktor pemicu kejahatan seksual yakni: Faktor dalam diri yang meliputi rasa tidak aman, keterampilan sosial yang buruk, konsentrasi yang buruk dan gelisah, dan implusif. Faktor kedua yakni faktor berbasis keluarga juga memicu kejahatan seksual oleh anak yang meliputi: orang tua yang menggunakan penyalahgunaan zat, kriminalitas orang tua, ibu yang masih remaja atau muda, adanya perselisihan perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, dan kekerasan, orang tua yang tidak pantas, dan kurangnya pengawasan orang tua atau keterlibatan orang tua (Dennison & Leclerc, 2011, hal: 1090). Adapun Faktor-faktor sekolah termasuk kegagalan akademis, putus sekolah, membolos, lampiran miskin untuk sekolah, dan manajemen perilaku yang tidak memadai dan faktor lingkungan dan masyarakat, yakni seperti kerugian sosial ekonomi, kekerasan dan kejahatan lingkungan, dan norma budaya terkait agresi dan kekerasan(Dennison & Leclerc, 2011, hal:1091).
Remaja memilki rasa ingin tahu dan seksualitas yang hampir tidak dapat dipuaskan. Remaja memikirkan apakah dirinya menarik secara seksual, cara melakukan hubungan seksual, dan bagaimana nasib kehidupan seksualitas meraka (Santrock, 2011, hal: 408). Mayoritas remaja mengembangkan identitas identitas seksual yang matang, meskipun sebagian besar diantra mereka mengalami masa yang rentan dan membingungkan.  Oleh karna itu orang tua memilliki tugas penting yakni memberikan perhatian pada anaknya. Krtika Peran orang tua dalam melakukan tugasnya dilaksanakan secara tidak maksimal sehingga perlakuan orang tua pada anak membuat merasa tidak nyaman dan bahkan tidak senang berada di rumah,yang akhirnya anak lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan teman sebaya, bahkan anak hingga memutuskan untuk tinggal dengan teman sebayanya. Tindakan tersebut akan sanggat mempengaruhi prilaku anak dalam berfikir, bertindak juga dalam mengambil keputusan.

Sumber : Rochmah & Nuqul. Jurnal Psikologi Tabularasa. Dinamika Psikologis Anak Pelaku Kejahatan Seksual.Volume 10, No.1, April 2015: 89 –102

0 comments:

Post a Comment