1.1.16

Nothing Cool About Being – or Looking Busy!



Jati Pramono
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



MAAF, Saya sibuk! Berapa sering Anda, saya, dan kita mengucapkan kalimat pendek yang sakti itu? Berapa kali kita menempatkan kata “sibuk” atau “busy” di status WhatsApp, Line, atau BBM (jika masih keukeuh menggunakan platform percakapan ini tentunya :p)? Apa sebenarnya yang diharapkan setiap kali menyatakan “sibuk”? Apakah memang benar-benar tidak ada waktu tersisa atau sekedar mencari alasan agar tidak harus melakukan sesuatu hal lain. Atau, apa ya?


Sebelum anda merasa tidak nyaman membaca tulisan ini, perlu dicatat kalau saya menuliskan sederet pertanyaan ini pada diri sendiri terlebih dulu.

Saya hamper selalu merasa sebagai orang paling sibuk. Walaupun, tidak punya skedul rutin setiap hari, tetap saja saya merasa… sibuk. Menariknya, setiap kali berjumpa banyak orang lain dengan berbagai profesi saya juga mendapati hal serupa – hamper semua orang tersebut (juga) merasa sebagai orang paling sibuk. Sehingga, setiap kali bertegur sapa sangat terasa semangat kompetisi sibuknya. Contohnya begini:

Saya: “Apa kabar?”
Teman: “OK-lah, tapi sibuk banget nih. Loe gimana?”
S: Sama banget. Sibuk parah. Sehari 24 jam gak cukup.”
T: “Sibuk artinya banyak rezeki… Walaupun kangen liburan juga sih.”
Busyness is a sickness. Yes, really. Nah, cara pandang melihat kesibukan sebagai trofi kesuksesan atau lambing kehebatan berubah 180 derajat setelah ngobrol dengan orang keren yang tidak ingin namanya disebut disini.

Most people are very good at looking busy. Sibuk apa hari ini? Kenapa sibuk? Apa yang membuat diri merasa sibuk? Hmmm… belum pernah ada yang menanyakan soal ini sehingga harus memikirkan jawabannya sejenak. Hari ini saya meeting dengan penerbit buku, bicara untuk mahasiswa tingkat akhir, soal social entrepreneur, dan belanja untuk masak akhir pecan. Setelah mendengar penjelasan ini beliau berujar sambil tersenyum lebar: “Wah, menyenangkan sekali harinya. Enjoy!”.

Busy culture = toxic culture. Respons itu membantu saya untuk melihat bahwa kesibukan tidak perlu jadi kebanggaan. Kesibukan juga bukan ajang untuk dikasihani. Jangan-jangan selama ini tanpa sengaja ataupun tidak – kita telah menjadi ahli untuk tampak sibuk. Lebih jauh lagi, kesibukan tidak perlu menjadi kesibukan jika dipandang dari perspektif mengisi waktu untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan berkarya – dengan makna.

Dalam konteks organisasi juga tidak jauh berbeda. Budaya organisasi yang mendorong kasibukan hanya akan berujung pada keletihan mental dan kesulitan memunculkan harmoni antara kehidupan professional dan pribadi. Produktivitas tidak sekedar ditentukan oleh panjangnya jam kerja atau lembur tanpa akhir. Produktivitas manusia modern terjadi saat setiap orang punya kesempatan berkiprah sesuai dengan kekuatan (baca: passion) mereka dalam memunculkan karya dengan asyik dan penuh makna. Go home early. Meet your family. Enjoy every moments with them. Think less – feel more.


Sumber Tulisan:

Suhardono, Rene. 2015. Nothing Cool About Being – or Looking Busy. Kompas, 28 November.



 

0 comments:

Post a Comment