16.4.17

Hasil Kunjungan di RSJ Grhasia

MANUSIA DAN SELEKSI ALAM
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Umum II


Manusia diciptakan lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kehidupan tak pernah lepas dari ujian. Dan ujian memberikan manusia sebuah kualitas tersendiri ketika berhasil melewatinya. Seperti kata Socrates, “hidup yang tidak teruji adalah hidup tanpa makna”.
Setiap manusia memiliki kepribadian sendiri-sendiri. Namun, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang cenderung sama. Sedangkan dunia, memberi manusia peluang yang bebas untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dan tentu saja, dengan banyaknya manusia yang hidup, kecerdasan dan kekuatan manusia memiliki andil besar dalam mempertahankan kehidupannya. Ada yang terpenuhi, ada yang tidak. Seperti sebuah antitesis, ada menang, maka ada kalah.
Sepanjang eksistensi kita hingga hari ini, kita tentu pernah melihat –atau minimal tahu- dengan “orang dengan gangguan jiwa”. Atau, bila dalam masyarakat awam biasanya menyebutnya orang gila. Kita hidup berdampingan dengan mereka, dan beruntung, jumlah kita lebih dominan.
Kembali pada topik awal, manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tak selalu semuanya terpenuhi. Ada rintangan-rintangan yang perlu dihadapi, baik dari lingkungan maupun diri sendiri. Ketika lingkungan tak mendukung, individu masih akan tetap bertahan, salah satunya dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri. Namun, terlalu sering menggunakannya pun juga tak baik untuk kesehatan mental individu.
Kamis lalu, pada tanggal 13 April 2017, saya melakukan kunjungan ke sebuah rumah sakit jiwa, tepatnya RSJ Grhasia, Yogyakarta. Rumah sakit itu memberikan 2 entitas pelayanan yaitu rawat inap dan rawat jalan, dengan berbagai jenis pelayanan. Dalam ranah psikologi sendiri RSJ Grhasia memberikan berbagai layanan antara lain, pasien di poli psikologi, psikometri, rujukan psikiater, jiwa rawat inap, anak di klinik tumbuh kembang, visum, geriatri dan napza.
Dari kunjungan tersebut, saya banyak memperoleh pengalaman baru, diantaranya bertemu secara langsung dan berinteraksi dengan pasien waham, schizophrenia, melihat perilaku pasien gangguan halusinasi dan sebagainya. Ternyata mereka tak semenyeramkan dalam bayangan saya. Di sana saya melihat, pasien yang suka dengan musik. Dia dengan leluasa mengekspresikan kesenangannya dengan berjoget di depan televisi.
Saya berpikir, inilah kuasa Tuhan, dan inilah seleksi alam. Tak ada perasaan menghakimi karena kebodohan atau ketidakkuatan mental mereka. Saya percaya bahwa itu adalah bagian mereka. Hanya saja, saya kembali bertanya-tanya, stressor macam apa yang telah membuat mereka seperti itu? Dan apakah ego mereka tidak tersinggung dengan keberadaan mereka di sana? Apakah mereka memiliki harga diri atau tidak?  
Dari kunjungan dan observasi tersebut, tak ada perilaku mulia yang akan saya lakukan untuk mereka. Saya hanya akan memperbaiki diri saya sendiri dan cara mengelola stressor –memang egois, dan itu manusiawi. Setidaknya, hal itu dapat mencegah bertambahnya ODGJ bukan?
Dalam diri manusia terdapat kebutuhan-kebutuhan neurotis, dan Karen Horney meringkasnya menjadi 10 bentuk kebutuhan. Dan saya menyadari, bahwa dari kesepuluh kebutuhan tersebut, semua merupakan kebutuhan primer manusia. Hanya saja, jika kebutuhan itu diinginkan terlalu banyak sehingga seseorang menjadi tidak realistis lagi, maka akan menimbulkan halusiansi, ilusi, atau bahkan delusi. Ini bukan hal yang baik. Jadi, dengan kata lain, setiap individu memiliki potensi mengalami gangguan jiwa.

Persepsi-diri yang baik menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Karena dengan mengenal diri kita, kita akan tahu apa-apa yang perlu atau tidak untuk mendapat perhatian kita. Sehingga kita dapat mengatur kehidupan kita dengan baik.  

0 comments:

Post a Comment