20.4.17

Dukungan Keluarga & Sosial terhadap Kebermaknaan Hidup penderita HIV AIDS



Dukungan Keluarga & Sosial terhadap Kebermaknaan Hidup penderita HIV AIDS
Suci Indah Permata Sari
163104101137
Psikologi Sosial

                Gaya hidup modern yang berkembang  dikota-kota besar seperti kota Yogyakarta telah membawa remaja dan orang-orang dewasa menuju kehidupan yang konsumtif dan memasuki dan memasuki pergaulan bebas (free sexs) . Prilaku sek bebasyang semula dianggap tabu dan tidak bermoral , sekarang sudah dianggap biasa dan wajar. Prilaku sek bebas juga dapat menimbulkan berbagai gangguan diantaranya: kehamilan yang tidak diinginkan, meningkatnya risiko kanker rahim, selain itu juga meningkatkan jumlah penyakit menular seksual seperti sifilis, gonorhoe dan salah satunya HIV/AIDS (Djoerban, 1999).
                Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrom (HIV/AIDS) sudah menjadi penyakit yang endemik menyerang jutaan pendududk dunia. Hampir tiap negara HIV/AIDS  mwnjadi masalah nasional,yang perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Bukan saja pemerintah tetapi seluruh lapisan masyarakat termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memiliki perhatian terhadap masalah ini (Burnet,2014).
                Data WHO (2015),pada akhir tahun 2013 ditemukan hampir 78 juta orang telah terinfeksi virus HIV dan sekitar 39 juta orang telah meninggal karena HIV. Pada individu dengan HIV positif sistem imunitasnya akan mengalami penurunan dan membutuhkan waktu beberapa tahun hingga ditemukannya gejala tahap lanjut dan dinyatakan sebagai penderita HIV. Hal ini tergantung pada kondisi fisik dan psikologisnya. Menurut Schultz (1991) apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama maka dapat menimbulkan depresi yang mengarahkan pada kehampaan hidup serta mengembangkan hidup tidak bermakna.
                Bastaman (2007) mengungkapkan bahwa meskipun penghayatan hidup tanpa makna bukan merupakan suatu penyakit tetapi dalam keadaan insentif dan berlarut-larut tidak dapat diatasi maka kondisi tersebutakan dapat menyebabkan neurosis noogenik. Neurosis noogenik merupakan gangguan perasaan yang cukup menghambat prestasi dan penyesuain diri seseorang. Gangguan ini biasanya tampil dalam keluhan-keluhan serta bosan, hampa dan penuh keputusasaan, kehilangan minat dan inisiatif serta merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya sama sekali. Bahkan sikap acuh tak acuhnya akan berkembang dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya seakan-akan menghilang. Berdasarkan pendapat Bastaman maka apabila penderita HIV memiliki penghayatan hidup tanpa makna maka penderita HIV akan acuh tak acuh terhadap kesehatannya sehingga akan membuat penyakitnya semakin parah.
                Sebaliknya, orang yang mempunyai kebermaknaan hidup akan mempunyai tujuanhidup yang jelas.Orang yang memiliki tujuan yang jelas biasanya akan berjuang sekuat tenaga untuk dapat mencapai tujuan tersebut (Bastaman,2007). Bastaman (2007) juga mengungkapkan bahwa orang yang menghayati hidup bermakna ketika berada dalam situasi yang tidak menyenangkan atau mengalami penderitaan maka akan menghadapi dengan sikap tabah serta sadar bahwa senantiasa ada hikah yang:tersembunyi” dibalik penderitaan. Tindakan bunuh diri sebagai jalan keluar dari penderitaan tidak pernah terlintas. Pendapat ini menyiratkan bahwa orang yang menghayati hidup bermakna akan selalu memiliki haraan atau optimisme.Menurut Smet (1994) optimisme dapat mempengaruhi kesehatan. Orang yang memiliki optimisme ketika sakit sakit akan lebih cepat sembuh.
                Dukungan sosial diartikan sebagai tindakan menolong yang diproleh melalui hubungan sosial (Norris,1996). Nietzel dkk (1998) juga mengatakan bahwa dukungan sosial sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan individu, mengingat individu adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan satu dengan yang lain, Tersedianya dukungan sosial akan memberi pengalaman pada individu bahwa dirinya dicintai, dihargai, dan diperhatikan. Adanya perhatian dan dukungan dari orang lain akan menumbuhkan haraoan untuk hidup lebih lama, sekaligus dapat mengurangi kecemasan individu, Sekaligus dapat mengurangi kecemasan individu. Sebaliknya kurang atau tidak, tersedianya dukungan sosial akan menjadi individu merasa tidak  berharga dan terisolasi (Pearson dalam Toifur dan Prawitasari,2003).
                Dukungan sosial dapat berasal dari berbagai sumber antara lain, keluarga , pasangan, teman atau sahabat, konselor dan dokter atau paramedis (Meywrowitz,1980). House (Winnusbst dkk; Sarafino dalam Smet,1994) membedakan 4 jenis dukungan sosial yaitu:
1.       Dukungan emosional  yaitu mencangkup ungkapan  empati,kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan (misalnya umpan balik).
2.       Dukungan-dukungan informatif yaitu mencangkup pemberian nasehat, petunjuk-petunjuk, saran-saran atau umpan balik.
3.       Dukungan instrumental yaitu penyediaan sarana dan mempermudah tujuan yang ingin dicapai dalam bentuk materi, pemverian kesempatan dan peluang waktu.
4.       Dukungan penghargaan atau penilaian positif yaitu berungkapan hormat (penghargaan) positif untuuk orang itu, dorongan maju, pemberian penghargaan atas usaha yang telah dilakukkan, memberikan umpan balik mengenai hasil atau prestasi.
Dukungan keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan berbeda dalam berbagai tahap-tahap siklus kehidupan. Dukungan keluarga didefinisikan oleh Gottlieb (dalam Ika Silviasari,2014) yaitu informasi verbal, sasaran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek didalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau pengaruh pada tingkah laku penerimaannya.
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Anggota keluarga dipandang sebagai bagian yang tidak terpusatkan dalam lingkungan keluarga. Anggota keluargaa memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Friedman,2010).
Bentuk dukungan keluarga menurut Friedman (2010) antara :
1.       Dukungan Emosional
Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan dami untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Meliputi ungkap empati, kepedulian dan perhatianterhadap angota keluarga yang menderita HIV (misalnya: umpan balik, penegasan).
2.       Dukungan penghargaan
Keluarga bertindak sebagai sebuahbimbingan umpan balik. Membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas anggota. Terjadi lewat ungkapan hormat.
3.       Dukungan materi
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit, mencangkup bantuan langsung seperti dalam bentuk uang, peralatan, waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong dengan  dengan pekerjaan waktu mengalami stress.
4.       Dukungan informasi
Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disse minator (penyebar) informasi tentang dunia, mencangkup memberi nasihat, petunjukkan-petunjukkan, saran atau umpan balik.
                Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan,keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipaham dan dilakukan. Friedman (2010) membagi tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukkan, yaitu:
a.       Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga,maka apabila  menyadari adanya perubahan perlu segara dicatat kapan terjadinya.perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar  perubahannya.
b.      Pengalaman keputusan untuk melakukkan tindakan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga
c.       Memberikan keperawatan aggotanya yang skit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda.
d.      Mempertahankan suasana dirumah yangmenguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e.      Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan.
Pada dasarnya perasaan-perasaan tentang kepantasan hidup, perasaan bahwa hidupnya masih bermakna meskipun mengidap HIV/AIDS, tidak adanya pemikiran tentang bunuh diri merupakan komponen dari kebermaknaan hidup. Hal ini sesuai dengan pernyataan Crumbaugh dan Maholik (dalam Koeswara,1992) bahwa komponen-komponen dari kebermaknaan hidup, kepuasan hidup, kebebasan berkehendak, sikap terhadap kematian, pikiran tentang bunuh diri dan kepantasan hidup.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa dukungan sosial dapat mempengaruhi kebermaknaan hidup. Dukungan tidak hanya datang dari keluarga saja tetapi dari sosialnya juga sangat mempengaruhi penderita HIV/AIDS sehingga mereka tidak mendapatkan diskriminasi dari lingkungannya tetapi yang sangat berperan penting untuk psikologis penderita nya itu adalah dukungan keluarga bagaimana penerimaan keluarga terhadap penderita HIV/AIDS sehingga penderita HIV/AIDS tidak stres dan depresi sehingga penderita HIV/AIDS sangat menikmati hidup dan bisa memaknai kehidupannya secara positif. Dukungan sosial juga tidak hanya ditentukan berdasarkan banyaknya sumber dukungan tetapi lamanya pemberian dukungan tersebut.

Bastaman,M. 1997.LOGOTERAPI: Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Bastaman, H, D. 1996. Meraih Hidup Bermakna. Jakarta: Paramadina
Meyerowitz, B. E. 1980. Psychological correlative of breast cancer and it treatment. Psychological Bulletin.87 (1). 108-131.
Schultz, D. 1991. Growth Psychology : Model of the healthy Personality: New York: Dvam Mostrand.
Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Grasindo
Ika, Silvitasari, Hermawati, Martini, 2014. Efektivitas dukungan keluarga terhadap kepatuhan pengobatan ARV Pada ODHA di kelompok dukungan sebaya kartasura

0 comments:

Post a Comment