16.4.17

Tugas Kunjungan RSJ Grhasia



MARI MENGAYOMI BUKAN MENGHAKIMI
Meissy Bella Sari
163104101143
Psikologi Umum II

Rumah sakit jiwa, apa kata yang terlontar paling utama ketika orang melihat tempat ini atau sekedar mendengar nama nya saja, yang terbayang adalah dimana tempat ini menjadi tempat penampungan para pengidap penyakit jiwa atau kesehatan mental yang terganggu.
Sama hal nya dengan saya ketika pengalaman pertama kalinya memasuki RSJ Grhasia Pakem, Yogyakarta dalam rangka agenda kunjungan dari Prodi Psikologi Universitas Proklamasi 45. Ada rasa takut yang sebenarnya sedikit mengganggu pikiran saya, dimana saya akan bertemu langsung bahkan akan berkomunikasi secara dekat dengan mereka para pasien RSJ Grasia.
Namun ternyata itu hanyalah ketakutan saya saja, mereka tidak seseram dengan apa yang ada di benak saya, mereka yang berada di RSJ ini lebih memadai bila dipandang dibandingkan dengan yang sering ada di jalanan. Dalam ranah psikologi sendiri RSJ Grhasia memberikan berbagai layanan antara lain, pasien di poli psikologi, psikometri, rujukan psikiater, jiwa rawat inap, anak di klinik tumbuh kembang, visum, geriatri dan napza.  
Pada kesempatan kali ini Wisma yang saya masuki adalah Wisma Srikandi, dimana didalam nya adalah para perempuan sesuai dengan nama Wisma yang diberikan. Mereka terbagi menjadi 2 kamar, menurut informasi yang saya peroleh dari petugas 2 kamar yang dibedakan sesuai dengan perkembangan mereka. Pada kamar 1 mereka yang ada disana adalah mereka yang masih memerlukan bantuan dari para petugas atau belum bisa mandiri sepenuhnya, dari minum obat sampai mandi pun harus petugas yang turun tangan, mereka yang ada dikamar 1 cenderung lebih pemurung dan pikirannya kosong, berbeda hal nya dengan para penghuni di kamar 2, mereka lebih aktif lancar dalam berkomunikasi bahkan mereka sering membantu petugas di sana untuk sekedar bersih-bersih kamar dan menyiapkan makanan untuk teman-temannya.
Ada pengalaman tersendiri bagi saya bisa melihat pasien waham, schizophrenia, melihat perilaku pasien gangguan halusinasi dan sebagainya dan bisa langsung berkomunikasi tatap muka dengan beberapa penghuni di kamar 2, banyak yang mereka ceritakan kepada saya dan teman-teman yang berkunjung di sana, sekilas tata cara bicara nya menunjukkan mereka tak ada bedanya dengan yang sehat sekalipun, bahkan salah satu dari mereka sempat menyatakan bahwa dirinya sedang sakit dan ingin sembuh agar bisa cepat pulang dari tempat ini. Mereka mengaku lelah dengan obat-obatan yang harus  minum setiap hari. Sebenarnya, mereka hanya ingin didengarkan dan ada orang lain yang mendengarkan tanpa membuat mereka merasa terhakimi
Pada akhirnya saya mendapat jawaban bahwa mereka  sama saja dengan pasien lain, kita dapat berkomunikas, berinteraksi dengan mereka, dan pastinya dengan cara berbeda.  Kita harus kembali disadarkan bahwa mereka tetaplah pasien, tetaplah sesama. Mereka bukan alien, atau orang yang perlu disingkirkan. Mereka memang kini termarjinalisasi oleh lingkungan sosial, namun kita yang sadar jangan ikut menyingkirkan atau bahkan memperburuk keadaan. Justru, kita perlu merangkul mereka.
Mereka memberi pengalaman hidup bagi saya, mereka yang berada di tempat ini bukanlah karna keinginan dari diri mereka, bahkan tidak ada manusia yang ingin berada di posisi seperti mereka. Dan yang dapat saya jadikan pelajaran untuk bisa menjaga semua hal yang berhubungan dengan kesehatan mental, tak hanya kesehatan raga yang perlu di jaga jiwa pun juga. Lebih bisa menghargai mereka karna mereka juga ciptaan Tuhan yang tak ada bedanya satu sama lain, hanya saja jiwa mereka yang terganggu. Bisa mengayomi atau sekedar memberikan ruang bagi mereka untuk berinteraksi, berkomunikasi bukan malah mencemooh, menghina, bahkan menghakimi karna mereka juga punya harga diri.

0 comments:

Post a Comment