23.4.17

RESENSI AGAR GERABAH TAK TERKUBUR SEJARAH



AGAR GERABAH TAK TERKUBUR SEJARAH
Nur Roy Tri Rahayu
163104101129
Psikologi Industri dan Organisasi

Turun temurun, warga kedua desa tersebuat menjadi pembuat gerabah. Bukan semata sebagai penghidupan, membuat gerabah bagi mereka juga merupakan tugas sejarah. Pada era awal 1970an, ada lebih dari 1000 perajin geabah. Ahun 2009, pembuat tinggal sekitar 30 orang, itupun dari kalangan usia lanjut. Ketika gerabah Sitiwinangun mulai mulai kurang diminati pasar, muncul pembaharuan desain. Salah seorang institute teknologi Bandung memperkenalkan teknik pijit dan pilin ada pembuatan gerabah.
Kekurangan : hanya beberapa masyarakat  yang mau mengembangkan salah satu warisan gerabah, anak muda mulai tidak tertarik pada gerabah. Kurangnya kreatif untuk memasarkan, warisan gerabah ini ditinggalkan anak muda karna dianggap sudah tidak menjanjikan lagi. Kurangnya pengertian pada anak muda bahwa gerabah warisan yang saying kalau ditinggalkan saja.
Kelebihan :                                                                                       
1.       Meski hanya beberapa namun mereka tetap berusaha mengembangkan kerajinan gerabah agar tidak tergusur oleh perubahan zaman.
2.       Untuk mengembangkan gerabah meraka membuka sanggar gerabah agar tetap diminati banyak orang.
3.       Meskipun hasilnya belum menyentuh para pengrajin, tetapi meraka tetap memotivasi.
4.       Ingin menjadikan gerabah sebagai lading penghidupan, selain itu juga untuk mempertahankan tradisi dan identitas desa sebagai pengrajin gerabah.
Kesimpulan : tetap menjaga warisan sejarah gerabah menjadi semacam gerakan, meski gerabah sudah lebih “berani” dalam kreasi, namun penrajin gerabah tetap menjaga karakter khasnya. Ciri itu jangan sampai hilang. Sejarah jangan sampai lepas.
Sumber :Kompas, Sabtu, 8 April 2017
Oleh : Frans Sartono

0 comments:

Post a Comment