14.4.17

ARTIKEL: BEAUTY IS (NOT) A PAIN

BEAUTY IS (NOT) A PAIN
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Umum II

Cantik = stiletto, dress, lipstik...?
Dalam masyarakat kita, standar kecantikan cenderung menekankan pada kerampingan, dan secara khusus perempuan dinilai berdasarkan kecantikannya, yang kadang harus mengabaikan semua yang lain. Picik. Satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan pikiran seperti itu. Parahnya lagi, sudah menjadi mindset bahwa cantik itu langsing, ramping, dan tentu saja, berwajah menarik. Hanya sedikit orang yang memandang cantik dari sudut lain. Minoritas.
Dengan mindset yang sudah dibuat sedemikian rupa itu, membuat produk pelangsing laku keras. Bahkan banyak yang tidak menghiraukan efek, pun bahayanya. Mereka berlomba-lomba menjadi ‘cantik’. Tak sedikit juga yang melakukan diet keras.
Pada mulanya, hal ini berasal dari persepsi-diri. Pemahaman terhadap diri sendiri ini penting supaya kita dapat mengendalikan kehidupan kita sehari-hari (Dunning, 2005). Imam Al Ghazali juga menyebutkan, bahwa mengenal diri sendiri adalah kunci untuk mengenal Tuhan.
Pandangan masyarakat mengenai ‘cantik’ membuat orang yang merasa disqualified semakin merasa rendah –akibat dari pemahaman diri yang buruk. Karena memang pada dasarnya –menurut teori Maslow- setiap individu membutuhkan suatu penghargaan dari individu lain. Penghargaan-diri yang rendah merupakan salah satu faktor yang mendorong sebagian dari mereka untuk melakukan diet keras. Hingga gangguan makan seperti bulimia nervosa dan anorexia nervosa tak terhindarkan karena obsesi ‘cantik’ menurut mayoritas sudah menjadi menurut mereka juga.
Pandangan-pandangan seperti itulah yang menjadi penyumbang salah satu sebab kasus ‘kematian karena diet’. Bukankah itu sedikit keterlaluan, hanya demi mendapat gelar ‘cantik’ dari masyarakat, mereka lupa bahwa hidup tak melulu mengenai ‘cantik’ dan ‘kata orang’, bahkan hingga fakta paling penting bahwa nyawa itu tak bergaransi. Tak ada yang perlu dan pantas untuk siapa menghakimi siapa. Tak menyangkal bahwa setiap perempuan ingin tampil cantik. Namun semua kembali pada pilihan kita sendiri. Apakah akan tetap mengikuti doktrin sang mayoritas ataukah dapat bersahabat dan menerima minoritas.
Karen Horney (1939), percaya bahwa proyeksi secara ensensial tidak jauh berbeda dengan kecenderungan untuk mengasumsikan secara naif bahwa perasaan atau reaksi orang lain sama dengan apa yang kita lakukan. Kalau kita simpulkan, sebenarnya orang yang merasa disqualified dari standar ‘cantik’ hanya berkutat pada persepsi dirinya yang buruk saja. Tentu saja perilaku semacam ini perlu “disembuhkan”. 
Merawat diri adalah hal yang wajar dan memang harus. Namun, bila terobsesi, itu sudah masuk kategori tak wajar. Cantik memang mahal, namun bukan berarti harus membeli produk-produk ternama untuk perawatan. Cantik itu disiplin, namun bukan berarti menyiksa diri. Dan cantik itu sederhana, kita menghargai diri kita dan bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya, maka kita tak perlu berurusan dengan hal-hal yang sia-sia.
Orang menghargai diri kita karena kita menghargai diri kita.  

Daftar pustaka
Boeree. C. George. (2013). General Psychology: Psikologi Kepribadian, Persepsi, Kognisi, Emosi, & Perilaku. Jogjakarta: Prismasophie. 
Boeree, C. George. (2013). Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Jogjakarta: Prismasophie.
Rahman, Agus Abdul. (2013). Psikologi Sosial: Integrasi Pengetahuan Wahyu dan Pengetahuan Empirik. Jakarta: Rajawali Pers. 

0 comments:

Post a Comment