20.4.17

KASUS PELECEHAN SEKSUAL SADISME DAN MASOKISME
DARI FILM PHATOLOGY

DELIANA VICRIA NURACHYANI
153104101096
PSIKOLOGI ABNORMAL

      Sadisme adalah kegemaran untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan kesakitan atau penderitaan psikologis (misalnya mempermalukan) pada orang lain.
Seorang sadisme akan memperoleh kepuasan seksual melalui jeritan dan teriakan pasangannya yang menderita karena siksaan fisik yang dilakukannya selama berhubungan seksual. Pada umumnya, penderita sadisme adalah laki-laki, sedangkan efek perilaku sadisame secara perlahan akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis pasangan perempuannya. Dalam kondisi kesakitan oleh pukulan pasangan laki-laki, sekaligus perempuan memperoleh kesempatan untuk mengalami kepuasan atau kenikmatan seksual. Pengulangan pengalaman tersebut akan mengembangkan perempuan pasangan laki-laki sadisme menderita masokisme.
Masokisme itu sendiri adalah kegemaran seseorang untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan dirinya sebagai subyek untuk disakiti atau dipermalukan. Kedua gangguan ini dapat ditemukan pada hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Banyak orang sadis yang menjalin hubungan dengan orang masokis demi memperoleh kepuasan seksual.
Sejumlah sadisme dan masokisme sering dimainkan dalam hubungan seksual yang sehat. Sebagai contoh, penggunaan saputangan sutra untuk
menirukan perbudakan dan ttamparan ringan pada saat melakukan hubungan seksual, sering dilakukan dengan persetujuan pasangannya. Tetapi sadisme dan masokisme sampai yang tingkat yang berat, dapat mengakibatkan luka. baik fisik maupun psikis, bahkan kematian.
Kasus


Dari film phatology, terdapat beberapa gangguan seksual, seperti sadisme, masokisme, homoseksual, lesbian, satyriasis, nymphomania. Tetapi dari sekian banyaknya kasus yang ada dalam film tersebut hanya mengambil satu kasus yaitu tentang sadisme yang menimbulkan masokisme.
Dalam film ini ada salah dua tokoh yang melakukan hubungan seksual dengan cara yang kurang wajar, dimana kedua tokoh tersebut melakukannya dengan cara menyakiti pasangannya satu sama lain. Kedua tokoh tersebut kami inisialkan menjadi Mr. P untuk laki-laki dan Ms.V untuk perempuan
 Dalam film tersebut Mr.P dan Ms. V adalah seorang ahli bedah dan pengotopsi mayat yang mana sebelum melakukan pengotopsian tersebut mereka membunuh orang terlebih dahulu setelah itu mereka otopsi bersama dengan sekumpulan dokter otopsi yang lain. Lalu setelah proses otopsi selesai mereka mengisap ganja kemudian setelah itu mereka melakukan koitus atau melakukan hubungan seksual.
Dalam melakukan koitus, Mr. P selalu menggunakan kekerasan terhadap Ms. V sehingga secara tidak langsung Ms. V berbuat seperti apa yang diperbuat oleh Mr. P. Yakni Mr. P memukul dan meludahi Ms.V, Ms.V pun membalas memukul, namun Ms. V terlebih dahulu menggunakan sarung tangan sutra dan memukul wajah Mr. P sehingga mulut Mr. P terluka dan mengeluarkan darah. Setelah itu Ms. V menjilati darah tersebut sambil menikmatinya.
Selain itu,  Ms. V menusuk-nusukkan jarum ke dada Mr. P dan juga menusuk puting susu Mr. P dengan jarum. Hal tersebut mereka lakukan selama mereka melakukan koitus sehingga mereka menikmati dan akhhirnya sampai pada puncak ejakulasi. Jika tidak melakukan hal tersebut mereka merasa kurang mencapai kepuasan.
Analisis Kasus berdasarkan Teori
Mr. P dan Mrs. V mengidap kelainan seksual, yaitu sadisme dan masokisme. Dimana ketika mereka melakukan koitus atau hubungan seksual, caranya tidak wajar tidak seperti melakukan hubungan yang sebagaimana mestinya. Yakni saling menyakiti satu sama lainnya, seperti saling tampar, saling pukul, meludahi, dan menusukan beberapa jarum ke tubuh pasangannya.
Disini Mr. P mengidap sadisme, yaitu  kegemaran untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan kesakitan atau penderitaan psikologis pada orang lain. Sedangkan Mrs. V otomatis mengidap masokisme, yaitu kegemaran seseorang untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan dirinya sebagai subyek untuk disakiti atau dipermalukan. Mereka melakukan hal tersebut kerena profesinya sebagai dokter bedah/forensik sehingga mereka terbawa suasana untuk melakukan sadisme untuk mempraktekannya dan juga sebab lainnya karena pengaruh ganja dan kepribadiannya yang keras
Kesimpulan
Berdasarkan analisis kasus yang telah di jelaskan di atas, Mr. P dan Ms. V mengidap kelainan seksual yaitu sadisme dan masokisme, dimana sadisme dan masokisme tersebut disebabkan karena kebiasaan/faktor lingkungan dan juga karena ia merasa dapat meningkatkan gairah seksualnya sehingga mampu mencapai orgasme dengan cara melakukan pukulan dan siksaan yang mereka lakukan itu. Hal tersebut susah untuk dihilangkan karena sudah terbiasanya mereka dengan saling menyakiti dalam melakukan koitus dan mereka akan merasa kurang puas dalam berhubungan jika hal tersebut tidak mereka lakukan.

Sumber :
Fausiah, fitri. Julianti, Widury. 2008. Psikologi Abnorma-Klinis Dewasa. Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia
Sawitri Supardi Sadarjoen, Dr. Psi. 2005. Bunga Rampai-Kasus Gangguan Psikoseksual. Bandung:PT. Refika Aditama.


0 comments:

Post a Comment