27.12.15

Ringkasan Artikel 6: dr Inu Wicaksana, Optimisme Semu

Susanti
Fakulatas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Optimisme adalah elemen kunci dalam kesehatan jiwa. Sebaliknya “berpikir negatif ” cukup merusak atau merugikan kesehatan jiwa. Karena berfikir negatif secara terus menerus adalah gejala penyakit depresi yang melihat dunia ini gelap gulita dan tak ada pengharapan lagi.
Dalam praktik kerja perkantoran, nasihat positive thingking Norman Vincent Peale menjadi mujarab bila dalam pelaksanannya telah melewati dua tahap. Pertama, membuka mata telinga, mata hati, selebar-lebarnya untuk memahami dan menilai situasi dengan kepekaan yang tajam. Kedua, segera bertindak menyusun strategi untuk mengantisipasi situasi yang telah memuncak. Baru kemudian berpikir positif bahwa “segala sesuatunya akan baik-baik saja”. Bila dua hal itu tidak dikerjakan dan orang hanya berpikir optimis terus, maka hal gersebut merupakan optimisme semu yang bisa memancing ledakan meski tidak selalu demo yang meriah dan anarkis.

Terdapat perbedaan besar antara optimisme yang sehat dan berfikir positif dengan optimisme semu. Positivisme semu menasihati kita untuk melihat sisi terang setiap saat. Orang yang berfikir “segala sesuatu akan baik-baik saja” berarti memakai srategi “pembiaran”. Ia tidak hanya mengabaikan permasalahan sebenarnya dan inti persoalan yang perlu dicari, tetapi juga menghalangi orang lain untuk mengekspresikan rasa susah, sakit, frustasi, marah, kesepian atau rasa takut. Perbedaan antara optimisme nonrealistik dengan optimisme yang rasional dapat terliaht dalam dua pernyataan berbeda berikut:
·         “Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja”. Ini adalah optimisme semu.
·         “Kita benar-benar mengalami kekacauan, semuanya menjadi berantakan. Namun jika kita menghadapinya dnegan langkah demi langkah dengan tepat, maka kemungkinan besar kita akan mampu mengatasi masalh ini dengan baik”. Ini adalah pernyataan yang merefleksikan optimisme realistik dan rasional.
Jelaslah bahwa setiap menghadapi masalah atau gejala yang bagaimanapun kecilnya, dalam keluarga maupun kantor, kita harus melihatnya seobjektif dan secermat mungkin, karena gejala itu nisa jadi merupakan refleksi dari permasalahan yang lebih besar lagi. Kemudian kita harus mengambil berpikir masak-masak untuk mengambil keputusan sebagai tindakan antisipasi, dan barulah kita berpikir optimis  dan positif.
Sumber Tulisan

Kedaulatan Rakyat. (2010). Konsultasi Kesehatan Jiwa: Optimisme Semu. Kedaulatan Rakyat, 8 Agustus

0 comments:

Post a Comment