21.4.16

Review Film Up In The Air: Apa Susahnya Memecat Karyawan ?

Achmad Rusdiyan Yazid | 153104101116
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Review Film Up In The Air: Apa Susahnya Memecat Karyawan ?
Ekspresi Natalie dan Ryan dalam menangani obyeknya
Film Up In The Air dirilis pada tahun 2009 silam, film yang masuk dalam 6 nominasi Oscar pada tahun 2010 ini berkisah tentang seseorang yang pekerjaannya berpergian ke perusahaan-perusahaan yang memerlukan jasanya untuk memecat pegawai perusahaan tersebut. Ya, dia adalah agen untuk memecat karyawan, ditokohkan sebagai Ryan Bingham. Selain sebagai algojo pecat, Ryan dalam film ini juga ditampilkan sebagai seorang motivator ‘Tas Punggung’, menawarkan gaya hidup tanpa beban, menanggalkan segala bentuk komitmen dan hubungan yang memberatkan.

Apa Susahnya Memecat Karyawan ?

Di awal film ini, kita langsung dihadapkan dengan berbagai macam pertanyaan, protes, dan juga pernyataan-pernyataan frustasi dari orang-orang yang baru saja mendapatkan kabar kalau mereka dipecat, wajah-wajah tak mengenakan yang menyiratkan ketidakpercayaan atas apa yang barusaja mereka dengar dan alami. Ditambah mereka mendengar putusan pemecata secara terhormat tidak langsung dari atasan, tidak juga dari seorang HRD, atau dari teman dekat di kantor, bahkan mereka belum pernah bertemu atau berpapasan ketika berada di kantor.

Bagaimana bisa seseorang yang belum pernah bertemu apalagi mengenal satu sama lain, tiba-tiba memanggil anda kemudian mengatakan, “Silahkan anda bisa pergi dari sini, karena sudah tidak ada tempat untuk anda disini?”. Apa kira-kira yang akan anda lakukan jika itu terjadi pada anda? Tercengang? Kecewa? Sedih? Marah?, iya begitulah yang terjadi dalam film ketika orang-orang dipecat oleh algojo pecat yang memang dibayar oleh perusahaannya.

Ryan Bingham memang tampak begitu ahli dalam hal memecat orang, dia begitu pandai dalam hal membangun situasi, cerdik dalam membawa suasana, dan cerdas dalam bernegosiasi. Hampir tidak pernah ada kekacauan ketika dia menangani obyek-obyeknya. Barangkali ini yang membuat film Up In The Air menjadi menarik untuk disimak, karena secara tersirat tergambarkan bahwa pekerjaan memecat karyawan tidaklah mudah, sehingga ketika agen-agen ini menggantikan peran HRD atau pemimpin tidaklah aneh, atau bahkan memang perlu. Sehingga kita merasa kehadiran HRD atau pemimpin perusahaan tidak perlu muncul dalam film. Karena lebih menarik melihat aksi Ryan Bingham beraksi.

Situasi mudah bagi Ryan berubah tatkala muncul tokoh bernama Natalie Keneer, yang berperan sebagai agen junior yang mencoba memberikan inovasi proses pemecatan dengan tekhnologi chat tatap muka melalui jaringan internet, sehingga ini bisa sangat menghemat biaya berpergian dan memberikan waktu yang lebih panjang bagi agen untuk bertemu dan berkumpul bersama keluarga mereka, begitulah kira-kira persentasi Natalie kepada agen-agen pemecatan termasuk Ryan.

Namun, Ryan merasa tidak nyaman dengan ide Natalie, Ryan berpendapat bahwa Natalie tidak mengerti tentang esensi dari pekerjaan ini. Ryan memang tipical orang yang hidupnya berpindah pindah, dia tidak memiliki tempat tinggal tetap, meskipun Ryan memiliki keluarga, namun dia merasa tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Jadi, latar belakang Ryan yang seperti itu juga memperkuat alas an kenapa dia tidak terlalu menyukai ide dari Natalie. Ryan Bingham juga sedang mengejar obsesinya menempuh perjalanan sejauh 10.000 mil.

Akhirnya, agar Natalie mampu memahami esensi pekerjaan seperti yang dimaksud Ryan, mereka berdua melakukan pekerjaan secara bersama-sama, dari sinilah terlihat bagaimana melakukan pekerjaan yang ‘hanya memecat karyawan’ saja tidak mudah. Meskipun awalnya Natalie hanya ditugaskan untuk melihat dan mengamati bagaimana Ryan menangani obyeknya, namun Natalie satu ketika berusaha mengambil peran Ryan dengan ilmu yang didapatkan ketika menjalani pendidikan psikologi, namun yang terjadi obyek malah semakin depresi ketika mengingat anaknya yang terkena asma dan akan semakin sulit untuk membayar pengobatannya karena telah dipecat.

Saat itulah Ryan terlihat lebih handal dan berpengalaman daripada Natalie, Ryan mampu meredam perasaan depresi yang dialami oleh obyek dan akhirnya mau menerima keadaan. “Saya bukanlah psikiater, saya hanya mengingatkan anda tuan.” Begitulah kira-kira kalimat Ryan ketika obyek bertanya “Bukankah anda seharusnya menghibutku?”. Terkadang orang-orang lebih menyukai berbicara dengan seseorang sebagai teman, bukan sebagai ahli yang mengungkapkan fakta-fakta.

Menurut Ryan, pekerjaan yang dilakukan bukan sekedar membuat orang pergi dari kantor mereka, menemukan hidup baru, menguatkan mental mereka tanpa melibatkan hukum, tapi tentang bagaimana menenangkan situasi, mengangkut jiwa-jiwa yang terluka melewati sungai ketakutan, sampai pada tempat dimana harapan samar-samar terlihat.

Meskipun pada akhirnya Natalie berhasil menjadi agen yang handal dan menjalankan idenya, namun dia keluar dari perusahaan karena salah seorang yang dulu pernah dipecatnya ada yang bunuh diri lompat dari jembatan.  

Pelajaran dari Sang Algojo Pecat

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari film Up In The Air, buat anda yang ingin menjadi atau sudah menjadi HRD dan tidak ingin pekerjaanmu diambil alih oleh agen-agen yang gemar memecat karyawan ini, sebaiknya anda belajar dari Ryan Bingham.

Belajarlah Menjaga Penampilan

Ini penting, karena dengan penampilan yang rapi dan elegan membuat anda semakin percaya diri, tentu saja lebih berwibawa, lengkapi penampilan anda dengan senyum yang menawan.

Bersikap Tenang dan Gesit

Jangan sampai sikap tidak tenang merusak situasi pembicaraan anda dengan obyek anda, selain itu anda juga harus gesit, jangan terlalu lama karena semakin lama menangani satu obyek semakin banyak pula stamina yang diperlukan.

Tonton Up In The Air

Buat anda yang belum nonton film ini, segeralah menonton, karena didalamnya banyak sekali kiat-kita jitu menjadi algojo pecat yang handal. Termasuk salah satunya tidak boleh meminta maaf kepada obyek. 

0 comments:

Post a Comment