20.4.17

COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY PADA BIPOLAR DISORDER

ARTIKEL : COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY PADA BIPOLAR DISORDER
IRNANINGSIH (153104101089)
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Gangguan mood adalah bagian integral dari psikologi klinis. Terdapat dua jenis gangguan mood yaitu mania dan depresi. Depresi adalah gangguan nomor 2 di dunia yang paling “mematikan”, dan diperkirakan pada 2020 akan menjadi “wabah” diseluruh penjuru dunia. Bunuh diri sebagai akibat dari tidak tertanganinya pasien penderita depresi dengan baik adalah masalah utama dalam kesehatan publik. (Stein, Dan J., 2006). Kasus bunuh diri juga terjadi pada remaja. Bahkan ada kecenderungan meningkat. Ini terlihat dari data World Health Organization (WHO) di tahun 2001 yang menyebutkan bahwa angka bunuh diri akibat depresi di Indonesia sekitar 1,6 – 1,8 orang per 100.000 penduduk, sementara laporan WHO di tahun 2005 – 4 tahun kemudian - menyebutkan ada sekitar 24 orang dari 100.000 penduduk Indonesia. Data terakhir dari Kementerian Kesehatan RI untuk wilayah Jakarta saja, angka kematian akibat bunuh diri karena depresi mencapai 160 orang per tahun. (Veronica, 2011). Meskipun banyak faktor penyebab depresi ditengarai sebagai penyebabnya, seperti kesulitan ekonomi, masalah keluarga, juga rasa putus asa, penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ghanshyam Pandey beserta timnya dari University of Illinois, Chicago, menemukan bahwa 9 dari 17 remaja yang meninggal akibat bunuh diri memiliki sejarah gangguan mental. Salah satu gangguan mental yang bisa membawa seseorang menuju pada keputusan bunuh diri adalah Bipolar Disorder (BD). (Veronica, 2011).

Contoh kasus :
Anak perempuan ke 6 dari 10 bersaudara. Subjek termasuk anak yang biasa-biasa saja saat masih kecil. Ayah subjek sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Namun dibalik sifat keras sang ayah, subjek berkata bahwa ayahnya adalah sosok yang sabar dan sayang pada anak-anaknya. Hal ini berbeda dengan sifat ibunya yang dinilai subjek sebagai sosok yang judes, sering marah-marah, dan sebagainya. Subjek juga sering merasa sedih bila dimarahi saat kecil, namun sang ayah hanya diam saja, subjek merasa diabaikan, dan menurut subjek cenderung berlebihan rasa sayangnya terhadap anak bungsunya. Saat ditemui setelah kematian Tn. Sut, subjek tampak sangat kehilangan, karena dibanding ibunya, subjek lebih sayang kepada ayahnya. Hal ini tampaknya memicu kesedihan dan depresi subjek saat itu (Yosianto, 2010). Subjek mengenyam pendidikan hanya sampai bangku SMP. Subjek hanya mampu menamatkan pendidikan sampai jenjang SMP karena alasan ekonomi. Saat remaja subjek memiliki banyak teman, kadang temannya bermain ke rumah subjek atau subjek bermain ke suatu tempat dengan teman-temannya. Subjek sempat memiliki pacar saat remaja, pacar pertama, dan berasal dari satu desa. Namun suatu hari subjek merasa kesal dengan semua orang di rumah (iritable), kemudian subjek memutuskan untuk kabur dari rumah (impulsive behaviour) menuju ke Surabaya dan kemudian subjek bekerja (diperkirakan saat tersebut subjek sedang mengalami episode mania) (Yosianto, 2010). Subjek bekerja di sebuah pabrik lampu petromax tahun 1982. Saat itu di kantor ada kejadian uang kantor hilang. Dan seluruh karyawan yang berada disana saat itu dituduh oleh bosnya tersebut. Subjek merasa marah dan tidak senang atas kejadian tersebut. Setelah pulang dari kantor, subjek pinjam sepeda tetangga untuk menuju rumah temannya dan sepulang dari rumah temannya, subjek terjatuh dari sepeda di jembatan panjang jiwo. Namun subjek tidak pingsan dan amnesia, bahkan subjek mampu bangkit walau dengan luka sedikit akibat terjatuh. Malam harinya, subjek bicara melantur tentang masalah uang perusahaan yang hilang tersebut, namun dibawa ke seorang kiai dan dapat sembuh (Yosianto, 2010). Sejak saat itu subjek mulai sering menginap di instalasi rawat inap (irna) jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo maupun di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur. Tercatat sudah lebih dari 25 kali subjek keluar masuk rawat inap jiwa sejak tahun 1998-2008, dan sudah 1,5 tahun ini subjek tidak lagi kambuh. Hingga saat ini subjek masih rutin kontrol sebulan sekali ke poli jiwa RSUD Dr. Soetomo. Tapi saat ayah subjek meninggal akhir maret 2010 kemarin, subjek menunjukkan gejala depresi berupa mulai susah tidur, tidak enak makan, timbul irrasional belief berupa suara-suara bisikan dan suara gemercik air, sehingga keluarga menyarankan untuk menaikkan dosis obat yang diminum 2x dari biasanya untuk mencegah subjek untuk kambuh (relapse) lagi (Yosianto, 2010).

Pendapat pribadi :
mood chart efektif sebagai alat edukasi dan deteksi dini kekambuhan pada BD, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan sebelum gejala yang dialami subjek menjadi semakin buruk. Monitoring dan evaluasi secara periodik berguna untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dan strategi coping yang baru.

Sumber : jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/article/3452/17/article.pdf
https://www.google.com/search?q=jurnal+gangguan+bipolar.pdf&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab 


0 comments:

Post a Comment