10.1.17

Resensi Artikel : Yohannes Surya, dari Fisika Menuju "Superpower" Dunia

Manik Muthmain 
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Menjadi pelatih fisika

Syahdan, College of William and Marry, Virginia, Amerika Serikat, berkesempatan menjadi tuan rumah ajang Olimpiade Fisika tingkat dunia pada tahun 1993. Terpilihnya College of William and Mary sebagai tuan rumah mengalahkan Massachussetts Institute of Technology, yang kala itu juga menyatakan kesediannya menjadi tuan rumah.


Gembar-gembor penyelenggaraan Olimpiade Fisika untuk kali ke-24 ini merebak ke sejumlah mahasiswa di Amerika Serikat. Tak terkecuali, informasi itu hinggap ke Yohannes Surya, yang kala itu sedang menimba ilmu tingkat doktoral di Physics Department, College of William and Mary. Dari informasi itu, terbayang oleh Yohannes untuk membawa siswa-siswa Indonesia mengikuti ajang tersebut.

Sejumlah rencana lalu disusun oleh Yohannes. Dia menghubungi Universitas Indonesia, tempat kuliahnya dulu, minta disiapkan sejumlah siswa sekolah menengah atas. Setelah diseleksi, akhirnya terpilih lima siswa terbaik. Sayang, Yohannes tak memiliki banyak waktu untuk melatih mereka. Karena waktu yang mepet dengan gelaran Olimpiade, praktis hanya dua bulan dia memberikan pelatihan.
Meski demikian, Yohannes boleh berbangga. Sebab, keikutsertaan Indonesia untuk kali pertama ini langsung menorehkan gelar medali meski hanya perunggu. Dalam ajang itu, Indonesia menempati peringkat ke-16 dari 42 negara peserta. Berbekal pencapaian awal yang cukup membanggakan itulah, Yohannes mantap memilih jalan hidupnya mengabdi kepada bangsa melalui pendidikan. Selepas lulus program doktoral pada 1994, dia sempat bekerja selama enam bulan di Pusat Fisika Nuklir Amerika Serikat. Namun, akhirnya dia memutuskan pulang ke Indonesia. Kesempatan berkarier di Negeri Paman Sam itu dia tinggalkan.


Metode pembelajaran
Melatih anak-anak agar mencintai fisika sungguh tidak mudah bagi Yohannes. Banyak kendala kerap dia jumpai. Menurut dia, kendala yang sering kali muncul adalah persoalan motivasi. Pasalnya, mengikuti Olimpiade Fisika butuh perjuangan besar. Latihan dari pagi hingga malam menjelang dini hari rutin dilakukan hampir setiap hari. Bila latihan seperti itu tidak didasari motivasi tinggi, mustahil rasanya bisa menjuarai Olimpiade Fisika tingkat dunia.

Karena itu, untuk memotivasi agar anak menikmati dan tidak merasa bosan belajar fisika, Yohannes menciptakan metode pembelajaran yang mudah dimengerti. Metode pembelajaran ciptaannya itu dia namakan Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan). Baginya, kegiatan Yohannes mengatakan, selama ini, banyak siswa mempelajari fisika menggunakan rumus. Cara ini, meski jadi anjuran, tak mudah bagi siswa mempelajarinya, lebih-lebih bagi anak yang masih tertinggal. Besar kemungkinan, mereka merasa bosan, lantas meninggalkan pelajaran yang terkenal sulit itu.
Pencapaian sejauh ini

Sejak kali pertama mengikuti Olimpiade Fisika Internasional pada 1993, Indonesia lantas tak pernah absen dalam ajang bergengsi itu. Setiap tahunnya, Indonesia kerap langganan meraih medali. Meski belum bisa meraih medali emas, setidaknya ada peningkatan dengan raihan tambahan medali perak.

Setelah mondar-mandir hanya meraih perak dan perunggu selama tujuh tahun sejak keikutsertaannya, pada tahun 1999, akhirnya Indonesia mampu mendulang medali emas. Medali emas untuk kali pertama ini disumbangkan oleh anak didik Yohannes asal Bali, yakni Made Agus Wirawan.

Sejak meraih emas pertama itu, Yohannes semakin yakin akan kemampuan anak-anak Indonesia. Maka dari itu, tujuh tahun berikutnya, dia menargetkan pencapaian lebih tinggi lagi. Tak tanggung-tanggung, kali ini ia menginginkan prestasi juara dunia.Karena target ambisiusnya inilah, Yohannes bergerilya menyambangi 250 kabupaten di Indonesia, dari Papua, Ambon, Kupang, Flores, Belitung Timur, Palembang, Kalimantan, hingga Sulawesi. Dia mencari anak-anak Indonesia berbakat yang akan dia latih untuk meraih target impiannya itu.

Cita-cita ke depan
Meski telah sukses menjadikan Indonesia juara dunia dalam ajang Olimpiade Fisika, bagi Yohannes, itu belum cukup. Dia memiliki cita-cita dan impian lebih “gila” lagi. Dia ingin Indonesia mempunyai peran besar di dunia. Target pertama ia canangkan pada 2030. Pada tahun itu, Indonesia bisa berjaya di kancah global.

Untuk mencapai itu, dia kemudian menciptakan banyak guru melalui beasiswa kepada anak-anak dari berbagai pelosok negeri. Mereka dilatih menjadi guru profesional yang tak hanya bisa menguasai materi pelajaran fisika dengan baik, tetapi juga bisa mengajar dengan berbagai macam metode pengajaran.Dia berharap, guru-guru inilah yang nantinya, ketika pulang ke kampung halaman masing-masing, bisa menjadi garda terdepan memberikan pendidikan kepada generasi penerus di pelosok-pelosok Nusantara.

Selanjutnya, target kedua yang dicanangkannya pada 2045 adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara superpower dunia. Pencapaian tersebut dia targetkan karena berkaca pada kekuatan China saat ini. Yohannes mengatakan, China bisa bangkit menguasai ekonomi dunia hanya dalam 20 tahun.Jika target Yohannes menjadikan Indonesia negara superpower pada 2045, maka Indonesia masih punya waktu sekitar 29 tahun untuk berbenah agar dapat melampaui Negeri Tirai Bambu. Hal ini juga merupakan kado momentum 100 tahun Indonesia setelah merdeka. (Tito Dirhantoro)

Sumber         : Kompas | Senin,  9 Januari 2017
 

0 comments:

Post a Comment