30.3.17

ARTIKEL: PERANAN SEKOLAH TERHADAP PERKEMBANGAN INDIVIDU

ARTIKEL:  PERANAN SEKOLAH TERHADAP PERKEMBANGAN INDIVIDU

Nama: Irwanto
NIM. 16.310.410.1125
Mata Kuliah: Psikologi Sosial 1

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Mengenai peranan sekolah terhadap perkembangan sosial anak ini kurang mendapat penelitian yang tegas. Sebab interaksi sosial yang berlaku di sekolah biasanya tidak sedemikian mendalam dan kontinu seperti yang terjadi dalam rumah tangga. Di samping itu pemimpin kelompok di sekolah biasanya sering berganti-ganti. Selain itu penelitian mengenai peranan sekolah dalam per­kembangan sosial anak-anak lebih sulit diadakan secara terperinci seperti yang dapat diadakan pada keluarga. Jelaslah kiranya bahwa pengaruh sekolah terhadap perkem­bangan sosial anak-anak tentulah ada, dan peranannya cukup besar pula.

Anak-anak itu telah bersekolah di situ selama 4 sampai 8 bulan, dan sebelumnya mereka masuk telah diadakan testing de­ngan sebuah test intelligensi. Nyata bahwa 71% dari jumlah tersebut mengalami kemajuan pada tes intelligensi sesudah mereka bersekolah 4-8 bulan itu, tetapi pada 16% dari anak-anak taraf intelligensinya malah berkurang. Walaupun demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa umumnya anak-anak itu mengalami kemajuan, dan nyata pula dalam eksperimen bahwa makin lama mereka bersekolah di situ makin besar kemajuannya. Serentak dengan itu Wellman telah mengadakan testing pula kepada sejumlah anak-anak yang sama umurnya dan yang tidak mengikuti sekolah kanak-kanak itu dengan hasilnya bahwa mereka pada umumnya selama waktu 4-8 bulan itu tidak maju dalam in­telligensinya seperti yang dinilai oleh test. Menurut peneliti, kemajuan dalam intelligensi yang disebabkan karena pendidikan di taman kanak-kanak itu, disebabkan karena telah mendapat perangsang-perangsangnya dari situasi sosial di sekolah tersebut sehingga mereka mendapat dorongannya untuk memperkembangkan intelligensinya.
Suatu penelitian yang diadakan mengenai pengaruh daripada sekolah yang sebenarnya ialah penelitian dari Husen 1951, yang mendapatkan pada calon-calon tentara di Swaden, bahwa intelli­gence Quotient mereka itu mempunyai tarafnya yang sejajar de­ngan jumlah tahun didikan sekolah yartg mereka alami, dalam ani bahwa makin lama mereka bersekolah makin tinggi IQ nya. la mendapatkan suatu koefisiensi korelasi antara jumlah tahun sekolah yang mereka alami dan tinggi IQ  sebanyak r = 0.80, suatu angka korelasi yang cukup tinggi. Hasil ini diperkuat pula oleh hasil seorang penyelidik di Amerika Serikat yang mengadakan penyelidikan yang sama, Lorge 1945.
Akibat dari pendidikan di sekolah seperti yang dibuktikan dengan beberapa eksperimen tersebut, hendaknya kita mengerti bukan seolah-olah sekolah itu hanyalah merupakan lapangan tempat orang mempertajam inteleknya saja, melainkan peranan sekolah itu jauh lebih luas di dalamnya berlangsunglah beberapa bentuk-bentuk dasar daripada kelangsungan "pendidikan" pada umumnya ialah, pembentukan sikap-sikap dan kebiasaan yang wajar, perangsang daripada potensi-potensi anak, perkembangan daripada kecakapan-kecakapannya pada umumnya, belajar kerja sama de­ngan kawan sekelompok, melaksanakan tuntutan-tuntutan dan contoh-contoh yang baik, belajar menahan diri demi kepentingan orang lain, memperoleh pengajaran, menghadapi saringan, yang semuanya antara lain mempunyai akibat pencerdasan otak anak-anak seperti yang dibuktikan dengan tes-tes intelligensi.
Jackson meneliti peranan manakah yang lebih besar terhadap kemajuan anak-anak di sekolah, ialah peranan dari struktur dan organisasi sekolah ataukah peranan dari guru. la memperoleh hasil bahwa peranan guru itulah yang memegang peranan yang terpenting, dalam arti bahwa perhatian guru pribadi terhadap siswa-siswanya lebih memajukan perkembangan anak daripada organisasi-organisasi sekolah di mana seorang guru lebih sering meng­hadapi anak-anak dari kelas itu. Pada pihak lainnya Hetzer 1955, memperoleh hasil bahwa peranan daripada besarnya kelas dan rnetode guru itulah yang menjamin kemajuan perkembangan jiwa anak. Ialah makin kecil kelasnya, makin maju siswa-siswa yang duduk di dalamnya, lagi pula metode yang mengajak siswa itu bekerja (metode kerja) merupakan metode yang paling unggul. Tegasnya bahwa makin kurang kesempatan anak untuk ber­libur di rumah, makin besar pula kemungkinannya bahwa ia mengalami kekurangan dalam perkembangan sosialnya.

KESIMPULAN
Latar belakang sosial yang rupa-rupanya mempunyai pengaruh yang nyata terhadap perkembangan tingkah laku pada anak-anak, ialah sebagai berikut:
1.      Anak lebih banyak berasal dari keluarga rumah tangga yang tidak utuh lagi struktur dan interaksinya. Ketidakutuhan keluarga itu dapat disebabkan oleh: bercerainya orang tua, ayah atau ibu kedua-duanya telah meninggal, tidak seringnya di rumah ayah ibunya, seringnya orang tua bercekcok.
2.      Anak kurang mengalami perhatian akan perkem­bangan norma-norma dan disiplin, di rumah tangganya. Seperti misalnya: Kelalaian dalam memelihara norma-norma tingkah laku yang wajat antara anak dan orang tua, tak pernah mengalami hukuman kurang. setuju diambilnya tindakan-tindakan terhadap pelanggaran sosial.
3.      Anak kurang mempunyai kesempatan hiburan di rumah tangga sendiri sehingga ia mencarinya di luar.
4.      Anak lebih terbelakang pendidikan di sekolahnya, dan baru masuk sekolah pada usia yang lebih lanjut, dibandingkan dengan anak-anak normal yang seumur.

REFERENSI

Ahmadi, A. (1991). Psikologi Sosial. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

0 comments:

Post a Comment