24.4.17

Artikel : Perilaku Agresif Antara Remaja dari Keluarga Bercerai Dengan Keluarga Utuh




Perilaku Agresif Antara Remaja dari Keluarga Bercerai Dengan Keluarga Utuh

Meissy Bella Sari
163104101143
Psikologi Sosial



 Masa remaja adalah suatu masa dimana remaja berada dalam keadaan labil dan emosional (Gunarsa, 2000). Menurut Kartono (1995), masa remaja khususnya pada masa pubescens (berusia 12-17 tahun) umumnya mengalami suatu krisis. Bila remaja merasa tidak bahagia dipenuhi banyak konflik batin, baik konflik yang berasal dari dalam dirinya, pergaulannya maupun keluarganya. Dalam kondisi seperti itu remaja akan mengalami frustrasi dan akan menjadi sangat agresif (Kartono, 1998).  
Tujuan utama dari agresi adalah pelampiasan perasaan marah, kecewa, tegang, dan mengatasi suatu rintangan atau halangan yang dihadapinya (Gunarsa, 2000). Perilaku agresi remaja dapat disalurkan dalam perbuatan, akan tetapi bila tingkah laku tersebut dihalangi maka akan tersalur melalui kata-kata. Agresivitas yang disalurkan dalam bentuk perbuatan ialah berkelahi, menendang, memukul, menyerang, dan merusak benda milik orang lain; sedangkan agresi remaja yang di salurkan melalui kata-kata ialah sering megeluarkan kata-kata kotor, makian, menghina, mengejek, dan berteriak yang tidak terkendali (Sadardjoen, 2002; Turner & Helms, 1995).
Papalia, Olds, dan Fieldman (2001) mengatakan bahwa bentuk nyata perilaku agresif pada remaja antara lain diwujudkan dengan mencuri, merampok, menggunakan obat-obatan terlarang, dan berkelahi. Kecenderungan berperilaku agresif ini disebabkan oleh karena masih labilnya jiwa Timbulnya perilaku agresif pada remaja bisa terjadi karena berbagai faktor, faktor keluarga merupakan salah satu aspek penting yang disinyalir terkait dengan pola perilaku agresif remaja. Dari beberapa kajian mengenai perilaku agresif remaja tumbuh dan dibesarkan pada keluarga bercerai dan keluarga utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan perilaku agresif antara remaja yang berasal dari keluarga bercerai dengan keluarga yang utuh.
Remaja yang berasal dari keluarga bercerai lebih agresif dibandingkan dengan remaja dari keluarga utuh. Ditinjau dari segi dimensi agresivitas, remaja yang berasal dari keluarga bercerai juga lebih agresif secara fisik maupun verbal.
 Agresivitas di kalangan remaja cenderung meningkat dan meresahkan warga masyarakat sekitarnya (Saad, 2003). Sebagai contoh perkelahian antar pelajar yang dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Pelaku-pelaku tindakan aksi tersebut bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa tingkat SLTP (Mu’tadin, 2002). Menurut Kamus Menurut Kamus Lengkap Psikologi (1968/ 1995), agresivitas adalah suatu kecenderungan habitual (yang dibiasakan) untuk memamerkan permusuhan dan merupakan pernyataan diri secara tegas, penonjolan diri, penuntutan atau pemaksaan diri dan merupakan suatu dominasi sosial, kekuasaan sosial, khususnya yang diterapkan secara ekstrim. Remaja yang berasal dari keluarga bercerai ternyata lebih agresif bila dibandingkan dengan remaja dari keluarga utuh. Perceraian di antara orangtua ternyata membawa dampak yang negatif bagi anak, terutama dalam berperilaku.

Daftar Pustaka

Nisfiannoor & Yulianti Eka (2005),  Perbandingan Perilaku Agresif Antara Remaja Yang Berasal Dari Keluarga Bercerai Dengan Keluarga Utuh,, Jurnal Psikologi, 3(1), 1-18.

Sarwono, S. W., “Psikologi sosial: Individu dan teori-teori psikologi sosial”, Balai Pustaka, Jakarta, 1997.

0 comments:

Post a Comment