27.12.15

Ringkasan Artikel: Rachmand & Jakob, “Move On”
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Banyak orang yang menggunakan istilah “gagal move on” dalam berkelakar sehari-hari. Istilah ini merujuk pada mereka yang terus terpaku pada masa lalunya dan sulit menerima perubahan baru yang dihadapi saat ini. Situasi tersebut bisa dialami baik oleh tua maupun muda. Meskipun istilah tersebut digunakan dalam kelakar harian, bisa jadi sebenarnya situasi ini mengandung banyak kebenaran. Selain itu mengakibatkan konsukensi yang tidak kecil bagi yang mengalaminya. Orang cenderung sering terbelenggu dengan kebiasaan lama, seolah-olah kapasitas untuk belajar dan mempelajari sesuatu yang baru begitu sulit diterima. Misalnya keadaan di mana seseorang menerima situasi baru, atasan baru, atasan baru, lingkungan baru, peraturan baru, dan lain-lain. Carol Dweck mengidentifikasi dua jenis mindset yang mendasari sukses tidaknya seseorang dalam mengahadapi tantangan, yaitu fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset adalah jika seseorang lebih percaya bahwa kualitas-kualitas pribadi yang mendasar, seperti kecerdasan dan bakat adalah sesuatu hal yang tidak bisa diubah. Biasanya individu seperti ini tidak henti-hentinya mengkaji apa kekuatannya, tetapi lupa bahwa dengan upaya keras, kelemahannya akan dapat diatasi. Growth mindset adalah jika seseorang mampu melihat bahwa kelemahannya saat ini merupakan potensi yang masih terpendam masih harus digarap. Intelegensi dan bakat dianggap sebagai modal yang masih harus dikembangkan, sementara kegagalan dianggap hanya sebagai salah satu langkah salah dalam mencapai tujuan sehingga individu tersebut harus mencari cara untuk mencapainya. Individu yang seperti ini sangat haus belajar dan kuat melenting dalam kegagalan.

Solusi agar seseorang memiliki kemampuan growth mindset agar mampu move on diantaranya yaitu:
·         Mengubah mindset
Mindset merupakan akar dari perilaku. Ada beberapa keyakinan yang tumbuh menyatu dalam benak invidu yang mempengaruhi keputusannya dalam bersikap, memilih tindakan dan kemudian berpendapat tentang diri sendiri dan dunia sekitarnya. Kumpulan keyakinan tersebut begitu dominan dan mampu menyaring semua informasi yang masuk. Dengan begitu individu mendengarkan apa yang ingin didengar, menentukan arah perilakunya dan reaksi yang cocok dengan keyakinan yang telah dimiliki. Oleh karena itu individu sebaiknya meninjau kembali mindset dan mempertanyakan kembali apakah mindset yang dimiliki ini masih cocok dalam situasi sekarang. Hal tersebut tentunya tidah mudah, tetapi dapat dilakukan dengan upaya yang sangat keras.


·         Berbicara pada diri sendiri
Orang yang paling dekat dengan individu adalh individu itu sendiri. Ada individu yang menyadari tentang suara hatinya, ada yang tidak mau mendengar kecamuk dan konflik di dalam dirinya, dan ada yang sama sekali bebal tidak mendengarkan dirinya. Dalam dunia pekerjaan, keyakinan-keyakinan seperti kecerdasan, bakat, upaya, dinamika organisasi dan keadaan politik adalah contoh hal-hal yang mampu mengubah keyakinan dan mempengaruhi reaksi individu. Seorang individu harus memberanikan diri mengganti keyakinan yang sudah tidak sesuai dengan zaman lagi dan mengembangkan keyakinan baru. Misalnya keyakinan seperti “evebody sells”, “mobile office”, “bekerja 24/7” dsb. Individu perlu menjejali pikirannya dengan dalam bentuk kalimat-kalimat indoktrinasi diri yang diulang-ulang sehingga akhirnya demgan sendirinya individu terpengaruh. Pada saat itulah mindset indiviu mulai bergerak. Dialog-dialog positif yang telah dilakukan membuat individu mengevaluasi dirinya tentang pengalaman masa lalu, mencari tahu apa yang berhasil dan tidak berhasil serta menjadikan umpan balik, bahkan sebagai sumber kekuatan untuk bangkit dari kegagalan.
·         Menjaga “growth mindset”
Ada kalanya individu memang perlu menghindari orang  yang terlalu banyak mengeluh, senantiasa berpikiran negatif dan pesimistis. Hal tersebut bukan berarti bahwa individu tidak mau mendengarkan tentang kenyataan buruk dan realistis, melainkan individu harus mampu mencari sisi positif dari setiap situasi. Individu perlu menganalisis upaya apa yang telah dilakukan untuk mencari problem solving dalam berbagai masalah. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara misalnya mebaca biografi tokoh yang penting yang memotivasi dan mampu membuka mindset individu.
Daftar Pustaka
Rachman, E., Jakob, E. (2015). Karier Experd: “Move On”. Kompas, 10 Oktober



0 comments:

Post a Comment