27.12.15

Ringkasan Artikel 7: dr Inu Wicaksana, Peran Otak dalam Proses Kecanduan
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Penelitian-penelitian di bidang adiksi dan mind sciences (neurosciences) dalam kurang lebih sepuluh tahun terakhir telah mendapatkan temuan-temuan nyata tentang peran dan mekanisme otak dalam perilaku kecanduan. Bila jiwa dan perilaku manusia dipandang sebagai ‘otak yang dioperasionalkan’, maka semua perilaku manusia termasuk perilaku adiksi (kecanduan) harus dipandang faktor di otaklah yang bertanggung jawab.
Apakah kecanduan (adiksi) itu didapat dari pengaruh lingkungan dan teman dekat, atau diturunkan (diwariskan)? Sebuah hipotesis klasik mengatakan ada ragam genetik tertentu di otak yang menyebabkan seseorang, mau tidak mau menjadi pecandu (heroin, amfetamin, nikotin, alkohol, dan lain-lain). Pada sepuluh anak yang diajari menyuntik heroin setiap hari sampai lima hari, hanya dua atau tiga yang lanjut menjadi pecandu, lainnya sama sekali tidak menjadi pecandu. Demikian halnya dengan rokok. Hanya dua atau tiga dari sepuluh anak yang menjadi perokok berat (lebih dari sepuluh batang per hari).

Dengan menggunakan peralatan medis canggih seperti MRI, CT Scan, Brain mapping dan lain-lain, penelitian-penelitian adiksi bisa menunjukkan bahwa faktor-faktor di otak yang bertanggung jawab pada terjadinya adiksi adalah senyawa neurokimiawi di celah sinaptik yang disebut dopamin. Celah sinaptik terdapat antara ujung satu sel saraf (neuron) dengan ujung sel saraf yang lain. Dopamin yang dikeluarkan ke celah sinaptik dari ujung sel saraf akan ditarik dan ditangkap reseptor-reseptor dopamin pada dinding ujung sel saraf yang lain pada celah itu.
Keluarnya dopamin yang cukup, dalam kondisi normal akan menimbulkan rasa nyaman secara fisik dan mental pada individu. Bila suatu saat pengeluaran dopamin menurun, maka sirkuit otak yang didukung neurotransmitter lain, GABA, akan bereaksi meningkatkan dan akibatnya akan tercapai respon kenikmatan lagi. Opiat seperti heroin dan kokain yang disuntikkan dalam darah akan mendorong tercapainya respon rasa nyaman atau nikmat yang tinggi. Bila kemudian efek opiat yang mendorong dopamin ini menurun, individu merasa tidak nyaman bahkan kesakitan. Maka ia harus mengkonsumsi opiat lagi. Ternyata untuk memperoleh rasa nikmat yang sama dibutuhkan zat adiktif yang makin lama semakin banyak kadarnya sehingga terjadilah toleransi zat, dan pengulangan-pengulangan terus yang disebut kecanduan (adiksi).
Salah satu solusi untuk masalah tersebut adalah penggunaan naltrekson, obat yang bisa ‘memblokir’ reseptor opiat yang menyebabkan opiat tidak bisa ditangkap tubuh untuk mendorong pelepasan dopamin. Akibatnya pecandu tidak akan bisa mendapatkan rasa nyaman dan senang bila memakai napza jenis opiat,. Hal tersebut juga membuktikan peranan otak dalam proses kecanduan. Namun demikian, peran lingkungan juga tidak bisa dikesampingkan dalam proses terjadinya adiksi. Bagaimanapun juga seorang pecandu tidak akan memperoleh napza bila tidak mendapatkan dari lingkungannya dan pengaruh dari individu di lingkungannya.
Sumber Tulisan
Kedaulatan Rakyat. (2011). Konsultassi Kesehatan Jiwa: Peran Otak dalam Proses Kecanduan. Kedaulatan Rakyat, 27 Februari

0 comments:

Post a Comment