22.4.17

Artikel : Prasangka sosial




ARTIKEL : PRASANGKA SOSIAL 

Oleh :

NIKEN LARASATI
16.310.410.1135
PSIKOLOGI SOSIAL I

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa dipisahkan dari suatu hal yang disebut interaksi sosial. Hal ini dapat terjadi karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Di antara banyak hal yang memberikan makna di dalam kehidupan manusia, orang lain merupakan suatu hal yang terlihat sepele namun justru merupakan yang paling banyak berperan dalam hidup kita. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan pasti membutuhkan manusia lainnya dalam kehidupannya. Suatu ketergantungan yang mewarnai kehidupan manusia inilah yang kemudian disebut sebagai interaksi sosial.
Dalam berinteraksi sosial di kehidupan sehari-hari tentulah kita dihadapkan pada keberagaman aspek-aspek sosial dimana didalamnya mencakup pola kebiasaan, pemahaman kepribadian, dan pengalaman manusia. Pemahaman terhadap kepribadian orang lain bisa menjadi salah satu komponen penting yang diperlukan saat bergaul atau menjalin relasi dengan orang-orang di sekitar. Relasi merupakan hal yang penting dalam bersosialisasi karena kelak di masa mendatang atau di saat dibutuhkan sedikit banyak kita akan terbantu dengan keberadaan para relasi tersebut.
Sebagai contoh misalnya adalah ekspresi emosional wajah. Sebagai manusia kita cenderung memberi penilaian pada seseorang melalui ekspresi wajah. Secara sederhana ekspresi senyum atau tertawa biasa diartikan sebagai suatu kegembiraan, dan ekspresi cemberut atau murung biasa diartikan sebagai suatu kesedihan. Namun hal ini tidak berlaku mutlak, dan disinilah peran psikologi sosial dalam menganalisis suatu tanda-tanda personal dan tanda-tanda sosial yang ada di masyarakat.
Sering pula dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan suatu prasangka terhadap suatu hal atau terhadap orang lain. Kita sering sekali memberikan penilaian secara singkat dan tanpa dasar terhadap suatu hal yang nampak di sekitar kita. Hal ini yang menjadikan pemahaman sementara kita terhadap suatu hal tersebut menjadi dugaan awal atau penilaian awal dan berpengaruh besar dalam pemikiran kita. Namun sebenarnya apa itu prasangka ?. Menurut Jones (dalam Liliweri, 2005) prasangka adalah sikap antipati yang berlandaskan pada cara menggeneralisasi yang salah dan tidak fleksibel. Kesalahan itu mungkin saja diungkapkan secara langsung kepada orang yang menjadi anggota kelompok tertentu. Prasangka dibatasi sebagai sikap negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok atau individu anggotanya (Worchel, dkk, 2000). Prasangka merupakan sikap negatif yang diarahkan kepada seseorang atas dasar perbandingan dengan kelompok sendiri.
Dari definisi prasangka menurut jones tersebut dapat kita lihat bahwa pemikiran Jones tersebut mengarah pada pengertian prasangka dari sudut pandang negatif. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa di masyarakat kita dan mungkin di dunia, prasangka sering dianalogikan dengan hal-hal yang cenderung negatif. Namun sebenarnya prasangka tak selalu bersifat negatif, prasangka juga bisa bersifat positif.
Seperti yang diungkapkan Johnson (dalam Liliweri, 2005) bahwa prasangka adalah sikap positif atau negatif berdasarkan keyakinan stereotip kita tentang anggota dari kelompok tertentu . seperti halnya sikap, prasangka meliputi keyakinan untuk menggambarkan jenis pembedaan terhadap orang lain sesuai dengan peringkat nilai yang kita berikan.
Dari ketiga definisi diatas dapat dipahami bahwa prasangka tidak hanya bersifat negatif saja, namun prasangka juga bisa bersifat positif. Namun yang sering terjadi di masyarakat khususnya di Indonesia, makna prasangka telah bergeser dari makna umum menuju ke arah makna khusus yang mengkhususkan pada sifat negatif. Padahal pemahaman tersebut kurang tepat.
Secara umum kita dapat melihat bahwa prasangka mengandung tiga tipe yaitu afektif, kognitif, dan behavioral. Afektif berkaitan dengan perasaan yang negatif. Sedangkan kognitif berkaitan dengan pemikiran tentang sebuah stereotip. Maksudnya adalah kognitif lebih menjurus kepada pemikiran-pemikiran singkat dan dangkal akan suatu gejala-gejala yang ada. Kemudian yang terakhir adalah behavioral. Behavioral disini dimaksudkan pada kegiatan-kegiatan atau pola perilaku yang biasa dilakukan masyarakat dan bisa jadi telah menjadi suatu kebiasaan dalam masyarakat tersebut.

SUMBER :
Hudaniah Tri Dayakisni. 2003. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press
Gerungan. 1996. Psikologi sosial. Bandung: PT ERESCO

0 comments:

Post a Comment