10.1.17

Pahit Itu Menyimpan Pesan Berharga

Pahit Itu Menyimpan Pesan Berharga

Melinda Rahail
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Nama saya Melinda Rahail, saya berasal dari Kei, Maluku Tenggara. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan, kami terpaut empat tahun. Namun,  umur saya yang lebih tua tidak menjadi pengukur berati bagi saya untuk bersikap lebih dewasa dari adik saya. Karena, kadang kami bertengkar oleh kesalahpahaman yang tidak berati atau sepele


Sejak duduk di bangku SMP, saya tidak pernah bergabung dalam organisasi sekolah. Sebut saja OSIS (Organisasi Siwa Intra Sekolah), mungkin karena saya juga kurang hits (waktu itu). Namun, saya menikmatinya karena saya sendiri tidak terlalu senang mengikuti organisasi. Entahlah kenapa hal tersebut bisa terjadi, mungkin salah satu  penyebabnya malas.

Hingga SMA, kebiasaan saya masih sama seperti waktu duduk di bangku SMP karena saya tidak bergabung dalam organisasi apapun di sekolah dan di luar sekolah pun demikian (lingkungan tempta tinggal saya). Mungkin bisa dikategorikan terlalu nyaman berada di zona nyaman, dan tidak mau keluar dari hal tersebut.

Setelah lulus SMA, saya tidak langsung melanjutkan kuliah. Ada beberapa hal yang membuatku memutuskan untuk bertahan setahun. Itu mungkin rencana Tuhan yang terbaik buatku dan memang harus aku jalankan.

Setahun kemudian, akhirnya saya melanjutkan kuliah di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, dan memilih program studi Psikologi. Awal ke Yogya, saya cukup mudah beradaptasi karena kakak perempuan saya (sepupu) masih kuliah di Yogya. Saat itu, hubungan saya dengan teman kelas saya tidak terlalu akrab. Diantara kami masih ada jarak yang cukup luas dan kepedulian yang rendah.

Setiap saat ketika ada rapat HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa Psikologi), saya sering menghindar. Alasannya masih sama seperti dulu,
apakah itu?
Haha.. teman-teman penasaran??

Oke, alasannya malas. Selain itu, saya ingin fokus kuliah saja. Tidak mau karena organisasi fokus saya terbelah, dan pasti akan sulit membagi waktu.
Tetapi, semua berubah sejak saya dipilih sebagai ketua makrab HIMAPSI UP 45 angkatan 2014. Waktu itu saya ingin mencoba, mau mencari pengalaman baru. Pikir saya, bloon saja andai kata pengalaman masa muda tidak dinikmati dan tak ada tantangan. Akhirnya, saya menerimanya dan menjadi ketua.

Saat itu, saat terkacau dan terpuruk. Salah satu penyebabnya mungkin karena pengalaman organisasi saya minim sekali, oleh karena itu sulit beradaptasi.
Saat itu, ada banyak yang menetang keputusan saya. Ada yang protes dan bertanya kenapa, bahkan ada yang menyerang (dengan kata-kata pahit dan menyakitkan) saya. Itu membunuh sekali, tapi saya bersyukur karna masih ada teman saya yang masih mau terus mendukung dan ada untuk saya. Dan mereka adalah teman kelas saya (yang dulunya hubungan kami, pembatasnya tinggi sekali).

Pada akhirnya, makrab bisa terjadi. Walaupun banyak yang berjalan tidak sesuai planning dan dengan persiapan yang minim sekali, jangan tanya mengapa karena rapat pun jarang dilakukan sehingga pematangan rencana tidak terlalu baik.

Setelah makrab itu, saya terpuruk sekali. Beberapa kali saya bolos kuliah karena tertekan. Waktu itu semester tiga, dan itu semester terkacau bagi saya. Namun, ketika semester empat saya sudah mulai bisa menata keseharian saya. Saya mulai bangkit lagi, namun jangan berpikir jika saya sudah bisa menerima kekacauan saat makrab kemarin. Saya masih belum melupakan sepenuhnya, tapi tidak berarti saya mengingatnya setiap saat. Namun, sebulan sebelum tepat setahun kejadian makrab tahun lalu, saya mengikuti kegiatan gereja. Awalnya pengen coba-coba, pengen cari teman baru, pengalaman baru dan mungkin pacar baru (hehe,, yang terkhir abaikan).

Namun, setelah itu saya sudah mulai membuka diri untuk organisasi, saya semakin mencintai organisasi. Saya malah sekarang aktif  di HIMAPSI UP 45 Yogyakarta (saya dipilih menjadi seksi kerohanian Kristen), OMK (Orang Muda Katolik) di Babarasari dan sekarang saya bersama teman-teman sedang berusaha membentuk oraganisasi Kristiani di UP 45.

Mengenai bahagia atau tidak, jujur saya bahagia sekali. Mungkin saya belum 100% melangkah keluar dari zona nyaman karena organisasi yang saya ikuti bukan yang baru sekali untuk saya. Namun, saya merasa itu langkah awal untuk keluar  dari zona nyaman. Dan apa teman-teman tau? Saya bisa menerima pengalaman menyakitkan itu setelah setahun, yah itu kenyataannya. Pahit, kacau, sedih, semuanya bergabung menjadi satu. Namun, ketika “PENERIMAAN” itu ada maka “KENYAMANAN” itu datang. Percayalah, itu kenyataanya.

Saya harus akui, jika dengan mengikuti oraganisasi saya menjadi lebih percaya diri, lebih mengenali diri sendiri, bisa belajar membagi waktu, bisa dapat teman lebih banyak, pengalaman terkocak, terbahagia, ter-ter-ter. Intinya terbaikJJJ

Pesan saya buat teman-teman yang membaca artikel ini, jangan pernah berpikir jika yang TERPURUK itu adalah langkah terakhir kita, karena itu bisa jadi awal buat kita. Ingat, keberhasilan itu diciptakan bukan diharapkan, diciptakan maksudnya diusahakan. Kalau di agamaku (Katolik Roma) ada kata-kata mutiara yang paling aku suka “ora et labora” berdoa dan bekerja, pahamilah.

Tuhan itu adil, kita tidak akan pernah ditinggalkan ketika kita hancur dan kita tidak akan ditendang ketika kita bahagia. Intinya tetap bersyukur, nikmati prosesnya dan tetap optimis sama hasilnya. 

Mungkin ini belum bisa teman-teman terapkan dalam masalah cinta, proses mendapat pacar baru, kekuatan untuk move on  dari mantan terindah, tapi terapkanlah dalam jalan untuk mencapai kesuksesan teman-teman ke depan, Karena itu lebih penting, jodoh itu sudah ada yang atur, jangan terlalu dipikirkan,
wkkwkwkw:D

0 comments:

Post a Comment