22.4.17

ARTIKEL : KESEHATAN MENTAL WARGA KOTA

SITI HANIFAH
(16.310.410.1151)
Psikologi Sosial

             Kesehatan mental tidak hanya berhubungan dengan karekteristik individu dan rumah tangga, tetapi juga dengan fitur-fitur sosial, konteks, dan ekologi dimana individu berada. Kota memiliki bentuk, kepadatan, keragaman, dan pola interaksi sosial yang unik. Dan sebuah tempat memiliki relevansi tertentu bagi warganya terkait dengan kesehatan mental warganya. Wilayah perkotaan ditandai dengan kepadatan penduduk yang tidak proporsional dan secara sosial memiliki banyak masalah (konsentrasi warga miskin, tuna wisma, etnis minoritas, pendatang, dan sebagainya yang mempunyai kebutuhan mental yang beragam). Kesehatan kota telah banyak dibahas dalam bidang kesehatan masyarakat dan sosiologi, namun perhatian yang diberikan bidang psikologi masih kurang memadai. Teori-teori psikososial dalam kerangka ekologi kota sebenarnya bisa membantu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kualitas ruang lingkungan yang berbeda mempengaruhi kesehatan mental, sikap, dan perilaku warga (Fitzpatrick dan Lagory, 2003).
             Menurut Krieger dkk (2003), sebuah daerah miskin di wilayah perkotaan dapat dilihat dalam dua cara. Yang pertama konteks, yaitu warga di daerah miskin memiliki kesehatan fisik dan mental yang buruk karena konsentrasi kemiskinan menciptakan interaksi-interaksi yang membahayakan. Yang kedua kondisi lingkungan, yaitu daerah miskin yang memiliki sedikit fasilitas umum yang baik dan biasanya berdekatan dengan lokasi industry sehingga memberikan dampak negative bagi kesehatan.
        Oleh sebab itu, kepadatan penduduk yang tinggi, populasi kendaraan, dan industry yang menciptakan polusi udara, air, dan suara di perkotaan perlu mendapat perhatian khusus. Selain itu, kemiskinan meningakatkan setres dan perasaan putus asa. Studi menunjukkan bahwa status sosial ekonomi (SES) adalah predicator utama dari berbagai masalah mental dengan korelasi yang negative, yaitu semakin rendah SES maka akan semakin tinggi masalah mentalnya (Williams dan Collins, 2002). Dengan menggunakan model ekologi, Saegert dan Evans (2003) menjelaskan bagaimana kemiskinan, pasar perumahan dan kebijakan perumahan menarik warga miskin ke dalam sebuah ekologi kota penuh resiko yang mempengaruhi kesehatan fisik secara langsung (misalnya polusi dan limbah) maupun tidak langsung melaui stress yang dihasilkan lingkungan seperti itu dengan sumber daya yang sangat rendah untuk mengatasinya. Studi ini juga menunjukkan bahwa masalah kematian bayidan tindak kekerasan di wilayah perkotaan sama hebatnya dengan isu masalah sosial dan diskriminasi ras.

       Keluarga-keluarga miskin mengalami penurunan kualitas, kekacauan lingkungan serta ketidaklayakan hidup dan beberapa studi telah melihat efek kumulatif pada kondisi tersebut. Evans dan Kantrowitz (2002) menjelaskan bahwa status kesehatan warga miskin dapat dijelaskan dari kondisi lingkungan yang buruk. Ellen, Mijanovich, dan Dilman (2001) menyimpulkan bahwa kualitas lingkungan yang buruk menurunkan tingkat kesehatan mental melalui dua tahap, yaitu a) secara langsung akan mempengaruhi perilaku, sikap, dan pemanfaatan layanan kesehatan, dan b) penglumrahan yang secara jangka panjang berhubungan dengan akumulasi stress dan sumber daya lingkungan yang terbatas.
            Kondisi di atas akan menciptakan generasi yang secara mental berkembang tidak sehat karena terbuang dan tersingkir sehingga tidak lagi punya cita-cita dan akhirnya memiliki pandangan yang negative terhadap hidup. Di Jakarta, kemiskinan bahkan memaksa orang tua, (khususnya kaum pendatang) harus mempekerjakan anak-anak mereka pada usia sangat muda di sektor-sektor informal dan kondisinya semakin parah ketika anak-anak tersebut dieksploitasi menjadi pengemis hanya untuk sekedar bertahan hidup. Anak-anak seperti ini akan mengalami gangguan kepribadian akibat perkembangan mental yang tidak sehat. Sebagian menjadi agresif, hipervigilan (terlalu curiga tak beralasan), dan tidak lagi mengindahkan moral dan etika yang akhirnya menjadi bibit-bibit kriminalitas, sebagian lagi mengalami rendah diri (inferior complex) kronis yang membuat mereka murung dan putus asa serta kehilangan kegembiraan masa anak-anak yang sangat dibutuhkan dalam membangun konsep diri dan nilai-nilai hidup. Ironisnya kota seakan tidak peduli sehingga jumlah pengemis cilik pun semakin banyak. Untuk mengatasi isu ini, ahli psikologi dapat memiliki peran penting untuk bekerja sama dengan professional lainnya dalam meningkatkan kesehatan warga kota.
          Untuk itu kita sebagai warga Indonesia hendaknya saling kasih mengkasihi tidak pandang orang miskin atau orang kaya mereka sama-sama mahluk ciptaan Tuhan yang berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

Referensi :
Halim, Deddy Kurniawan. (2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

   

0 comments:

Post a Comment