24.4.17

Artikel : Empati Pada Perilaku Merokok



                                            Empati Pada Perilaku Merokok

Meissy Bella Sari
163104101143
Psikologi Sosial

 
Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Saat ini banyak penyakit yang diderita tidak disebabkan oleh kuman atau bakteri, tetapi lebih disebabkan oleh kebiasaan atau pola hidup tidak sehat. Jantung koroner, kanker, stroke, kanker kulit, diabetes, gigi keropos dan tekanan darah tinggi merupakan contoh dari penyakit-penyakit tersebut. Hardinge, dkk. (2001) mengemukakan bahwa merokok adalah salah satu kebiasaan atau pola hidup yang tidak sehat itu. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa perilaku merokok tidak hanya menyebabkan berbagai macam penyakit tetapi juga dapat memperberat sejumlah penyakit lainnya.
Perilaku merokok adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan pipa atau rokok. Perilaku merokok ini diukur melalui aktivitas subjek berdasarkan pada pengakuan mereka mengenai volume atau frekuensi, tempat, waktu, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari. Tempat Umum adalah sarana yang di selenggarakan oleh pemerintah, swasta, atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi mayarakat.
White & Watt (1981) mengungkapkan bahwa seorang perokok yang menghisap 1- 9 batang rokok perhari akan mengalami pemendekan umur sekitar 5,5 tahun. Resiko tersebut sesungguhnya tidak hanya mengenai perokok (aktif) saja tetapi juga orang-orang di sekitar perokok, yaitu orang yang tidak merokok tetapi harus menghirup asap rokok atau orang yang
berada di sekitar perokok atau untuk selanjutnya dikatakan dengan perokok pasif. Perokok pasif secara tidak langsung telah memasukkan zat-zat yang berbahaya ke dalam tubuh bersamaan dengan asap rokok yang tanpa sengaja terhisap.
            Kondisi ini lebih membahayakan karena tubuh perokok pasif tidak terbiasa dengan asap
yang terhisap ke dalam tubuh mereka (Sarafino, 1990). Beberapa penelitian melaporkan bahwa sekitar 20% - 30% kejadian terkena resiko penyakit kanker paru-paru, dialami oleh perokok pasif
(Aditama, 1997). Interaksi antara perokok aktif dengan perokok pasif ini biasanya terjadi di tempat-tempat umum, seperti misalnya stasiun kereta api, terminal, di dalam bus kota, dll.
Komalasari (2000) dalam penelitiannya juga mengungkapkan bahwa ada hubungan antara kepuasan psikologis dengan perilaku merokok yang sangat signifikan. Hal ini berarti semakin tinggi kepuasan psikologis yang dirasakan akan semakin tinggi perilaku merokok yang ditunjukkan.
Ada hubungan negatif antara empati dengan perilaku merokok di tempat umum, khususnya pada remaja madya dan remaja akhir yang merokok di tempat umum. Semakin tinggi empati maka perilaku merokok ditempat umum semakin berkurang begitu pula sebaliknya, semakin rendah empati maka perilaku merokok di tempat umum semakin meningkat.

Daftar Pustaka
Sari, Ramdhan & Eliza (2003). Empati Dan Perilaku Merokok Di Tempat Umum, Jurnal Psikologi, No 2, 81-90

Goleman, D. 2000. Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi. Cetakan ke-1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

0 comments:

Post a Comment