20.12.15

Ringkasan Artikel : Selera Pasar Bukan Pembenaran

Muji Pambudi
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Komisi Penyiaran Indonesia menggelar survei periode September-Oktober 2015 untuk tayangan jenis film televisi (FTV), sinetron, dan acara puspa ragam (variety show). Dari survey tersebut hasilnya sebagian besar tayangan tersebut hanya mendapat skor 2,56 hingga 2,96,hal ini  jauh di bawah nilai standar minimal untuk acara, yaitu 4. Meski demikian, program wisata dan religi dinilai cukup baik.
Program program acara di televisi yang ada menurut Komisi Penyiaran Indonesia masih bermutu rendah sehingga masyarakat terpaksa menonton program program yang ada. Selera pasar yang belum tinggi masih dijadikan pembenaran bagi sebagian pengelola stasiun televisi untuk memproduksi tayangan yang kurang berkualitas.
 Pengamat media Idi Subandi Ibrahim mengatakan bahwa "Mayoritas pemirsa Indonesia berpendidikan SMP ke bawah. Praktis dari segi pemahaman media belum sesuai standar. Semestinya standar mereka jangan dijadikan pembenaran untuk menghasilkan tayangan yang tidak menambah wawasan," tuturnya.  Selain itu juga karena  belum adanya literasi media yang di miliki oleh pemirsa di Indonesia. Literasi media ini agar pemirsa dapat memahami dan menganalisis konteks acara secara kritis. Dan akan mengetahui selera masing-masing sehingga akan memutuskan  menonton sebuah acara televise dengan kesadaran penuh.
Secara terpisah Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia Ishadi SK menyampaikan bahwa “Baik tayangan sinetron, bincang-bincang, maupun berita tetap harus dikemas dengan cara yang menghibur, dalam artian menarik perhatian pemirsa. Kalau tidak, tidak akan ada yang mau menonton,"  sehingga televesi harus menyeimbangkan antara idealism dan selera pasar   dalam pembuatan tayangan agar tayangan tersebut ditonton oleh  pemirsa. Ishadi juga mengatakan, hendaknya penilaian jangan dipukul rata sesuai standar dari kalangan ekonomi atau pendidikan tertentu. Adapun kontrol dari pemerintah tetap berada dalam batas yang bisa dicerna penonton agar televisi swasta tidak kehilangan pemirsa.

Kompas edisi 7 Desember 2015,  "Selera Pasar Bukan Pembenaran".

0 comments:

Post a Comment