1.1.16

“Move On”



Jati Pramono
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta





BANYAK orang ang suka menggunakan istilah “gagal move on” dalam berkelakar sehari-hari. Istilah ini merujuk kepada mereka yang terus terpaku pada masa lalunya dan sulit menerima perubahan baru yang dihadapi saat ini. Situasi ini bisa dialami baik oleh tua maupun muda.
Meskipun istilah ini digunakan dalam kelakar harian, bisa jadi sebenarnya situasi ini mengandung banyak kebenaran,. Selain itu mengakibatkan konsekuensi yang tidak kecil bagi yang mengalaminya. Sekarang, apakah kita termasuk orang yang mudah untuk move on? Menerima situasi baru, atasan baru, lingkungan baru, peraturan baru?


Mengapa orang sering terbelenggu dengan kebiasaan lama, seolah-olah kapasitas untuk belajar dan mempelajari situasi baru demikian alot? Seorang psikolog Carol Dweck melakukan riset selama beberapa tahun dan mengidentifikasi 2 jenis mindset yang mendasari sukses tidaknya seseorang dalam menghadapi tantangan. Yang pertama adalah fixed mindset, yaitu seseorang lebih percaya bahwa kualitas – kualitas pribadi yang mendasar, seperti kecerdasan dan bakat adalah sesuatu hal yang tidak bisa diubah. “Memang dasarnya saya tidak bisa, ya saya terima saja,”demikian biasanya si individu mengatakan pada dirinya sendiri. Biasanya individu seperti ini tidak henti-hentinya mengkaji apa kekuatannya, tetapi lupa bahwa dengan upaya keras, kelemahannya akan bisa diatasi. Dengan sendirinya, individu seperti ini tidak meyakini kekuatan upayanya.

Sementara itu, individu lain dengan growth mindset, melihat bahwa kelemahannya saat ini merupakan potensi yang masi terpendam yang masih harus digarap. Intelegensi dan bakat dianggap sebagai modal yang masih harus dikembangkan, sementara kegagalan dianggap hanya sebagai salah satu langkah salah dalam mencapai tujuan sehingga ia harus mencari cara lain untuk mencapainya. Orang seperti ini sangat haus belajar dan kuat melenting dalam kegagalan.

“Mindset”, akar perilaku
Ada beberapa keyakinan yang tumbuh menyatu di dalam benak individu yang mempengaruhi keputusannya dalam bersikap, memilih tindakan, dan kemudian berpendapat tentang diri sendiri dan dunia sekitarnya.

Keyakinan yang fixed menyaring informasi baru yang masuk, memilah-milah, dan menerima apa yang selama ini sudah dipahami. Cepatnya perkembangan teknologi dan informasi sudah tidak memungkinkan kita berdiam diri, apalagi sekedar menghadap ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita perlu meninjau kembali mindset dan mempertanyakan kembali apakah mindset yang dimiliki masih cocok dalam situasi sekarang.

Berbicara pada diri sendiri
Orang yang paling dekat dengan diri kita sebenarnya adalah diri sendiri, Ada orang yang menyadari tentang suara hatinya, ada yang tidak mau mendengar kecamuk atau pertikaian alias konflik di dalam dirinya, dan ada yang sama sekali bebal tidak mendengarkan dirinya. Kita tidak bisa memulai berbenah mindset bila tidak berusaha mendalami keyakinan-keyakinan lama.

Dalam dunia pekerjaan, keyakinan seperti kecerdasan, bakat, upaya, dinamika organisasi dan keadaan politik adalah contoh dari beberapa hal yang perlu kita tinjau kembali karena memang mempengaruhi reaksi kita. Kita perlu berani mengganti keyakinan yang sudah tidak sesuai dengan zaman lagi, dan belajar mengembangkan keyakinan baru. Keyakinan seperti “everybody sells”, “mobile office”, “bekerja 24/7”, “matrix organization”, “flat organization” perlu kita jejalkan dalam diri dalam bentuk kalimat indoktrinasi diri yang diulang-ulang sehingga akhirnya dengan sendirinya kita terpengaruh.

Menjaga “growth mindset”
Ada kalanya kita memang perlu menghindari orang-orang yang terlalu banyak mengeluh, senantiasa berpikiran negative dan pesimistis. Bukannya kita tidak mau mendengar informasi mengenai kenyataan buruk dan realistis, melainkan kita juga perlu mencari sisi positif dari setiap situasi. Kita perlu menganalisis upaya apa yang sudah dilakukan untuk menanggulangi beragam masalah, seperti kriminalitas, bencana alam, ancaman banjir, dan permainan politik yang tidak kunjung selesai, ketimbang hanya berkomentar negatif pada usaha yang belum membawa hasil yang diinginkan. Kita pun bisa mencari tokoh yang berkata baik, berpraktik baik, sebagai panutan bagaimana mereka melakukan problem solving dan menjaga staminanya. Kita sadar bahwa tidak ada satu pun orang hebat yang tidak pernah mengalami kesulitan maupun kegagalan. “Great men are not born great, they grow great,” kata Mario Puzzo.

Sumber Tulisan:
Suhardono, Rene. 2015. Move On. Kompas, 10 Oktober.


0 comments:

Post a Comment