1.1.16

"WARAS"



Jati Pramono
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



DALAM beberapa kejadian belakangan ini, kita menemui ungkapan Gus Dur mengenai murid taman kanak-kanak yang disampaikan dengan cukup ekstrem di media-media sosial. Kemunculan ungkapan itu membuat kita mempertanyakan kembali apa symbol yang dimaksud dengan murid TK ini.


Umumnya, anak usia 4-5 tahun adalah anak-anak yang masih lugu, tidak mengerti tanggung jawab, masih senang bermain, dan tidak banyak pertimbangan. Apakah orang dewasa yang disamakan dengan anak-anak ini dikarenakan mereka tidak berperilaku sesuai dengan tuntutan peran dan tanggung jawabnya?

Kita hidup di alam yang sudah sangat materialistis dan mengalami banyak gejala yang mengherankan sebagai akibat kekuasaan yang besar, baik kekuasaan dalam uang maupun hukum. Kita sering melihat betapa orang merunduk-runduk kepada orang yang bermobil mewah ataupun mengenakan tas ratusan juta. Bahkan, pembelokan keputusan pengadilan pun bisa terjadi atas nama kekuasaan. Yang hitam bisa jadi putih, yang benar bisa jadi salah, yang salah bisa tampak benar bilamana kekuasaan berbicara.

Bukankah hal-hal seperti ini yang sering membuat kita lupa akan hal-hal yang lebih hakiki, yaitu membentuk kekuatan kita sebagai pribadi yang matang, tangguh, dan bijak? Apa gunanya kaya kalau tidak memiliki komitmen. Apa gunanya berkuasa kalau kita menampilkan kelemahan emosi, bahkan berintegritas rendah. Bukankah pada dasarnya manusia memiliki keinginan spiritual membangun kualitas diri yang baik, bertanggung jawab, berpikir obyektif, dan luwes mengatur emosi?.

“Nobody’s perfect”
Kita semua terlahir dengan ketidaksempurnaan jasmani dan jiwani. Ada yang bertemperamen tinggi, ada yang lambat dalam berespons. Ada yang introvert ada yang ekstrovert. Kita bisa meyakini bahwa “saya adalah saya”, dan saya “happy” dengan kekurangan saya. Meski demikian, kita tidak boleh lupa bahwa bertumbuh menjadi dewasa selain secara fisik juga secara mental dan spiritual.

Membangun Kewarasan
Seorang teman yang tadinya berprofesi sebagai seorang dosen, memutuskan untuk menjadi pengusaha. Ia menghadapi dunia bisnis, jejaring sosial, jam kerja, dan tipe manusia yang semuanya berbeda. Sampai-sampai suatu saat teman ini merasa gamang dan bertanya, “Apa sebenarnya yang terjadi pada diri saya? Apa yang saya cari? Apa yang penting bagi saya? Dan bagaimana saya menyesuaikan dengan kondisi ini?” Konflik semacam ini bisa membuat seorang individu tegang, tetapi sebenarnya inilah bentuk alarm yang bisa membuat seseorang mawas diri dan bergerak mewaraskan dirinya lagi. Adakah patokan untuk mewaraskan diri agar kita memang menjauh dari kondisi murid “TK” itu? 

Pertama-tama, kita perlu mengkaji apa yang kita cintai, apa yang membuat kita bangga dan menjadikan diri kita tonggak kebenaran dan “model”.

Dalam menghadapi konflik dan kesulitan. Kita tetap perlu menyadari bahwa setiap orang pasti mempunyai sisi “imaturitas”-nya, disinilah respek dan toleransi kita teruji. Manusia yang waras akan menghadapi berbagai kekurangan tidak dengan mengeluh, merengek, atau bahkan mengasihani diri sendiri. “Face the music”, rather than run away, play dead or hide”. Tetapi, jangan kembali mundur menjadi anak-anak lagi, kecuali dalam hal semangat dan keingintahuan belajar. To be mature is to have knowledge and experience about the way the world works, and to have adapted accordingly.


Sumber Tulisan:
Suhardono, Rene. 2015. Waras. Kompas, 10 Oktober.


0 comments:

Post a Comment