24.4.17

Artikel : Menumbuhkan Kepercayaan Diri Remaja Penganggur Dengan Kelompok Dukungan Sosial



               Menumbuhkan Kepercayaan Diri Remaja Penganggur Dengan  Kelompok Dukungan Sosial
Meissy Bella Sari
163104101143
Psikologi Sosial

 
Lebih dari 20 juta angkatan kerja Indonesia diperkirakan bakal menganggur pada tahun 2020. Ini berarti meningkat hampir 400 persen atau empat kali lipat dibandingkan tahun 1990 dan meliputi delapan persen dari total angkatan kerja yang ada (Kompas, 15 Agustus 1996). Berdasarkan survei Angkatan Kerja Nasional tahun 1994, prosentase pemuda (usia 15 – 25 tahun) yang menganggur relatif tinggi dibanding rentang usia lainnya yaitu 15,4% atau 2.994.823 orang. Keadaan menganggur para pemuda atau remaja ini akan menimbulkan stres dengan derajat yang cukup tinggi (Taylor dan Gurney, dalam Shinta, 1995)
Hambatan perkembangan psikososial pada remaja penganggur merupakan kondisi yang tidak kondusif bagi kepercayaan diri remaja. Hal ini karena keadaan menganggur dapat menimbulkan penilaian diri yang negatif pada diri remaja. Selanjutnya kondisi ini merupakan
penyebab timbulnya kepercayaan diri yang rendah (Walgito, 1993). Bake (dalam Feather, 1990) juga mengemukakan bahwa kondisi penganggur menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa kurang percaya diri. Secara luas dinyatakan oleh Mallinchrodt Fretz (1988) bahwa keadaan
menganggur merupakan timbulnya problem psikologik pada semua kelompok usia.
Menurut Sarafino (1990) dalam kondisi menganggur remaja sangat membutuhkan dukungan sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Mallinchrodt dan Fretz (1988) bahwa sejumlah peneliti telah menunjukkan hubungan yang erat antara dukungan sosial dan kemudahan dalam penyesuaian individu dalam menghadapi kesulitan hidup, termasuk kesulitan pada saat menganggur. Dukungan sosial berhubungan secara signifikan dengan makin rendahnya derajat simptom stres pada sampel orang-orang yang menganggur (Gore dalam Mallinchrodt dan Fretz, 1988).
Bagi remaja penganggur dukungan sosial yang dirasakan cukup berarti yaitu dukungan sosial dari teman sebaya (Laporan Pengabdian Masyarakat, 1996). Masalah kurangnya kepercayaan diri banyak dialami khususnya oleh para remaja (Afiatin, dkk, 1994). Selanjutnya dijelaskan bahwa kurangnya rasa percaya diri pada remaja disebabkan oleh faktor-faktor psikologik dan sosiologik.
Faktor psikologi berkaitan dengan masa perkembangan remaja yang sedang mengalami banyak perubahan, baik secara fisik, psikis, dan sosial. Masa ini disebut sebagai masa krisis identitas sehingga remaja merasa ragu-ragu dan canggung terhadap peran yang disandangnya. Keadaan ini diperberat oleh adanya pandangan orang tua atau orang dewasa lain bahwa remaja belum mampu mengatasi masalahnya sendiri, sehingga hal ini akan memperlemah rasa percaya diri.
 Kelompok dukungan sosial efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri bagi remaja penganggur sehingga mereka menjadi lebih merasa mampu untuk berusaha. Efektivitas kelompok masih bertahan sampai satu bulan setelah pembentukan kelompok.

Daftar Pustaka
Afiatin, Tina & Andayani Budi (1998). Peningkatan Kepercayaan Diri Remaja Penganggur  Melalui Kelompok Dukungan Sosial. Jurnal Psikologi, No 2, 35-46.

Shinta, E.(1995). Perilaku Coping dan Dukungan Sosial pada Pemuda Penganggur. Jurnal Psikologi Indonesia, No. 1, 34-42.

0 comments:

Post a Comment