19.3.16

RINGKASAN ARTIKEL : INDUSTRI PENERBANGAN KESULITAN LAHAN

Industri Penerbangan Kesulitan Lahan

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Dalam perkembangannya, industri penerbangan di Indonesia mengalami banyak kendala. Salah satu kendalanya adalah kendala lahan. Hal ini ditunjukkan ketika industri penerbangan sudah mendapatkan lahan, maka konsesi yang diberikan hanya 25 tahun dan  hanya dapat diperpanjang 5 (lima) tahun berikutnya. Kurun waktu tersebut relatif sangat pendek, mengingat investasi yang ditanamkan sangat besar. Pengembangan pusat perawatan pesawat BAT hingga tahun 2022 membutuhkan investasi 7 triliun. Investasi tersebut diluar pengadaan tanah (Edward Sirait/Presiden Direktur Lion Group).
Menurut Edward, di Negara tetangga konsesi tanah (lahan) dapat dilakukan hingga 90 tahun. Untuk investasi tanah hanya diperlukan 1 persen, yang mahal adalah peralatan yang berteknologi tinggi. Apabila konsesi yang diberikan untuk industri penerbangan lebih lama, maka pengusaha akan lebih leluasa dalam berinvestasi dan membangun pusat perawatan pesawat. Keuntungan yang diperoleh dalam pendirian pusat perawatan pesawat adalah pertama, dapat membuka lapangan pekerjaan yang cukup besar yaitu sekitar 1.005 orang dan akan mengalami pertambahan lagi dalam penyerapan tenaga kerja apabila pada tahap kedua dan ketiga selesai. Dan keuntungan yang kedua adalah mendatangkan devisa negara bagi Indonesia.
Menurut Randi Aryanto (Kepala Seksi Industri Maritim, Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementrian Perindustrian), pemerintah ingin pasar perawatan pesawat dikembangkan di Indonesia. Selama ini perawatan pesawat yang dilakukan di dalam negeri hanya 30 persen, sedangkan 70 persen dilakukan di luar negeri. Jadi, hal ini membuang devisa ke luar. Pengembangan pusat perawatan pesawat mempunyai potensi yang sangat besar, mengingat sangat luasnya wilayah Indonesia dan kebutuhan akan konektivitas sangat diperlukan. Disamping itu juga, pemerintah mendukung pengembangan industri komponen pesawat terbang. (ARN).

Sumber tulisan : ARN, Kompas 12 Maret 2016 


























































2 comments: