14.4.17

ARTIKEL: OBSERVASI DAN WAWANCARA PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJ GRHASIA YOGYAKARTA

Observasi dan Wawancara Pasien Skizofrenia di RSJ Grhasia Yogyakarta
Wahyu Relisa Ningrum
15.310.410.1087
Psikologi Abnormal


         Kamis, 13 April 2017, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 mengadakan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Kami didampingi oleh dosen-dosen kami yaitu, Bapak Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A dan Bapak Drs. Indra Wahyudi, M.Si. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang Psikologi Abnormal terutama untuk mengetahui gejala-gejala, ciri-ciri, dan cara penanganan pada gangguan-gangguan yang dialami oleh pasien di RSJ Grhasia. Kegiatan dalam kunjungan tersebut dimulai dengan sambutan dari Bapak Wahyu selaku dosen Fakultas Psikologi UP45 Yogyakarta. Selanjutnya pengenalan RSJ Grhasia oleh Ibu Dra. S. Retna Pangesti, M.Si selaku Kepala Seksi Litbang RSJ Grhasia dan pemaparan materi oleh Ibu Anisa Maimunah, M.Psi., Psikolog selaku Psikolog di RSJ Grhasia. 
        Acara selanjutnya yaitu kunjungan ke bangsal-bangsal yang ada di RSJ Ghrasia yang dipandu oleh Bapak Handoko. Kunjungan ke bangsal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa dapat melakukan observasi dan wawancara secara langsung kepada pasien yang bisa diajak komunikasi, perawat, coass dan pendamping dari RSJ Grhasia. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui apakah teori yang didapat dari kampus sama dengan kenyataan yang ada di lapangan. Kebetulan tim mahasiswa yang  di Wisma “NN” melakukan observasi dan wawancara terhadap pasien yang mengalami gangguan skizofrenia yang dikhususkan pada pasien skizofrenia paranoia.
   Skizofrenia paranoia ialah gangguan skizofrenia dimana penderita diliputi macam-macam delusi dan halusinasi yang terus menerus berganti coraknya dan tidak teratur. Biasanya pasien terlihat lebih “waras” dan tidak terlihat aneh jika dibandingkan dengan pasien skizofrenia jenis lainnya. (Kartono, 1989).
     Synthom-synthom skizofrenia adalah adanya gangguan motorik yaitu retardasi jasmani dan lamban gerak-geraknya, adanya tingkah laku yang stereotipis, ada gerak-gerak motorik yang lamban, tidak teratur, dan kaku atau tingkah laku yang aneh-aneh atau eksentrik. Synthom fisiknya meliputi ingatan dan intelek sangat mundur, mengalami regresi dan degenerasi mental, menjadi jorok dan kotor sekali, mengalami halusinasi, delusi yang salah dan sering mengarang kata-kata baru tanpa mengandung arti sesuatupun, emosional, acuh tak acuh, apatis, dan terjadi breakdown mental secara total (Kartono, 1989).
    Wisma “NN” memiliki pasien skizofrenia paranoia sebanyak 7 orang dari total pasien 26 orang. Tim kami berhasil mewawancarai 3 orang pasien. Salah satunya berinisial TN, umur  65 tahun, laki-laki, baru masuk 4 hari sebelum kunjungan ini diadakan. Pasien berada di RSJ Grhasia karena mengalami waham suara, delusi dan halusinasi. Pasien juga suka marah-marah dan membanting barang-barang yang ada di rumah sebelum akhirnya dibawa ke RSJ Grhasia. Di RSJ tersebut pasien sering menyendiri di dalam ruangan. Hal ini menunjukkan gejala-gejala yang sama yang ada d PPDGJ. Masa penyembuhan pasien tersebut sudah dibantu oleh obat selain pendampingan secara psikologis, salah satu dengan mengajak berkomunikasi, senam, siraman rohani dan ikut dalam kelas ketrampilan. 
     Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk melatih pasien agar bisa bersosialisasi dengan pasien yang lain yang berada di RSJ Grhasia. Apabila pasien skizofrenia dinyatakan sembuh dan boleh bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, maka diharuskan pasien untuk tidak putus obat. Psikiatri akan mengurangi dosis obat sedikit demi sedikit sampai pasien tersebut siap untuk lepas obat. 
    Acara kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia diharapkan bisa menambah pengetahuan mahasiswa tentang ilmu psikologi yang diterapkan dalam lingkungan RSJ. 

Daftar Pustaka:

Kartono, Kartini. (1989). Psikologi Abnormal Dan Abnormalitas Seksual. Penerbit Mandar Maju. Bandung. 167-171.

0 comments:

Post a Comment