22.4.17

Artikel: Krisis Memanusiakan Manusia

KRISIS MEMANUSIAKAN MANUSIA DAN
MANTAN TERORIS YANG KEMBALI KE “HABITAT LAMA”
Ana Istiqomah (16.310.410.1126)
Psikologi Sosial 1

Dalam media massa, baik koran maupun yang lainnya, tak jarang kita mendapati berita mengenai terorisme yang terjadi di suatu daerah. Kekejaman yang tergambar dalam berita tersebut kadang membuat kita bergidik ngeri. Bagaimana bisa, seorang manusia melakukan hal yang begitu tega dan kejam seperti itu terhadap manusia lain? Namun, jarang ada yang bertanya apa sebab mereka melakukan hal itu. Terlebih, mereka yang sudah pernah merasakan dinginnya lantai penjara dan kekejaman yang mungkin saja terjadi di dalamnya. Mengapa bisa tidak kapok dan malah kembali pada “habitat lama” mereka?
Terorisme menurut KBBI, ialah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Hukuman penjara adalah salah satu hukuman yang dijatuhkan pada narapidana terorisme ini selain hukuman mati.
Penjara adalah institusi negara yang mencabut secara paksa sebagian hak narapidana terorisme sebagai individu yang merdeka. Mereka menjadi pesakitan dan didudukkan di lantai terbawah dalam piramida sosial masyarakat. Hukum rimba yang bekerja dalam penjara membuat mereka merasakan diskriminasi. Bila mereka masuk golongan yang lemah, maka mereka akan ditindas dan sebaliknya.
Setelah keluar dari penjara, tak banyak masyarakat yang mau menerima mereka. Ini merupakan salah satu bentuk diskriminasi lain yang mereka dapatkan. Self-esteem, self-worth ­dan well-being yang rendah membuat mereka merasa terjepit. Ingatlah bahwa mereka tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan ketiga hal tersebut. Keadaan seperti inilah yang mendorong sebagian dari mereka untuk kembali pada “habitat lama” mereka. Karena di sana mereka merasa diakui, dihargai dan mendapat dukungan baik secara sosial maupun finansial, bahkan malah bisa menjadi pimpinan.
Sesuai dengan teori Karen Horney (1939) “manusia tidak hanya diatur oleh prinsip kesenangan saja, tetapi oleh dua prinsip, yaitu keamanan dan kepuasan.” Masalah kejiwaan bukan merupakan akibat dari insting melainkan akibat dari “usaha seseorang mencari jalan agar dapat melalui jalan yang penuh rintangan.” Keadaan tersebut diciptakan oleh lingkungan sekitar dan bukan oleh insting atau anatomi.
Manusia diciptakan dengan kemampuan id, ego, dan super-ego untuk menghadapi masalah-masalah mereka dan menentukan suatu pilihan. Namun, tak hanya dari faktor internal saja sebuah keputusan diambil, faktor eksternal pun memiliki andil didalamnya. Ketika masyarakat tak memberikan apa yang dibutuhkannya, sementara “habitat lama” lebih menjanjikan, maka pilihan untuk kembali pun menjadi pertimbangan teratas mereka.
Contoh kasus, seperti yang terjadi pada narapidana Juhanda (pelaku pengeboman Gereja di Samarinda) yang kembali ke jaringan lamanya. Sebelumnya ia sudah pernah mendekam di penjara setelah melakukan pengeboman di Serpong (2011). Hal ini karena ia mendapatkan dukungan ketika ia kembali ke “habitat lama”nya.
Krisis memanusiakan manusia ternyata memiliki dampak yang cukup mengerikan bagi umat. Lebih ngerinya lagi, kita sering tidak sadar bahwa kita juga memiliki andil didalamnya. Sudah saatnya kita kembali mengasah “kemampuan memanusiakan manusia” kita lagi demi kehidupan yang lebih berkualitas dan tentu saja demi perdamaian dan keamanan.

Daftar Pustaka:
Gerungan, W. A.. (2010). Psikologi Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.

Rahardanto, Michael S.. Mengkaji sejumlah kemungkinan penyebab tindak terorisme: kajian sosio-klinis. (Online) (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=113820&val=5214, diakses 05/04/2017.)

0 comments:

Post a Comment