30.3.17

ARTIKEL: KONSEP DASAR PSIKOLOGI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

ARTIKEL: KONSEP DASAR PSIKOLOGI SOSIAL DALAM
KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

NAMA: IRWANTO
 NIM. 16.310.410.1125)
MATA KULIAH: PSIKOLOGI SOSIAL 1

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, objek pembahasan psikologi sosial adalah terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yanbg tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain Myers, 1999: 38). Kelebihan inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menakklukkan makhluk yang lebih kuat dan menciptakan segala sesuatu yang dapat menyempurnakan dirinya (Baron & Byrne, 1994: 45). Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam setiap masalah atau kasus yang terjadi di masyarakat pada umumnya disebabkan adanya ketidakseimbangan perhatian atau pembinaan terhadap kedua aspek yang ada di dalam diri manusia, yakni aspek jasmani (raga) dan aspek rohani (jiwa) (John, 1991: 23). Keseimbangan kedua aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap setiap perilaku individu ketika menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Teori Psikoanalisa, tokoh dan teori ini adalah Freud. Alasan teori ini dipakai untuk menelaah tingkah laku sosial adalah adanya pendapat dan Freud bahwa terdapat pertentangan yang mendasar antara pemuasan keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan individual dengan kesiapan masyarakat dalam memenuhi semua kebutuhan tersebut (Sarlito, 1999). Menurut teori ini pula perkembangan individu menuju kedewasaan adalah melalui serangkaian tahapan yaitu tahap oral, anal, phallic dan genital.
Terkait hal di atas dapat dicontohkan dalam kasus sebagai berikut: seorang remaja yang berusia 8 tahun yang sedang duduk di bangku SMA memiliki sifat introvert. Lingkungan yang keras dan minimnya pengetahuan tentang keagamaan telah membesarkannya menjadi orang yang mudah terpengaruh pada situasi dan kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain dari lingkungan sekitarnya, kasus yang terjadi pada anak ini juga dilatarbelakangi oleh keadaan keluarganya yang broken home sehingga mengakibatkan pengaruh-pengaruh yang buruk dari lingkunagn keluarga juga dengan mudah memasuki kehidupannya. Hampir tiap malam anak ini bergaul dengan teman di lingkungannya yang sering berjudi dan mabuk-mabukan sehingga proses pendidikannya terganggu (Sears, Freedman & Peplau, 1991).
Terkait dengan kasus kenakalan remaja di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh lingkungan yang buruk dan kurangnya perhatian orang tua (broken home) sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan dan kerohanian pada diri anak. Dalam hal ini yang paling utama adalah penanaman jiwa keagamaan anak sejak dini. Jadi, peranan keagamaan pada diri anak sangat penting dalam kehidupannya, karena dengan pendidikan agama diharapkan dapat menyaring segala sesuatu yang bersifat negatif dalam kehidupan bermasyarakat.
Studi pada kasus di atas memberikan ilustrasi bahwa betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku individu dalam kelompok sosial. Psikologi Sosial dalam hal ini membantu memberikan pemecahan persoalannya dengan upaya pendidikan keagamaan (Sarwono, 1999). Perangsang sosial yang berupa pendidikan keagamaan dan lingkungan sosial yang penuh dengan kekeluargaan diharapkan mampu merubah perilaku individu menjadi lebih baik, sehingga secara bertahap persoalan mendasar dari pengaruh buruk lingkungan akan terkikis dan tergantikan dengan pengaruh yang baik dari pendidikan keagamaan.
Kesimpulan: Banyak ilmuwan, psikolog sosial seperti menggunakan metode empiris untuk melakukan penelitian di bidang mereka. Metode ini sering melibatkan eksperimen yang dapat membawa isu-isu etis yang kompleks. Salah satu percobaan paling terkenal psikologi sosial adalah Stanford Penjara Percobaan, yang akhirnya ditutup karena keluar kendali. Psikolog Sosial mengandalkan upaya komite etika dan panel review untuk memastikan bahwa pekerjaan mereka secara etis diijinkan, dengan harapan menghindari pengulangan percobaan dipertanyakan.

Daftar Pustaka
Baron, R. A. & Byrne, D. 1994. Social Psychology: Understanding Human Interaction (7nd ed.). Boston: Allyn Bacon, Inc.
John C. B. 1991. Social Psychology 2nd ed. USA: Harper Collins Publishers.
Myers, D. G. 1999. Social Psychology 6th edition. Boston: McGraw-Hill College.
Sarlito W. S. 1999. Psikologi Sosial. Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Sarwono, S, W. 1999. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Sears, D. O, Freedman J. L., & Peplau, L. A. 1991. Psikologi Sosial (Terjemahan). Edisi Bahasa Indonesia. Edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.





0 comments:

Post a Comment