22.4.17

ARTIKEL : TRANSMISI EMPATI ANTAR GENERASI

SITI HANIFAH 
(16.310.410.1151)
Psikologi Sosial


          Berbagai cara diakukan untuk menurunkan/mewariskan nilai empati kepada anak , ini dapat disebut dengan sosialisasi. Transmisi bukanlah sesuatu yang berbeda dari sosialisasi namun juga tidak sama. Sosialisasi lebih sering membahas perihal cara yang digunakan orang tua untuk menurunkan nilai kepada anak. Cara yang digunakan orang tua dapat melalui instruksi langsung, nasehat moral atau modeling. Adapun  transmisi antar generasi lebih cenderung membicarakan masalah penurunan nilai itu sendiri, tanpa membatasi teknik yang digunakan. Transmisi antar generasi lebih banyak berbicara mengenai nilai yang diturunkan dan hasil penurunan nilai tersebut (Trommsdorf,2009).
        Jika sebuah keluarga memilih untuk menurunkan nilai empati dengan nasehat moral, maka nasehat moral dipandang sebagai sosialisasi penurunan nilai empati. Namun demikian, penelitian-peneltian mengani transmisi haruslah diarahkan untuk memilih apakah nilai tersebut berhasil sampai kepada anak? Dan hal-hal apa yang mempengaruhi keberhasilan transmisi empati kepada anak?
      Tromsmdorf,2009 menawarkan suatu model ekonomi budaya yang dapat mempengaruhi transmisi budaya. Ia menjelaskan bahwa model tersebut berdiri berdasarkan asumsi bahwa : pertama, orang yag terlibat didalam proses transmisi cukup reliable. Kepercayaan, kompetensi dan pengetahuan budaya merupakan hal relevan yang harus dipertimbangkan. Dalam konteks ini orangtua memegang peranan yang sangat penting. Dalam transmisi empati. Namun kemudian bagaimana dengan umur anak yang sedang diasuh? Pertimbanagan dengan cara penerimaan nilai kepada seseorang akan berbeda ketika masih berada pada masa kanak-kanak dengan ketika ia beranjak remaja. Asumsi kedua, hubungan antara orang-orang yang terlibat dalam proses transmisi akan mempengaruhi proses dan hasil. Hal ini juga berkaitan dengan kelancaran dan kemampuan untuk menyaring informasi. Hubungan ini dapat dilihat dari kedekatan emosi, kewajiban normative, kondisi harmonis dan konflik, struktur keluarga, serta sifat saling tergantung dan kemandirian.
          
            Ketika seorang ayah memiliki konflik, sekecil apapun dengan anaknya biasanya seorang anak sudah enggan untuk mendengarkan nasihat ayahnya tadi. Jangankan nasehat orangtua, ketika berkonflik sesama teman dekatpun, komunikasi tidak selancar sebelum memiliki  konflik. Oleh karenanya komunikasi yang sangat lancar sangat diperlukan untuk menciptakan kedekatan emosi yang positif antara mahasiswa yang kuliah diluar kota asalnya. Asumsi ketiga, transmisi mencakup kontens. Transmisi konten mensyaratkan adanya suatu yang ditransmisikan, atau obyek yang ditransmisikan. Konten ditransmisikan dapat berupa perilaku agresif, perilaku altruistik, empati, sikap, aspirasi, bahasa, mapun dialeg. Asumsi keempat konteks budaya. Pengaruh konteks budaya juga akan mempengaruhi keseluruhan faktor yang telah dijelaskan sebelumnya tadi. Konteks budaya ini memperkuat kontens yang seharusnya disapaikan kepada anak sebagai transmisi empati antar generasi. 
         Keistimewaan kultur jawa yaitu menjaga keharmonisan sosial, menjadi sangat penting bagi pembentukan karakter anak. Namun demikian, kenyataannya yang ada saat ini bullying yang sudah membudaya tetap menjadi momok diberbagai kota salah satunya adalah kota Yogyakarta. Budaya jawa seakan-akan dianggap tak ubahnya sebagai satu trand yang dipelajari, namun tidak diterapkan. Hal ini dikarenakan keadaan keluarga saat ini yang diharapkan menjadi kendaraan bagi transmisi nilai empati, kawalah dalam menahan derasnya arus informasi yang datang untuk mengubah nilai generasi muda. Penggalakan kembali pentingnya pegembangan nilai-nilai budaya jawa dalam keluarga seharusnya segera dilakukan. Dengan tumbuhnya kembali budaya jawa didalam keluarga, empati anak akan semakin meningkat dan secara otomatis akan menurunkan intensitas tindakan bullying yang makin membudaya tersebut.
Intinya peran ayah dan ibulah yang sangat berpengaruh pada pembentukan empati sang anak maka orangtua sendiri hendaknya menjadi model yang nyata, bagi buah hatinya.  

Referensi :

Febriani, Arum. (2012). Psikologi untuk Kesejahteraan Masyarakat. Pustaka Pelajar:Yogyakarta.

0 comments:

Post a Comment