28.12.16

IBUKU MOTIVATORKU SEKALIGUS SURGA DALAM KEHIDUPANKU


Oleh:

Irwanto
NIM. 163104101125/Psikologi


  Suatu alkisah, ada suatu keluarga yang hidupnya sederhana di suatu desa, dimana keluarga tersebut hidup dari sederetan tantangan yang sulit dihadapinya, seperti sekarang ini. Di saat saya mendapatkan tugas ini yang berjudul ispirasi, di benat saya muncul angan-angan yang begitu sulit untuk saya ceritakan tetapi dari dulu saya idolakan sebagai pahlawan perjuangan dalam kehidupan pribadiku sendiri. Di mulai dari sini, saya utarakan dan termenung dalam berfikir untuk menceritakan yang sebenarnya apa yang saya alami sekarang ini. Sepuluh menit berlalu muncullah ispirasi yang begitu mendalam buat saya yaitu  ibuku motivatorku sekaligus surga dalam kehidupanku. Sebelumnya kalau di rumah saya memanggil ibuku dengan sebutan mamaku. Mama selamat hari Ibu 2016 ya mama, tiba-tiba air mata ku menetes dengan 5 titik jatuh ke pipihku. Tersadar saya menghapus dengan tangan kananku, walau saya mengucapkan selama hari ibu ke mamaku melewati HP tapi hatiku sangat sedih dan pingin memeluk sekali mamaku yang betubuh kurus. 
Masa begitu berlalu, disaat saya masih duduk di sekolah dasar saya selalu membantu ibuku dan bapakku di sawah untuk mengerjakan pekerjaan yang begitu ruting yang dia kerjakan di saat saya ke sekolah. Ibu merupakan salah satu wanita yang bekerja keras dan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bapakku juga merupakan petani yang hanya mengerjakan sawahnya orang lain dan hasilnya di bagi dua. Dari tadi saya katak bahwa kami dari keluarga yang pas-pasan dan hanya menginginkan suatu perubahan dari anak-anaknya. Kami ada tujuh saudara. Tapi ibuku ngak pernah memberikan patah semangat kepada kami sehingga kami benar-benar selalu sekolah untuk menuntut ilmu. Ibuku berpesan kepada anak-anaknya bahwa kalau ingin sukses dalam sekolah seharusnya kamu harus menjauhi 3M yaitu minum-minuman keras, main perempuan dan merokok. Dari 3M itulah merupakan pesan orang tuaku kepada kami. Beliau juga mengatakan bahwa kami hanya lulusan SD dan tidak mempunyai ilmu untuk bisa menjadi pejabat sehingga kalianlah yang harus perlihatkan kepada orang tuamu ini, nak. Tersentak saya berhenti menulis, mama kamu begitu kerja keras untuk mencarikan biaya kepada anak-anakmu ini untuk kepentingan sekolah. Pada suatu hari saya membolos karena saya dipanggil kepala sekolah untuk membayar SPP sebesar Rp. 50.000 tak sengaja saya melihat mamaku bekerja di sawanya orang di saat hujang mulai deras turung dari langit tapi orang tuaku ini ngak henti-hentinya untuk mencangkul demi mencari uang untuk anak-anaknya. Di situ lah muncul keinginanku untuk belajar keras dan mau membuktikan bahwa saya bisa merubah anak petani menjadi lebih dari itu.
Kakak-kakak saya semuanya masuk di SMP yang terfavorit dan masuk di SMA pun semuanya masuk di SMA terfavorit juga. Bahwa semuanya di terima perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Kakak pertama, kedua dan ketiga serta keempat semuanya masuk di Universitas Gadjah Mada, dengan bebas tes. Tiba saat saya mau mengikuti jejak-jejak laangkah kakak saya, tapi Allah berikan jalan yang lain kepada saya. Saya masuk di perguruan tinggi ternama nomor dua di Yogyakarta. Saya sadar bahwa saya berasal dari keluarga petani yang ngak punya penghasilan yang menetap untuk keluarga kami. Makan di rumah saja sangat sederhana, malahan mama dan papaku selalu berbohong kepada anak-anaknya kalau ia sudah makan. Pada hal mama dan papaku selalu memberikan yang terbaik kepada kami bertujuh untuk bisa berubah nasib melalui dengan pendidikan. Mama tangan dan kakimu itu bagaikan besi yang tertanam di pikiran-pikiran anakmu ini, selalu ada jalan yang mudah untuk saya lalu, doamu selalu makbul demi keberhasilan anak-anakmu ini. Ada semboyang yang meengatakan sebagai berikut:
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu. Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur. Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi? Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu. Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Mamaku selalu mengajari aku belajar walaupun mamaku tamatan SD tapi saya kagumi dan saya katakana sebagai pahlawanku dalam menerobos kebodohanku.  Pernah mamaku mengatakan bahwa kamu jangan bodoh seperti mama, kamu harus pintar supaya kamu bisa di hormati orang banyak, jangan seperti mamamu dan bapakmu ini yang tidak berpendidikan dan tidak dihargai orang nak, kamu yang rajing belajarnya ya, supaya bisa jadi orang. Biarlah kita ngak punya apa-apa tapi kalian harus sekolah setinggi-tinggihnya.
            Orang tuaku berpesan kalau kamu datang dirumah ini, pasti ngak banyak perubahan nak, karena mama dan bapak ngak punya biaya untuk memperbaiki rumah ini, kami hanya menabung untuk kamu nak, untuk pendidikan kamu. Mama dan bapak tidak berharap tapi setidaknya kamu bisa hidup yang lebih layak nak, jangan seperti mama dan bapakmu ini, hanya sebagai petani sewaan nak. Dari sini air mata ku menetes terus untuk mengingat mama dan bapakku, tak terasa mama dan bapakku selalu hadir dalam acara wisuda-wisuda anak-anaknya. Mereka menagis terharu dan ia berkata terima kasih anakku, kamu telah menyediakan pendidikan untuk mama dan bapak nak. Kata-kata bijak mamaku selalu menyentuh jantung saya di saat mama menyampaikan pesan kepada kami.
            Walaupun anak petani tapi semuanya bisa duduk di bangku kuliah universitas ternama di kota Yogyakarta, serta anak-anaknya pun selalu bebas tes masuk masuk di perguruan tinggi negeri tersebut. Allah sudah mengatur jalan kehidupan masing-masing. Pesan orang tuaku mengatakan bahwa: Saat kau berumur 19 tahun, mama membayar biaya kuliahmu dan  engantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu. Mama mohon ampun mama, mamaku mengatakan dari dulu saya memaafkanmu nak, seorang mama juga pahan nak, kamu sekarang harus banyak berbagi kepada sesama manusia nak, karena kita masih bersyukur masih di beri kesehatan. Mamaku merupakan fasilitator utamaku dan bapakku merupakan pendukungku yang sangat luar biasa, kalian berdua memang hebat ma pa, kalian orangtuaku yang luar biasa, sampai kapan pun kata-kata mutiara demi mutiara tidak akan bisa terlupakan apa lagi termakan sama waktu bahkan zaman, kalian lah yang mendidik anak-anakmu yang sangat luar biasa ini ma pa, tak akan bisa terlupakan map pa. pa kata-kata yang sering saya ungkapkan pa saya ngak mau jadi orang yang tidak berguna pak, saya akan buktikan pa bahwa saya akan bisa seperti kakak-kakak ku yang luar biasa. Mama dan papaku walaupun orang yang ngak punya tapi selalu ringan tangan dan itulah yang saya akan tiru perbuatan mereka.  Mama dan papa ku tercinta, saya akan ungkapkan inspirasiku pa ma kepada kalian: Sebuah ungkapan
Perjalanan yang panjang
Pengabdian tiada henti
Dengan tekad, ketulusan, kesungguhan, pengorbanan
dan kesabaran
Mengarungi kehidupan dengan damai
Berhadapan dengan hambatan dan tantangan
Telah ku raih….
Setetes embun damai yang menyejukan
Segenggam daun kebenaran
Mutiara kehidupan
Terungkap…. terinspirasi…… tertuang….
dan ……tersaji
Dalam sebuah catatan
Sebuah buku sederhana
Dengan penuh hormat dan metta
Ku persembahkan karya sedehana ini
Kepada orang tua tercinta
Yang telah memberi kesempatan kepada saya,
Untuk mengabdikan hidupnya yang sederhana
Dan juga kepada semua pihak yang telah mendukung
perjalanan pengabdian ini

Pernahkah kita mencoba mengingat akan masa lalu...?? Sembilan bulan kita hidup dalam kandungan sang mama…??. Mama selalu membawa kita kemanapun ia pergi…Tak pernah ia berfikir untuk menanggalkan kita walau sejenak… Lalu kita pun lahir dengan tangis pertama kita menyapa dunia ini… Mama pun selalu ikhlas merawat kita dengan penuh kasih sayang… Kadang kita telah begitu saja mengambil waktu istirahatnya dengan tangis kita di malam hari… mengganti popok kita yang basah, memberikan kita air susu ketika kita lapar… Dan kita hanya bisa menangis saja ketika itu… Kita selalu diayun, dipangku dan ditimang-timang Lalu apa balasan kita waktu itu…?? Kita sering membuat basah baju Mama dengan air kencing kita… Dan Mama tak pernah sekalipun memarahi kita… Usia kitapun beranjak perlahan… Ingatkah ketika hari pertama kita masuk sekolah…??.  Setiap pagi, Mama selalu memandikan kita,…menyuapi kita…mengantar kita dan menunggui kita.
Mama begitu sabar mengiringi hari kita di sekolah… Dan kita hanya bermain ketika itu… Lalu ketika kita beranjak remaja… Mama pun tak henti untuk menghawatirkan kita… Ketika kita sering pulang terlambat dengan berbagai alasaan… Mama hanya menatap dengan penuh cemas… Padahal mungkin kita hanya bersenang-senang di luar sana…
Ingatkah kita pada saat hari raya idul fitri… Sering Mama membelikan kita baju, sepatu, celana baru… Dengan harapan kita akan merasa senang… Ingatkah pula apa kata kita ketika itu…
“Ah…bajunya udah kuno gak mau ah” Mama ‘nggak tau selera anak muda… dan Mama hanya tersenyum saja… Saat kita mengenal cinta akan sesama… Sering kita membohongi Mama hanya untuk bercinta semata… Dan Mama pun tak pernah lepaskan kasih sayangnya untuk kita… Ketika Mama bilang…”Nak…mestinya kamu sekolah dulu yang benar…jangan dulu berpacaran… Lantas kita hanya menjawab ” Mama, saya udah gede, saya tau apa yg baik buat saya, Mama jangan terlalu mengatur saya dong!!” Mama hanya tersenyum dan menatap kita dengan penuh kasih sayang… Apakah kita ingat saat kita memasuki bangku kuliah…
Mama dengan penuh semangat memberikan biaya kuliah kita yang setinggi langit…
Lalu mungkin kita juga hanya bersenang-senang saja dengan dunia yang sedikit beranjak dewasa… Ketika kita butuh uang untuk menuntaskan hasrat cinta muda kita…
Sekali lagi kita sering membohongi Mama… dengan mengatakan….” Mama …saya butuh uang….untuk biaya praktikum……kira-kira….sekian juta..” Lalu Mama bilang….”nak…apa tidak bisa di cicil…?? Kita dengan segera menjawab…”gak bisa Mama...harus sekali bayar…" Kita tak pernah tahu apa yang ada di benak Mama ketika itu…Jika saja Mama tahu bahwa itu  anyalah alasan kita semata…..karena mungkin saja yang sebenarnya adalah kita butuh uang untuk mentraktir atau menyenangkan pacar tersayang saja… Dan ternyata mama selalu saja menyayangi dan berusaha mempercayai kita. 
Pada saat kita lulus kuliah… Kita mungkin bisa melihat betapa bangganya Mama  mendapati anaknya sudah menjadi seorang sarjana menangis penuh haru bahagia Mama ketika itu. Lalu tak lama setelah itu…tiba-taba…“ Mama….sekarang saya sudah dewasa…saya ingin menikahi si anu…karena saya mencintai dia…boleh kan Mama…?” Mungkin Mama akan bilang; ”Nak mustinya kamu mencari kerja dulu, lalu setelah sedikit mapan mungkin kamu bisa menikah”. Lalu apa jawab kita; ” Mamau! kalo ibu percaya, .saya sanggup untuk memberikan makan dia tanpa Mama kasih, saya harap Mama tidak melarang niat saya untuk menikah sekarang, saya sudah dewasa Mamau, bukan anak kecil yang segalanya harus Mama perhatikan!!!” Dan demi kasih sayangnya terhadap kita, maka bundapun sekali lagi meluluskan keinginan kita, sekaligus memberikan kita sedikit bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga kita nanti. Tak berapa lama setelah itu, kitapun merasa sanggup untuk hidup terpisah dari beliau….maka sekali lagi kita merajuk pada bunda. Pada saat Mama sudah memasuki hari tuanya, kita pun meninggalkan dia dalam hari-hari senjanya. Dan Mama tak pernah meminta kita untuk menemaninya karena Mama pikir anaknya sudah mempunyai kehidupan sendiri. Bertahun-tahun kita meninggalkan Mama dan mungkin hanya setahun sekali saja kita menengok dia, itupun pada saat Hari Raya saja. Lalu, ketika Mama sakit di hari tuanya, Mungkin Mama mengharapkan kasih sayang anaknya bisa sedikit menghibur dia. Tapi, sering kita mengabaikan harapan Mama… Kita mungkin merasa direpotkan hanya dengan mengurusi seorang wanita tua yang sudah tak berdaya itu, .maka dengan tanpa ragu lagi kita antarkan bunda pada sebuah panti jompo, kita tinggalkan Mama dengan segala harapannya terhadap kita.
Lalu pada saat Allah hendak menjemput dia, kita mungkin sedang tenggelam dalam kehidupan yang sudah menyita sebagian hati nurani kita. Hingga satu hari terdengar bunyi dering telepon yang memberikan kabar bahwa Mama telah tiada. Dan aku tak berani bilang bahwa mungkin saja hati kita sudah bebal dan telinga kita sudah tuli akan kenyataan ini. Ada sesal mungkin di sana, sesal yang tak akan terbalas dengan sejuta tetesan air mata kita.  Dan kitapun hanya meratapi kepergian bunda, ya bunda yang sudah mencetak kita dengan segenap kasih sayang bunda yang tak terperi ketulusannya, sesal yang tiada guna ketika kita tahu bunda pergi bersama setitik harapan bunda bahwa dia ingin anaknya ada ketika hembusan nafasnya yang terakhir memutuskan kehidupannya. Dan kita hanya terpekur menatap bekunya batu nisan bertahtakan nama bunda. Itupun jika masih ada secuil nurani kita yang masih berwarna putih. Kutuliskan ini, untuk mengenang bahwa Mama adalah pembawa syurga buat anaknya, mungkin ini tak semua benar, tapi tak mustahil ini terjadi dan ada di dunia ini. Mama, aku menyayangi Mama seperti aku menyayangi syurgaNYA. Maafkan anakmu ya Mama. Peluk cium anakmu selalu.


Semoga terispirasi pengalaman hidupku kepada kedua orang tuaku



           

0 comments:

Post a Comment