28.12.16

REFLEKSI KETERBATASAN

REFLEKSI KETERBATASAN

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Seperti biasa, perjalanan Klaten-Yogyakarta-Klaten mulus sesuai rencana. Tak ada yang berbeda sejauh ini, semua terlihat baik-baik saja. Sampai pada suatu malam dimana, tiba-tiba ban motorku meletus dan motor jadi oleng. Bete, bikin marah dan tentunya bikin nangis. Tapi apa mau dikata, mencari tukang tambal ban jauh lebih penting.
            Ya, sesekali dorong motor tidak apa-apa sepertinya. Mungkin aku kurang olahraga jadi terpaksa olahraga malam. Akhirnya ada juga tukang tambal ban, tapi tukang tambal bannya tidak mau menerima. Katanya sudah tutup. Sambil tengok kanan kiri, tiba tiba ada yang menghampiriku, seorang tukang ojek. Ia memberitahu ada tukang tambal ban yang masih buka sampai malam tapi lumayan jauh.
            Akhirnya aku meneruskan perjalanan, badan terasa capek, berat juga motornya. Tapi tidak apa-apa, semoga segera sampai di tempat tukang tambal ban, gumam dalam hati. Akhirnya sampai juga di tukang tambal ban. Alhamdulillah, sampai juga, lega rasanya. “Pak, badhe nambal ban, saget...” (“Pak, mau tambal ban, bisa...”), tanyaku. “Saget mbak” (“Bisa mbak”), jawab bapak tukang tambal ban.
            Sambil menunggu aku duduk di kursi pojokan, merenungi kejadian yang aku alami saat itu. Tiba-tiba bapak tukang tambal ban mengajak bicara. Ia bertanya darimana, mau kemana dan sebagainya. Mungkin Ia melihat wajahku yang terlihat bingung dan gelisah sekali.
Sambil menunggu giliran ban di tambal, aku melihat sekeliling dan sesekali lihat Ia yang sedang menambal ban motor. Tiba-tiba bapak tukang tambal ban itu berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelumnya aku tidak melihat sesuatu yang berbeda pada dirinya. Betapa terkejutnya aku karena melihat bapak itu, berjalan tidak menggunakan kakinya secara wajar. Hal itu karena musibah yang menimpanya. Saat berjalan ia harus dibantu dengan kedua tangannya.
            Seketika itu, aku berucap dalam hati betapa beruntungnya diriku bila dibandingkan dengan bapak tukang tambal ban. Melihat keterbatasan fisik yang Ia derita, tidak membuatnya pasrah dalammenjalani kehidupan. Hal ini membuat aku lebih bersyukur lagi, karena aku diberi kesempurnaan fisik. Masalah yang aku alami saat ini tidak seberapa dibandingkan dengan derita seorang bapak yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan keterbatasan fisik.
            Bapak itu tidak mengeluh dan banyak tersenyum dengan keterbatasannya. Ia mau menerima tambal ban motorku meskipun tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan dengan motor lainnya.  Ia juga tidak menolak menambal ban motorku walau hari sudah malam. Kebaikan hati yang Ia miliki tidak akan aku lupakan. Senyum yang aku lihat saat itu, membuatku terbawa emosi.
Aku terharu, air mata pun menetes tidak terbendung lagi. Segera aku usap, tiba-tiba Ia minta aku untuk beli ban dalam yang baru.Karena ban dalam yang lama sudah tidak layak pakai. Bapak itu kasihan kalau aku nanti harus dorong lagi selepas dari tempat itu.  Akhirnya aku segera beli di toko seberang jalan, toko yang ditunjukkannya.
            Setelah dapat, segera aku berikan bannya. Dengan cekatan bapak itu melepas bagian demi bagian motor dan mengganti bannya. Sesekali mengambil peralatan yang ada di dalam rumah. Semangat yang Ia miliki terlihat jelas pada saat Ia mengganti ban. Kami juga larut dalam obrolan, banyak sekali pengalaman yang Ia ceritakan.Menambah rasa kagumku padanya.Ia hidup dengan istri dan tiga anaknya. Ia membuka tambal ban dan reparasi sepeda untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.
Walaupun hari sudah menunjukkan pukul 9 malam, bapak masih menerima reparasi sepeda dan tambal ban motor.Akhirnya selesai juga motorku. Terima kasih aku ucapkan kepadanyadan segera membayar ongkos perbaikannya. Aku pun berpamitan.
Banyak hal yang sering kita lupakan, rasa syukur terhadap semua yang kita miliki sekarang. Rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya. Apabila kita diberikan cobaan atau musibah baru ingat kepadaNya. Mungkin kita masih beruntung dibandingkan dengan orang lain. Semoga kita selalu diingatkan dan tidak lupa untuk selalu bersyukur. Bersyukur dan bersyukur terlepas apapun kondisi kita.


0 comments:

Post a Comment