15.4.17

ARTIKEL : MENGAPA SEMAKIN BANYAK PENDERITA SKIZOFRENIA, PADAHAL MANUSIA LEBIH BIJAKSANA DARIPADA INTELEKTUALNYA

ARTIKEL : MENGAPA SEMAKIN BANYAK PENDERITA SKIZOFRENIA, PADAHAL MANUSIA LEBIH BIJAKSANA DARIPADA INTELEKTUALNYA
IRNANINGSIH
15 310 410 1089
FAKULTAS PSIKOLOGI 
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Manusia adalah unik.Manusia hidup dalam dunianya sendiri,dalam identitas dirinya sendiri.Manusia juga berarti menghadapi kesendirian, manusia lahir kedunia  sendirian,dan matipun sendirian pula. Meskipun sendirian dan mempertahankan keunikannya, namun dia juga memiliki kapasitas untuk bergerak dari dirinya sendiri sebagai pusat dalam berpartisipasi dengan orang lain yang akan memberikan makna bagi kehidupan.Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi, depersonalisasi, alienasi, dan kesepian bahkan Skizofrenia.
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) yang dipublikasikan pada tahun 2014, jumlah penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan mencapai 400 ribu orang. Data pada tahun 2014 ini menunjukkan bahwa ada kenaikan jumlah penderita Skizofrenia dari tahun sebelumnya. Di Indonesia, akses terhadap pengobatan dan pelayanan kesehatan jiwa masih belum memadai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di pelosok-pelosok desa, kerap memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan tindakan yang tidak layak seperti pemasungan. 
Manusia lebih bijaksana daripada intelektualnya,penyataan ini erat hubungannya dengan apa yang di katakan rogers bahwa ia berkeyakinan manusia lebih bijaksana daripada intelektualnya,lebih bijaksana daripada pikiran sadarnya.Apabila manusia berfungsi dengan baik dan tidak defensif, maka ia mempercayai seluruh reaksi organismenya yang sering mengakibatkan penilaian-penilaian lebih baik, bahkan lebih intuitif daripada pikiran sadarnya.

Sumber : Semiun Yustinus, OFM (2006) .Penyesuaian Diri Dan Kesehatan Mental. Kanisius,                 Yogyakarta.
 www.alodoktor.com/skizofrenia


0 comments:

Post a Comment