27.4.17

ARTIKEL RSJ : MENGAMUK DAN SERING BICARA SENDIRI



MENGAMUK DAN SERING BICARA SENDIRI
Nur Roy Tri Rahayu
163104101129
Psikologi Umum II
 Bicara sendiri antara lain karna merasa sepi, tidak puas, atau sebuah kebiasaan dimasa lalu dan adanya gangguan psikologis. Ada juga yang menganggap berbicara dengan dirinya sendiri adalah normal, karna itulah hal seperti itu tidak dapat diterima secara bebas. Orang-orang yang sering melakukan percakapan imajiner tersebut cenderung merasa canggung dengan kebiasaannya. Namun, tidak semua orang yang suka berbicara sendiri mengalami gangguan mental. Berbicara dengan dirinya sendiri, mungkin karna beberapa kondisi dimana seseorang merasa perlu untuk membicarakan suatu masalah, hanya dengan dirinya.
Mengamuk atau gaduh gelisah adalah suatu keadaan peningkatan aktifitas mental dan motorik seseorang sedemikian rupa sehinggasukar dikendalikan. Suara-suara halusinasi yang mengancam seseorang atau member perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi mendengung, atau tawa.
Seperti yang dikemukakan salah satu tokoh psikologi yaitu Sigmond Freud mengatakan, adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pertanyaan bahwa perilaku manusia disadari pada hasrat seksualitas (eros) yang pada awalny dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya.
Seperti kasus yang dialami oleh K/21th yang mengalami bisikan atau suara yang tidak ada, K sering dibisiki untuk memukuli seseorang tanpa K sadari. K merasa bisakkan itu muncul dari lingkungan sekitar yaitu keluarga atau masyarakat yang menyuruh untuk memukuli seseorang, K merasa akan dibunuh bila tidak menuruti suara tersebut. Sempat ada kejadian ditempat kerja K waktu itu dia dibisiki untuk memukuli teman kerjanya, K memekuli temannya dan setelah itu K merasa bersalah, menyesal setelah memukuli teman kerjanya ingin meminta maaf namun K merasa bahwa dirinya tidak bersalah. K juga sering berbica sendiri dan kadang berteriak, K merasa puas setelah berteriak. Ternyata K juga memiliki kerabat yang mengalami hal tersebut.
Kesimpulan : sebaiknya bila tidak terlalu berbahaya untuk orang lain individu yang mengalami hal tersebut berada disekelilingi keluarga karna yang dibutuhkan oleh individu yang mengalami hal seperti itu kasih sayang, dukungan dan pengertian dari keluarga. Selagi keluarga masih mau mengurus, menerima dan membantu untuk memulihkan individu seperti semula maka keiinginan individu untuk sembuh semakin besar. Namun jika sudah tidak bisa dilakukan apa-apa bisa dibawa kerehabilitas namun keluarga tetap menyayangi dan sering berkunjung agar individu tidak merasa sendiri atau dibuang oleh keluarga sendiri.

Daftar Pustaka :
Boeree. C. George (2013). General psychology: psikologi Kepribadian, Persepsi kognitif, emosi & prilaku, Jogjakarta

0 comments:

Post a Comment