20.4.17

TERAPI KELUARGA UNTUK PENINGKATAN KOMUNIKASI VERBAL PADA ORANG DENGAN GANGGUAN SKIZOFRENIA

REVIEW ARTIKEL : TERAPI KELUARGA UNTUK PENINGKATAN KOMUNIKASI VERBAL PADA ORANG DENGAN GANGGUAN SKIZOFRENIA
IRNANINGSIH
15 310 410 1089
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Skizofrenia adalah kelainan psikiatrik kronis, termasuk gangguan mental yang sangat berat (Docherty, Hall, Gordiner 1998).Skizofrenia banyak di temukan di Indonesia, sekitar 99% orang-orang yang ada di rumah sakit jiwa adalah penderita skizofrenia. Prevalensi orang dengan skizofrenia di Indonesia adalah 0,3-1% dan biasanya di alami pada rentan usia 16-30 tahun dan jarang terjadi diatas usia 35 tahun (Mueser dan Gingerich,2006).

Faktor/ penyebab skizofrenia : 
1. Faktor keluarga, keluarga memegang peranan penting dalam perkembangan skizofrenia karena sejak awal kehidupan individu yang mengalami gangguan mental telah di pengaruhi oleh pengalaman belajar yang di terima dari anggota keluarga lain dan orang tuanya.
2. Faktor psisosial, mempunyai peranan penting dalam perkembangan skizofrenia dan orang dengan skizofrenia mempunyai kerentanan kognisi dan psikososial terhadap stres. Lingkungan yang menimbulkan stres mampu menyebabkan sintom-sintom yang mengakibatkan individu mengalami gangguan skizofrenia

Gejala khas skizofrenia yang sering muncul dan tampak jelas berkaitan dengan komunikasi verbal adalah :
1. bahasa yang di gunakan benar-benar tidak akurat atau tidak tepat
2. bicara kacau dan tidak jelas
3. tidak sesuai konteks,ketika berbicara,orang dengan penderita skizofrenia justru berbicara diluar kontek
4. bahasa yang di sampaikan tidak runtut atau tidak sesuai alur
5. komunikasi tidak memperhatikan etika dan budaya masyarakat

Contoh kasus : Seorang suami (S, usia 25 tahun) yang baru 1 tahun menikah, kemudian ia melakukan perselingkuhan, ketika istrinya tahu, hati kecilnya sangat marah, namun karena ia sedang mengandung maka ia memaafkan perselingkuhan yang di lakukan oleh suaminya. Namun dalam hati kecilnya ia menyimpan dendam pada suaminya, beberapa tahun setelah anak-anaknya lahir, ia mendoktrin anak-anaknya untuk membenci dan mendiamkan suaminya. Begitu pula pada kedua belah pihak keluarga di doktrin untuk membenci suami atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Lalu suami terkucilkan, dan selalu merasa kesepian, ia sering berbicara ngelantur, jika diajak berbincang ia tidak nyambung dengan konteks pembicaraan, bahkan sering keluar dari alur pembicaraan. Kedua orang tua dari suami mulai menyadari bahwa anak mereka mulai mengalami depresi dan gangguan skizofrenia, lalu karena tidak ingin berakhir dengan kegilaan, kedua orang tua tersebut melakukan pendekatan komunikasi verbal kepada suami yang telah melakukan perselingkuhan, dan mereka juga meminta istri dan anak-anaknya mulai melakukan komunikasi verbal kepada sang ayah guna mencegah semakin memburuknya kondisi yang di alaminya. Dengan perhatian dari kedua belah pihak keluarga, istri dan anak-anak, akhirnya sedikit demi sedikit gangguan ini mulai dapat di sembuhkan.

Pendapat pribadi :
* Salah satu terapi yang di anggap cukup efektif untuk kualitas komunikasi verbal orang dengan penderita skizofrenia adalah terapi keluarga.
* Orang dengan skizofrenia memiliki keterbatasan dalam komunikasi,terutama komunikasi verbal akibat penurunan fungsi dan gangguan kognisi yang memicu munculnya sintom-sintom khas skizofrenia,seperti gangguan komunikasi verbal,miskinnya isi pembicaraan, bicara kurang jelas atau sulit di pahami orang lain, intonasi kacau dan ucapan tidak memiliki makna.

Sumber :
fpsi.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/jurnal-pettysri.pdf https://www.google.com/search?q=jurnal+gangguan+skizofrenia.pdf&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab

0 comments:

Post a Comment