23.6.16

RINGKASAN ARTIKEL : “BUNGKUS KOPI JADI UANG”


Murjiwantoro
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta




Selama ini sampah rumah tangga selalu dibuang begitu saja ke tempat sampah. Bagi sebagian penduduk, bungkus kopi hanyalah sampah yang harus dibuang. Masuk ke tempat sampah lalu berakhir di tempat pembuangan sampah akhir atau terbuang di jalan atau berakhir di dalam tanah menunggu dekomposer mendaur ulang yang akan menghabiskan waktu ratusan bahkan jutaan tahun untuk terurai atau alternatif lain adalah dibakar yang menghasilkan asap dan menambah polusi udara. Tapi ternyata ada cara lain yang bisa digunakan agar bungkus kopi menjadi lebih bermanfaat. Kreatifitas bermain disini. Siapa sangka dari bungkusan kopi yang selama ini dibuang percuma dan hanya menjadi sampah belaka serta menambah polusi ternyata dapat menjadi alternatif pendapatan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Tidak hanya menciptakan kreatifitas, pemanfaatan limbah bungkus kopi ini juga dapat menjadi sumber rupiah bagi para pengrajin. Satu buah tas dapat dijual dengan harga antara 20-30 ribu rupiah per buah. Harga yang cukup lumayan untuk sebuah tas hasil olahan limbah tak terpakai. Ini membuktikan bahwa limbah yang diolah secara kreatif ternyata dapat menjadi sumber penghasian tambahan bagi para pengrajin. Terlebih lagi jika masyarakat Indonesia sudah mengerti dan menerapkan prinsip Bring Your Own Bag (bawa tas sendiri) untuk berbelanja, pastinya kerajinan tangan ini akan sangat laku dipasaran. Selain motifnya yang catik, terkadang orang tidak menyadari bahwa tas hasil anyaman para pengrajin ini terbuat dari bungkus kopi karena kretifitas para pengrajin dapat menyamarkan merek dari bungkus kopi yang digunakan sehingga konsumen tidak perlu cemas akan terlihat menggunakan tas dari bungkus bekas kopi.

Pemanfaatan Limbah Bungkus Kopi 
Jika saat ini seluruh dunia sedang menggalakkan program Go Green atau 3Rs (Reduce, Reuse, Recycle) untuk mengurangi dampak polusi dibumi, maka kerajinan tangan dengan memanfatkan limbah bungkus kopi ini bisa jadi merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu terlaksananya program ini. Karena jika untuk membuat satu tas saja membutuhkan setidaknya lebih dari dari 100 bungkus kopi, maka berapa banyak bungkus kopi yang tidak harus dibuang atau dibakar. Hal ini sangat membantu mengurangi polusi udara dan polusi tanah akibat limbah plastik yang sulit diuraikan kembali. Ini baru dari bungkus kopi saja, bayangkan jika bungkus bekas makanan ringan juga digunakan untuk kerajinan ini dan tidak hanya digunakan untuk membuat tas saja melainkan digunakan untuk membuat hal lain misalnya untuk taplak meja atau tudung saji. Hal ini sangat menggembirakan bagi para pecinta lingkungan juga bagi para pengrajin karena hasil kerjanya mendulang rupiah tapi juga sudah berpartisipasi dalam program Go Green.






Sumber Tulisan : Subiantoro S. (2011). “Bungkus Kopi Jadi Uang”. Kompas, 26 Juni 2015.

0 comments:

Post a Comment