15.4.17

Melawan Fenomena Bullying dengan Menumbuhkan Rasa Empati



Melawan Fenomena Bullying dengan Menumbuhkan Rasa Empati
Meissy Bella Sari
163104101143
Psikologi Umum II


Perilaku Bullying menunjukkan suatu fenomena yang “unik” dan “beda: ini sering diartikan sebagai bentuk pengulangan dari tindak agresi, intimidasi, perlawanan terhadap korban yang jauh lebih baik lemah dari bullies  (prilaku bullying) baik dari segi fisik, kekuatan sosial, kekuatan psikologis dan factor-faktor lain yang menghasilkan perbedaan kekuataan (power) (carney & merell, 2001 : Smith & Ananiadou (2003).
Oprinas dan Home (2006) menjelaskan bullying sebagai bagian dari perilaku agresif yang di karakteristikan dengan ketidakseimbangan kekuasaan (power), perilaku yang sengaja dan dilakukan berulang setiap waktu. Ketidakseimbangan kekuasaan antara ada gap atau perbedaan jarak memiliki kekuasaan  antara pelaku dan korban bullying. Pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkn korban.kekuasaan lebih besar yang dimiliki pelaku dapat diperoleh dari jabatan atau kedudukan yang lebih besar, popularitas, intelegensi atau postur tubuh pelaku yang lebih besar dari korban.
Alasan-alasan yang menyebabkan munculnya perilaku bullying yaitu dikarenakan karakteristik korban yang berbeda dengan pelaku, sikap korban yang menentang pelaku, dan tradisi atay budaya perilaku bullying di sekolah yang merupakan faktor lingkungan dalam memunculkan perilaku bullying. Bentuk-bentuk bullying antara lain seperti berikut :
  1. Bullying fisik, contohnya memukul, menjegal, mendorong, meninju, menghancurkan barang orang lain, mengancam secara fisik, memelototi, dan mencuri barang.
  2. Bullying psikologis, contohnya menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-olok, secara sengaja mengisolasi seseorang, mendorong orang lain untuk mengasingkan seseorang secara soial, dan menghancurkan reputasi seseorang.
  3. Bullying verbal, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan julukan, keluarga, kecacatan, dan ketidakmampuan.
Prilaku Bullying dan empati saling berhubungan, rendahnya rasa empati yang ada membuat individu menjadi tidak peduli dengan individu lain bahkan menjadi agresif, mencacih atau memukul korban yang mengeluh, ketidak mampuan pelaku untuk berempati menyebabkan mereka kurang mampu untuk melihat dari sudut pandang orang lain, mengenali perasaan orang lain dan menyesuaikan kepedulian yang tepat.
Perilaku empati ditandai dengan adanya aspek kognitif empati yang berkaitan dengan kemampuan untuk memahami perasaan dan perseptif orang lain, empati mengacu pada kemampuan kognitif untuk memahami kondisi mental dan emosi orang lain atau insight sosial (Eigsenberg, 2000). Oleh sebab itu perlu nya menumbuhkan rasa empati dari setiap individu yang bertujuan untuk memiliki rasa keperdulian yang tinggi serta bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, dan menjauhkan dari fenomena kejadian bullying yang sangat merugikan bagi korban yang mengalami.

Daftar Pustaka
Rachmah, Dewi Nur (2014). Empati pada Perilaku Bullying. Jurnal Ecopsy, 1(2), 51-58.
Al-ansley (2008). Anti-bullying Guidance for Schools. England: Crown
Slonje, R & Smith, P.K (2008). Cyberbullying: Another Main Type Of Bullying. Scandinavian journal of Psychology, 49, 147-154.

0 comments:

Post a Comment